Dari Fosfor Putih hingga Herbisida Beracun: Agresi Lingkungan Israel di Lebanon Disorot Iran
POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, Teheran kembali melontarkan kecaman keras terhadap agresi Rezim Zionis Israel di Lebanon. Kali ini terkait penyemprotan bahan kimia beracun di lahan pertanian wilayah selatan negara itu. Pemerintah Iran menegaskan bahwa tindakan tersebut bukan sekadar pelanggaran hukum internasional, melainkan sebuah kejahatan perang yang secara langsung menargetkan lingkungan hidup, kesehatan warga sipil, dan sumber penghidupan rakyat Lebanon.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Senin 9 Februari lalu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei menyebut penggunaan herbisida dan zat kimia terlarang oleh Israel sebagai bentuk agresi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurutnya, serangan ini tidak dilakukan di medan tempur, melainkan diarahkan pada kebun, ladang, dan tanah yang menjadi sandaran hidup masyarakat sipil.
“Penggunaan senjata dan zat kimia beracun oleh Rezim Zionis terhadap lahan pertanian Lebanon merupakan kejahatan perang yang terang dan jelas. Dampaknya bukan hanya merusak lingkungan dan membahayakan kesehatan, melainkan juga menghancurkan mata pencaharian dan kehidupan sehari-hari warga,” tegas Baghaei. Ia menambahkan bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia dan kejahatan lingkungan yang disengaja.
Kecaman dari Teheran sejalan dengan pernyataan resmi Pemerintah Lebanon. Presiden Joseph Aoun dan sejumlah pejabat tinggi Beirut menyebut aksi Israel sebagai kejahatan lingkungan dan kesehatan. Laporan media internasional mengungkap bahwa herbisida yang disemprotkan di dekat perbatasan selatan Lebanon dikaitkan dengan risiko kanker dan dilarang penggunaannya di berbagai negara.
Kekhawatiran internasional juga datang dari Kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR). Juru Bicara OHCHR, Thameen al-Kheetan mengungkapkan adanya laporan-laporan mengkhawatirkan terkait penggunaan zat kimia terlarang oleh Israel di Lebanon selatan dan sebagian wilayah Suriah. Ia menegaskan perlunya investigasi yang cepat, independen, dan transparan atas dugaan kejahatan tersebut.
Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) turut mengonfirmasi bahwa zat beracun memang digunakan dalam operasi militer terbaru Israel. Otoritas lingkungan Lebanon melaporkan peningkatan kontaminasi tanah serta lonjakan residu beracun sejak 2023, yang mengancam keberlanjutan pertanian, sumber pangan, dan kehidupan warga sipil.
Sejak 8 Oktober 2023, agresi Israel di sepanjang perbatasan Lebanon–Palestina dilaporkan meningkat drastis. Organisasi hak asasi manusia mendokumentasikan penggunaan amunisi fosfor putih, kebakaran hutan berskala luas, serta penghancuran kebun zaitun dan ladang buah. Pada pertengahan 2024 saja, lebih dari 100 kebakaran hutan dipicu oleh serangan tersebut, menyebabkan degradasi tanah jangka panjang dan kerusakan keanekaragaman hayati.
Iran pun mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa dan lembaga internasional terkait agar tidak lagi bungkam. Teheran menuntut agar Israel dimintai pertanggungjawaban penuh atas pelanggaran hukum internasional ini. Baghaei juga mengkritik Amerika Serikat dan Prancis sebagai mediator gencatan senjata November 2024, yang dinilai menutup mata terhadap ribuan pelanggaran yang terus dilakukan Rezim Pendudukan.
“Diamnya para pendukung Israel menjadikan mereka kaki tangan kejahatan tersebut,” tegasnya, seraya menekankan bahwa keadilan bagi Lebanon tidak akan terwujud tanpa akuntabilitas internasional yang nyata.
