Begini Jadinya Ketika Hizbullah Jadi ‘Penentu Waktu Tidur dan Bangun’ Warga Israel di Haifa
POROS PERLAWANAN – Media-media Israel pada Selasa 12 November mengungkapkan kekhawatiran terkait situasi kacau di wilayah utara Palestina Pendudukan di tengah kobaran api yang meluas akibat serangan roket Hizbullah. Media-media Zionis melaporkan bahwa warga di wilayah utara yang telah mengungsi sejak beberapa bulan lalu tidak berminat untuk kembali.
Stasiun televisi Channel 12 Israel dalam laporannya menyebutkan bahwa selama akhir pekan, Hizbullah menembakkan 400 roket ke wilayah utara Israel. Penduduk setempat pun enggan kembali ke rumah-rumah mereka, khawatir menjadi sasaran roket dan drone Hizbullah.
Kolonel cadangan Militer Israel dan mantan pejabat Pertahanan Udara, Ghaai Amousi menyatakan bahwa meskipun Militer Israel mengeklaim kemenangan atas Hizbullah, namun suara sirene peringatan masih terus terdengar di Tel Aviv. Seluruh wilayah berubah menjadi zona perang dan suara sirene menjadi bagian rutin kehidupan warga, yang disebutnya sangat berbahaya dan membuat kewalahan.
Ketua Komite Mahasiswa Universitas Haifa, Uriel Waknin mengungkapkan bahwa mahasiswa takut datang ke kampus-kampus karena khawatir akan serangan dan kurangnya keamanan. Jalur menuju kampus kini berbahaya bagi mahasiswa karena rentan serangan roket dari Lebanon, terlebih lagi setelah Hizbullah menyatakan Haifa sebagai salah satu target utamanya.
Dalam laporan yang dikutip dari Jerusalem Post, seorang pemukim Israel di Haifa mengatakan, “Kami tak lagi membutuhkan alarm untuk bangun tidur, karena Hizbullah yang kini menentukan waktu bangun kami. Setiap pagi, sekitar pukul 7, kami dibangunkan oleh suara sirene, dan terpaksa berlari ke bungker perlindungan dengan mengenakan pakaian tidur.”
Seorang reporter urusan Arab di Channel 12 Israel, Ohat Hamo mengatakan bahwa sulit membayangkan Hizbullah tidak meningkatkan serangannya. Situasi ini diprediksi akan semakin parah, dan jelas para pengungsi masih terlalu dini untuk kembali ke wilayah utara.
Sementara itu, surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa pemukim di utara tidak menunggu perintah dari militer Israel untuk kembali ke rumah. Mereka ingin memastikan bahwa keamanan benar-benar terjamin sebelum kembali. Bukti menunjukkan bahwa Hizbullah masih memiliki kemampuan penuh dalam persenjataan roketnya, dan bahkan setelah perang berakhir, ancaman bagi front utara akan tetap ada, sehingga sulit untuk menjamin keamanan di wilayah tersebut.
