Di Damaskus, Araghchi Kaitkan Plot AS dan Israel dengan Terorisme di Suriah
POROS PERLAWANAN – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, tiba di Bandara Internasional Damaskus pada Minggu 1 Desember, di tengah upaya Suriah melawan kebangkitan terorisme di wilayah utara negara itu.
Araghchi segera menuju Istana Kepresidenan untuk berbicara dengan Presiden Bashar al-Assad. Foto-foto pertemuan tersebut menunjukkan Assad yang tampak santai, sikap yang mungkin lahir dari pengalaman bertahun-tahun menghadapi terorisme dan mempertahankan Suriah dari serangan yang didukung pihak asing sejak 2011.
Araghchi menegaskan kembali dukungan teguh Iran terhadap Pemerintah, Militer, dan rakyat Suriah, komitmen yang telah dimulai sejak 2011 dan memainkan peran penting dalam mengalahkan teroris Takfiri ISIS pada musim gugur 2017.
“Tujuan jahat para teroris ini sejalan dengan musuh-musuh kita yang ingin memperpanjang perang dan ketidakamanan,” ujar diplomat senior Iran tersebut, sambil menyatakan keyakinannya bahwa Suriah sekali lagi akan mengatasi ancaman ini seperti yang telah dilakukan sebelumnya.
Menanggapi pernyataan tersebut, Presiden Assad menyampaikan terima kasih atas dukungan konsisten Iran, seraya mengakui peran Pemerintah dan rakyat Iran dalam memperkuat ketahanan Suriah melawan terorisme.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Suriah?
Kelompok teroris Hay’at Tahrir al-Sham (HTS) dan faksi-faksi sekutunya melancarkan serangan besar-besaran ke provinsi Aleppo tak lama setelah gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel mulai berlaku pada Rabu. Mereka berhasil merebut wilayah tertentu setelah bentrokan singkat dengan pasukan Suriah.
Tentara Suriah, dengan dukungan serangan udara dari Rusia, kini berjuang untuk merebut kembali wilayah yang hilang. Laporan dan bukti menunjukkan bahwa Turki juga memainkan peran penting dalam bentrokan ini dengan memberikan dukungan militer dan logistik kepada kelompok teroris HTS. Selain itu, keterlibatan Israel juga menjadi sorotan, dengan dugaan bahwa mereka berupaya mendestabilisasi Suriah untuk menghambat aliran bantuan militer Iran ke Lebanon.
Eskalasi terbaru ini hanyalah babak terbaru dari konflik satu dekade Suriah, perang yang dipicu oleh campur tangan asing. Negara-negara Barat dan mitra regional mereka telah mempersenjatai kelompok teroris di Suriah sejak 2011, memanfaatkan protes damai awal sebagai kedok untuk mendukung “pejuang kebebasan” yang ternyata terkait dengan ISIS.
Gelombang terorisme pertama yang melanda Suriah selama dekade 2010-an, bahkan menyebar ke Irak, berhasil dikalahkan dengan bantuan Iran dan Rusia. Meskipun analis menganggap pemberontakan teroris saat ini kurang parah dibandingkan gelombang awal, mereka percaya Suriah tetap memerlukan dukungan sekutunya, yaitu Iran dan Rusia, untuk mengatasinya.
Komitmen berkelanjutan Iran dalam mendukung keamanan dan kedaulatan Suriah ditekankan melalui kunjungan Menteri Luar Negeri Araghchi ke Damaskus pada Minggu, yang juga diperkuat oleh pernyataan pejabat Iran lainnya.
Setelah sesi parlemen pada Minggu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqir Qalibaf mengecam serangan teroris di Suriah sebagai “plot Zionis-Amerika” untuk mendestabilisasi Kawasan.
Sambil menegaskan kembali dukungan Iran yang teguh terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Suriah, Qalibaf juga memperingatkan bahwa para dalang serangan ini pada akhirnya akan menghadapi konsekuensinya. Peringatan ini tampaknya ditujukan tidak hanya kepada Israel dan Barat, tetapi juga kepada Ankara. “Para perencana tindakan ini (di Suriah) harus ingat bahwa bermain dengan kartu hitam terorisme suatu hari akan berbalik menimpa mereka di tanah mereka sendiri,” tegasnya.
Bagaimana Peran Turki Seharusnya Ditangani?
Dukungan Turki terhadap pemberontakan Takfiri terbaru di Suriah secara langsung bertentangan dengan janjinya dalam Proses Perdamaian Astana. Pada 2017, rencana empat zona aman disepakati oleh Iran, Rusia, Suriah, dan Turki. Meskipun tiga zona berhasil didirikan pada 2018, intervensi Turki mencegah terciptanya zona keempat yang seharusnya mencakup Idlib, Latakia, dan sebagian Aleppo. Ankara mengeklaim alasan kemanusiaan untuk penolakannya, sambil berjanji tidak akan membiarkan kelompok teroris merencanakan operasi dari wilayah yang berbatasan dengan Turki.
Beberapa pihak mulai menyerukan pendekatan lebih tegas terhadap Turki. “Sebagai tanggapan atas perkembangan terbaru di Aleppo, termasuk gugurnya penasihat Iran, Iran seharusnya ‘secara tidak sengaja’ menargetkan pos pengamatan Turki di wilayah tersebut”, tulis seorang analis senior Iran di akun X-nya.
Dukungan Ankara terhadap teroris Takfiri di Suriah terjadi ketika selama 14 bulan terakhir, Turki menolak menghentikan aliran minyak Azeri ke pesawat tempur Israel. Minyak tersebut melewati wilayah Turki dan digunakan untuk menyerang warga sipil di Gaza.
Otoritas di Tehran tampaknya memprioritaskan diplomasi untuk saat ini. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi dijadwalkan mengunjungi Turki setelah menyelesaikan lawatannya ke Suriah.
