Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Drone Hizbullah Lumpuhkan Keunggulan Udara Israel di Lebanon Selatan

POROS PERLAWANAN — Militer Israel menghadapi tekanan serius akibat serangan drone serat optik milik Hizbullah di Lebanon selatan. Sejumlah laporan media Israel menyebut pasukan Israel mulai menggunakan boneka menyerupai tentara dan jaring nelayan untuk mengurangi risiko serangan drone.

Laporan itu muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran internal Militer Israel terhadap efektivitas drone FPV berbasis serat optik yang digunakan Hizbullah dalam pertempuran di perbatasan Lebanon-Israel.

Analis militer Israel, Avi Ashkenazi mengatakan drone Hizbullah telah mengikis dominasi udara Militer Israel di kawasan perbatasan. Drone tersebut disebut dikendalikan menggunakan kabel serat optik sepanjang 30 hingga 60 kilometer sehingga sulit dideteksi maupun dilumpuhkan melalui sistem peperangan elektronik Israel.

Dengan dukungan kamera pengintai, drone itu dinilai mampu mengidentifikasi dan menyerang target secara presisi.

Menurut laporan Fars News Agency pada Senin 11 Mei, selama sekitar 45 hari bentrokan antara Hizbullah dan Israel dalam perang terakhir, termasuk serangan yang terus berlangsung selama periode gencatan senjata, drone Hizbullah menyebabkan tekanan besar terhadap pasukan Israel di wilayah perbatasan.

Media Turki, Clash Report baru-baru ini memublikasikan gambar boneka berpakaian seragam Militer Israel yang ditempatkan di sejumlah titik. Dalam laporannya, media tersebut menyebut boneka itu digunakan untuk mengecoh drone Hizbullah agar menyerang target palsu.

Penggunaan boneka dan perlindungan darurat lain muncul setelah sejumlah komandan lapangan Israel mengakui kesulitan menghadapi drone serat optik Hizbullah.

Komandan Brigade Nahal Israel bahkan mengatakan pasukannya tidak berani mengangkat kepala di Lebanon selatan karena ancaman drone Hizbullah.

“Di Lebanon selatan kami tidak berani mengangkat kepala karena takut terhadap drone Hizbullah,” ujarnya kepada harian Maariv.

Harian Israel, Yedioth Ahronoth juga melaporkan drone serat optik Hizbullah telah menjadi sumber kekhawatiran utama Militer Israel. Menurut laporan itu, penggunaan helikopter, pesawat tempur, dan sistem pertahanan Iron Dome belum mampu memberikan respons efektif terhadap ancaman drone tersebut.

Selain menggunakan boneka, pasukan Israel disebut mulai memanfaatkan jaring nelayan sebagai perlindungan tambahan di sejumlah posisi militer dekat perbatasan Lebanon. Laporan Yedioth Ahronoth menyebut sebagian perlengkapan itu dibeli melalui bantuan finansial warga permukiman Israel.

Media Israel juga melaporkan banyak tentara memilih berlindung di bunker ketika drone Hizbullah terdeteksi mendekat.

Di tengah meningkatnya tekanan tersebut, Militer Israel dikabarkan menggelar rapat darurat untuk membahas ancaman drone bunuh diri berbasis serat optik milik Hizbullah yang dinilai mulai memengaruhi kemampuan operasional pasukan di Lebanon selatan.

Kekhawatiran terhadap kondisi internal Militer Israel juga menguat setelah Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Eyal Zamir dalam rapat tertutup Komite Luar Negeri dan Pertahanan Knesset memperingatkan risiko krisis serius di tubuh Militer Israel.

Analis militer Maariv, Avi Ashkenazi menggambarkan kondisi tersebut sebagai kemunduran bertahap yang berlangsung di dalam tubuh Militer Israel.

“Militer Israel perlahan retak dalam diam,” katanya.

Tags: