Loading

Ketik untuk mencari

Rusia

Diplomat Rusia: Hanya Politisi Sinting AS yang Berniat Sulut Perang Nuklir

Diplomat Rusia: Hanya Politisi Sinting AS yang Berniat Sulut Perang Nuklir

POROS PERLAWANAN – Dubes Rusia untuk AS, Anatoly Antonov menyatakan, gagasan untuk memulai perang nuklir dengan Rusia hanya terlintas di benak para politisi AS yang “akal mereka tidak sehat”.

Dikutip al-Alam dari Sputnik, Antonov mengatakan, ”Saya yakin, para panglima AS yang waras mustahil mempertimbangkan perang nuklir dengan Rusia. Saya rasa, ide ini hanya ada di pikiran para politisi sinting.”

Sebelum ini, Komandan Komando Strategis AS Laksamana Charles A. Richard menyatakan, AS mesti bersiap untuk perang nuklir melawan Rusia atau China. Menurutnya, Washington harus berusaha menemukan cara-cara baru untuk mencegah Beijing dan Moskow menggunakan senjata-senjata strategis baru.

Dalam artikel yang ditulisnya untuk majalah Proceedings, Richard menyatakan bahwa masa-masa mewah kehidupan pasca Perang Dingin sudah berakhir; masa yang di situ konfrontasi langsung dengan rival berkekuatan nuklir adalah hal mustahil.

“Ada sebuah potensi nyata bahwa satu krisis regional dengan Rusia atau China akan muncul dalam waktu dekat, yang mengarah kepada sebuah perang nuklir jika mereka menyimpulkan negaranya terancam kalah dalam perang konvensional,” tulis Richard.

Jenderal bintang 4 AS ini menilai, Pentagon harus mengubah asumsi utama bahwa penggunaan senjata nuklir adalah hal mustahil. Menurut Richard, Pentagon mesti berasumsi bahwa “penggunaan senjata nuklir adalah sebuah kemungkinan yang sangat realistis”.

AS sendiri tercatat pernah menggunakan bom nuklir dalam perang. Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki (pada 6 dan 9 Agustus 1945) di Perang Dunia II dilakukan atas instruksi Presiden Harry Truman.

Dua bom nuklir tersebut telah menghancurkan dua kota di Jepang dan membunuh banyak warga sipil. Sekitar 220 ribu orang tewas akibat pengeboman tersebut dan 20 ribu di antara mereka adalah awak militer Jepang, sementara sisanya adalah warga sipil.

Lebih dari 100 ribu orang Jepang tewas seketika saat dibom, sementara lainnya kehilangan nyawa hingga akhir tahun 1945 akibat radiasi radioaktif.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *