Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

CIA dan Obat Bius: Keterkaitan Sepanjang Puluhan Tahun

CIA dan Obat Bius: Keterkaitan Sepanjang Puluhan Tahun

POROS PERLAWANAN – Belen Fernández, seorang penulis Amerika, dalam artikelnya menulis bahwa Pemerintah AS telah menjadikan “perang melawan narkoba” sebagai dalih untuk menargetkan Venezuela, padahal semua tuduhan tersebut tidak memiliki dasar dan kebenaran.

Diberitakan Fars, Reuters dalam laporan eksklusif yang mengutip dari empat sumber AS, telah mengumumkan, AS “siap untuk memulai fase baru operasi terhadap Venezuela dalam beberapa hari ke depan.” Dua dari sumber tersebut, yang berbicara dengan syarat anonimitas, menegaskan bahwa operasi rahasia ini kemungkinan merupakan langkah pertama dalam “gerakan baru” terhadap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro.

Menurut Fernández, berita ini tidak terlalu mengejutkan, karena Donald Trump telah mengumumkan lebih dari sebulan yang lalu bahwa CIA telah ditugaskan untuk melaksanakan operasi rahasia di Venezuela. Langkah ini, menurut Fernandez, tidak biasa, karena biasanya operasi yang harus dirahasiakan tidak dibicarakan secara terbuka.

“Bagaimanapun, tidak diragukan lagi bahwa AS telah melakukan mobilisasi militer yang luas di wilayah tersebut. Sekitar 15.000 tentara AS telah ditempatkan di sana dengan dalih memerangi terorisme terkait narkoba. Trump juga telah memantau operasi yang diklaim sebagai eksekusi di luar hukum di Laut Karibia sejak awal September dan berulang kali memerintahkan kapal-kapal yang diduga mengangkut narkoba untuk dibombardir,” tulisnya di al-Jazeera.

Dia juga mencatat bahwa serangan-serangan ini “selain melanggar hukum internasional dan hukum dalam negeri AS, tidak menghasilkan apa-apa selain menebar ketakutan di kalangan nelayan lokal.” Fernández menambahkan, “AS selalu menggunakan dalih perang melawan narkoba, karena hal ini memberikan alasan untuk menciptakan kekacauan di seluruh dunia, memiliterisasi wilayah-wilayah di belahan barat dunia, dan menjadikan orang miskin di AS sendiri sebagai kriminal.”

Fernández juga menyinggung sejarah keterlibatan CIA dengan obat bius dan menulis. “Keterlibatan CIA dengan obat bius setua sejarah berdirinya organisasi ini.”

Kasus-kasus Keterlibatan CIA dalam Perdagangan Obat Bius

Selama beberapa dekade terakhir, telah terungkap berbagai kasus terkait peran CIA dalam perdagangan dan penjualan obat bius, termasuk kokain.

Dalam satu kasus disebutkan bahwa pada dekade 1960-an hingga 1980-an, CIA terlibat dalam perdagangan obat bius di berbagai wilayah—dari Asia Tenggara seperti Laos dan Vietnam hingga Amerika Latin.

Sebagai contoh, selama Perang Vietnam, CIA dilaporkan telah mendukung kelompok-kelompok yang secara bersamaan melakukan operasi militer dan memproduksi atau menyelundupkan opium dan heroin.

Di Amerika Latin juga terdapat kasus serupa. Beberapa penelitian dan tulisan melaporkan bahwa CIA telah bekerja sama dengan penyelundup obat bius dalam mendukung oposisi Pemerintah Nikaragua untuk menyediakan dana yang diperlukan bagi operasi melawan Pemerintahan-pemerintahan kiri.

Pengungkapan paling terkenal dalam hal ini terkait dengan laporan investigasi jurnalis ternama AS, Gary Webb, yang diterbitkan dalam serangkaian artikel pada tahun 1998. Dia mengumumkan bahwa paket-paket kokain telah diselundupkan ke AS melalui kelompok pemberontak di Nikaragua dengan sepengetahuan CIA. Laporan-laporan ini telah diungkap berulang kali oleh para jurnalis independen di AS.

Dualisme Retorika dan Dalih Perang Palsu

Menurut Fernández, tidak mengherankan bahwa Presiden yang pernah berjanji untuk menarik AS dari perang, kini justru membawa negaranya ke dalam krisis lain.

“Seperti semua petualangan imperialis AS, alasan yang diajukan untuk menyerang Venezuela runtuh di hadapan pemeriksaan sekecil apa pun,” tandasnya.

Sebagai contoh, Pemerintahan Trump berusaha menyalahkan Maduro atas krisis fentanil di AS. Namun, Venezuela sebenarnya tidak memproduksi bahan obat bius sintetis tersebut. Jaringan NBC dan media lainnya melaporkan bahwa jaringan penyelundupan di Venezuela terutama berfokus pada ekspor kokain ke Eropa, bukan pengiriman fentanil ke AS.

Namun, Fernández mengingatkan bahwa pada 13 November, Menteri Perang AS, Pete Hegseth di media sosial X menyatakan bahwa kehadiran militer AS yang luas di pantai Venezuela ”bertujuan untuk mempertahankan negara, mencegah teroris narkoba di Belahan Barat, dan melindungi negara dari bahan-bahan yang membunuh rakyat kita.”

Fernández membandingkan pernyataan ini dengan tindakan internal Pemerintah AS dan menulis,”Pemerintah ini baru-baru ini mengancam akan menghentikan bantuan pangan dasar bagi warga AS yang paling miskin dan mengurangi anggaran program pencegahan kekerasan bersenjata; di negara di mana penembakan massal menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Jelas bahwa penembakan di sekolah dasar juga membunuh orang. Tetapi masalah ini tidak ada hubungannya dengan Venezuela.”

Peran Marco Rubio dan Mesin Perubahan Pemerintahan

Fernández menegaskan bahwa Maduro telah menjadi duri dalam daging AS selama bertahun-tahun. Karena itu, “mereka menuduhnya sebagai teroris narkoba untuk menciptakan kondisi perubahan pemerintahan.” Dia menambahkan bahwa Marco Rubio, senator AS yang berperan sebagai arsitek tindakan agresif Washington di Venezuela, telah menjadikan Maduro sebagai target utamanya.

Menurut Fernández, Rubio berusaha memperkuat basis pendukungnya di Florida, termasuk kelompok-kelompok ekstremis di kalangan komunitas Venezuela dan Kuba, melalui tindakan-tindakan tersebut. Menurut laporan Reuters, opsi yang diusulkan dalam “operasi terkait Venezuela” termasuk upaya untuk menggulingkan Maduro.

Surat kabar Washington Post juga melaporkan bahwa Gedung Putih telah mengusulkan rencana di mana pesawat militer AS akan melakukan operasi psikologis dengan cara menyiarkan pesan-pesan di atas langit Caracas untuk menekan Maduro; rencana yang menurut Fernandez mirip dengan taktik buku operasi militer Israel yang lama.

“Sementara Pemerintahan Trump secara terbuka mendorong rencananya terhadap Venezuela, jelas bahwa manuver-manuver ini di Belahan Barat tidak akan menjamin keamanan AS maupun keamanan pihak lain mana pun,” simpulnya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *