Loading

Ketik untuk mencari

Arab Saudi Asia Barat

Citizen Lab Bongkar Aksi Ilegal Saudi dan UEA Retas Ponsel Puluhan Jurnalis dengan Perangkat Spionase Israel

POROS PERLAWANAN – Dilansir Press TV, sebuah laporan mengungkap bahwa terdapat beberapa operator yang terkait dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, meretas telepon puluhan jurnalis Al Jazeera yang berbasis di Qatar menggunakan perangkat spionase Israel.

Para peneliti di Citizen Lab di Universitas Toronto mengaku menemukan bukti bahwa pada bulan Juli dan Agustus, setidaknya empat operator menggunakan perangkat spionase Pegasus dari perusahaan Israel NSO Group, untuk meretas 36 telepon pribadi jurnalis, eksekutif, pembawa berita, dan produser.

Menurut laporan tersebut, salah satu dari empat operator Pegasus, yang bertindak atas nama Pemerintah Saudi, meretas 18 telepon, sementara operator lain yang diyakini bertindak atas nama UEA, memata-matai 15 telepon.

“Teknik zero-click yang digunakan terhadap staf Al Jazeera sangat canggih, sulit untuk dideteksi, dan sebagian besar terfokus pada perangkat pribadi wartawan”, tulis laporan itu.

Kampanye peretasan ditemukan setelah jurnalis investigasi terkenal Al Jazeera, Tamer Almisshal yang sadar bahwa teleponnya telah disusupi, mengizinkan Citizen Lab untuk memantau iPhone-nya.

Para peneliti menemukan bahwa pada bulan Juli, ponselnya -tanpa sepengetahuannya- telah mengunjungi situs web yang digunakan untuk menginfeksi target dengan perangkat spionase Pegasus.

The Citizen Lab juga mengatakan bahwa ponsel pribadi Rania Dridi, presenter jaringan Al Araby Qatar yang berbasis di London, telah diretas enam kali antara Oktober 2019 dan Juli 2020.

Dridi mengatakan kepada Guardian bahwa dia terkejut dengan penemuan itu, dan mengumumkan rencananya untuk mengambil tindakan hukum terhadap UEA.

“Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan saya. Itu mengacaukan pikiran Anda. Semuanya, kehidupan pribadi Anda, sudah tidak pribadi lagi. Tidak [hanya] selama sebulan, itu selama satu tahun, dan mereka memiliki segalanya: panggilan telepon, gambar, video, mereka dapat menyalakan mikrofon,” katanya, menambahkan “Itu membuat Anda merasa tidak aman.”

Laporan kampanye peretasan terhadap jurnalis ini datang ketika Arab Saudi dan UEA, menyerukan penutupan Al Jazeera karena kekhawatiran akan liputan kritisnya setelah dimulainya krisis diplomatik dengan Qatar pada 2017.

Pada Juni 2017, Arab Saudi, Bahrain, Mesir, dan UEA memutuskan hubungan diplomatik dan perdagangan dengan Qatar dan memberlakukan embargo udara, darat, dan laut terhadap negara kaya energi itu.

Kuartet yang dipimpin Saudi menuduh Doha mendukung terorisme, memberikannya daftar tuntutan termasuk menutup Al Jazeera, dan memberinya ultimatum untuk mematuhinya atau menghadapi “konsekuensi”.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *