Dari Golan hingga Jaramana: Target Israel Pecah Belah dan Kuasai Suriah
POROS PERLAWANAN – Ketegangan di Suriah akhir-akhir ini terus meningkat seiring dengan dinamika politik dan militer yang melibatkan berbagai aktor, termasuk Israel. Meskipun pemimpin Tahrir al-Sham, Abu Muhammad al-Jolani berusaha menjaga hubungan baik dengan rezim Zionis, Israel tetap mengabaikannya. Saat ini, Tel Aviv telah menetapkan pinggiran Ibu Kota Suriah sebagai batas operasionalnya dan diduga telah menyusun rencana untuk membagi tiga provinsi di selatan Suriah.
Ketegangan di Jaramana dan Dinamika Milisi
Wilayah Jaramana, yang berjarak 10 kilometer dari Damaskus, baru-baru ini menjadi pusat bentrokan sengit antara pasukan Abu Muhammad al-Jolani dan milisi Druze. Konflik ini dipicu oleh pembunuhan seorang anggota keamanan Brigade “Al-Karama”, sekutu Tahrir al-Sham, yang kemudian memicu respons dari pasukan keamanan pemerintah. Sebagai langkah pengamanan, pasukan yang loyal kepada Jolani memberlakukan pembatasan lalu lintas dan mengerahkan kekuatan ke Jaramana.
Pemuka Druze di wilayah tersebut mengeluarkan pernyataan yang mengutuk pembunuhan tersebut untuk meredakan ketegangan. Namun, meskipun sempat mereda, situasi kembali memanas setelah Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, memerintahkan tentara Israel untuk meningkatkan kewaspadaan dengan dalih mempertahankan Jaramana.
Strategi Israel dan Pemecahan Wilayah Suriah
Tindakan Netanyahu menunjukkan indikasi bahwa Israel semakin serius dalam menerapkan strategi pemecahan Suriah. Salah satu skenario yang dikembangkan adalah pembentukan zona penyangga Druze di selatan Suriah, sebuah agenda yang telah dirancang oleh dinas intelijen asing selama dua tahun terakhir. Rencana ini semakin relevan dengan meningkatnya aksi protes di Sweida, pusat demografi Druze di Suriah selatan.
Dengan jatuhnya kendali Pemerintahan Suriah dan kebangkitan kembali kelompok-kelompok ekstremis, Israel melihat peluang untuk mengamankan kepentingannya. Baru-baru ini, Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, mengonfirmasi serangan udara di Al-Kiswah di barat daya Damaskus dengan pernyataan: “Tel Aviv tidak akan membiarkan Suriah selatan menjadi seperti Lebanon selatan.” Pernyataan ini memperkuat indikasi bahwa Israel ingin memastikan bahwa kekuatan militer baru di Suriah tidak mengancam kepentingannya.
Operasi Militer dan Pembentukan Wilayah Otonom
Dalam beberapa hari terakhir, pesawat nirawak Israel terlihat melakukan pengintaian di provinsi Quneitra dan Daraa. Tak lama kemudian, jet tempur Israel membombardir Tel Al-Hara di Daraa, menewaskan dan melukai beberapa orang. Tentara Israel juga memasuki desa Ain Al-Bayda di Quneitra dan Sida di antara Daraa dan Quneitra.
Serangan ini menunjukkan adanya rencana jangka panjang untuk mengubah tiga provinsi selatan—Daraa, Quneitra, dan Sweida—menjadi wilayah otonom. Skenario yang mungkin terjadi adalah pemberian kendali kepada Druze atas wilayah ini dengan dukungan militer dari Israel, serupa dengan model Wilayah Kurdistan di Irak.
Pemerintah Transisi Suriah dan Pendekatan Pro-Israel
Sementara itu, Pemerintah transisi Suriah berusaha membangun citra sebagai sekutu Israel dengan harapan mendapat pengakuan internasional. Para pejabatnya tetap diam terhadap kehadiran ilegal Israel di wilayah Suriah, termasuk pendudukan Gunung Hermon (Jabal al-Sheikh) dan sebagian provinsi Quneitra serta Daraa.
Lebih jauh, Pemerintah transisi yang dipimpin oleh Abu Muhammad al-Jolani bahkan mengesampingkan keberadaan sembilan pangkalan militer Israel di Suriah demi mendapatkan pencabutan sanksi dari Amerika Serikat dan Uni Eropa. Namun, meskipun mereka berusaha bersikap kooperatif, sanksi terhadap Suriah tetap diberlakukan. Sementara itu, Israel semakin memperluas cakupan operasinya hingga ke pinggiran Damaskus.
Israel tampaknya memiliki agenda yang jelas untuk menguasai wilayah selatan Suriah dengan membentuk zona penyangga dan mendukung aktor-aktor lokal yang sejalan dengan kepentingannya. Dengan meningkatnya intervensi militer dan diplomasi terselubung, pertanyaan besar yang muncul adalah apakah Pemerintah transisi Suriah masih berharap bahwa pendekatan mereka dapat membuat Israel mundur dari Suriah tanpa Bashar al-Assad. Situasi ini memperlihatkan bahwa kepentingan geopolitik di kawasan tersebut semakin kompleks dan sulit untuk diselesaikan melalui jalur diplomasi semata. [PP/MT]
