Donald Trump Turun Kasta Jadi Kerbau Viral Bangladesh
POROS PERLAWANAN — Donald Trump selama bertahun-tahun menjual dirinya sebagai simbol supremasi Amerika. Gaya bicara agresif, rambut kuning yang selalu tampil seperti baru keluar dari badai, dan ego politik berukuran stadion dipoles menjadi merek dagang global. Namun sejarah punya selera humor yang brutal. Di Bangladesh, seluruh citra itu akhirnya berhenti di kandang kerbau.
Seekor kerbau putih di Narayanganj, pinggiran Dhaka, mendadak viral setelah warga menilai surai kuningnya sangat mirip dengan rambut khas Presiden Amerika Serikat tersebut. Nama “Donald Trump” pun langsung melekat. Publik tampaknya tidak membutuhkan analisis panjang. Poni kuning itu sudah cukup menjadi identitas.
Yang menarik, kerbau itu justru lebih sukses membangun simpati publik. Orang-orang datang berbondong-bondong ke peternakan demi berfoto dengannya. Anak-anak tertawa, media sosial ramai, dan si kerbau menikmati popularitas tanpa harus mengancam negara lain, menjatuhkan tarif dagang, atau memposting kemarahan tengah malam.
Di titik ini, ironi politik global mencapai bentuk paling telanjang. Amerika menghabiskan puluhan tahun membangun citra kepemimpinan dunia, lalu presidennya berakhir menjadi referensi visual seekor ternak Asia Selatan.
Pemilik kerbau, Ziauddin Merida, mengatakan nama itu diberikan oleh adiknya karena kemiripan yang dianggap terlalu jelas untuk memerlukan debat panjang. Rambut yang dulu dipoles sebagai simbol superioritas kini malah tampak seperti aksesori alami penghuni kandang.
Di era media sosial, reputasi politik ternyata jauh lebih rapuh daripada yang dibayangkan para konsultan citra. Nasib citra seorang presiden kini bisa ditentukan oleh kamera ponsel, meme internet, dan seekor kerbau yang kebetulan memiliki poni serupa.
Barangkali yang paling menyakitkan bagi Trump bukan fakta bahwa dirinya dibandingkan dengan kerbau. Untuk pertama kalinya, Trump tampaknya berhasil menghadirkan kegembiraan publik internasional. Bedanya, yang dipotret warga bukan presidennya, melainkan kerbaunya.
