Loading

Ketik untuk mencari

Yaman

Dubes Iran Sebut Yaman ‘Jantung Tangguh Poros Perlawanan’

Dubes Iran Sebut Yaman ‘Jantung Tangguh Poros Perlawanan’

POROS PERLAWANAN – Dubes Iran untuk Yaman, Hassan Eyrlou dalam peringatan gugurnya Syahid Qassem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis menyatakan Yaman saat ini adalah jantung berdenyut di Front Perlawanan, yang memiliki kekuatan tangguh di Poros Perlawanan.

Dilansir Fars, Eyrlou mengatakan bahwa aspek-aspek pengorbanan rakyat Yaman di level geopolitik regional memiliki pengaruh yang sangat besar.

“Berkat pengorbanan-pengorbanan ini, rakyat Yaman akan menjadi kekuatan besar regional,” kata Dubes Iran.

“Dengan gugurnya dua pemimpin, yaitu Syahid Soleimani dan Abu Mahdi, Poros Perlawanan sama sekali tidak melemah. Ada banyak bukti yang menunjukkan hal ini,” lanjutnya.

Eyrlou menegaskan, Republik Islam Iran akan terus mendampingi rakyat Yaman, menolak segala agresi, dan mendukung sebuah solusi politik yang adil.

“Dengan keteguhan dan ketabahannya, Yaman telah meredam agresi, blokade, dan proyek imperialisme-Zionisme. AS harus sadar bahwa keberadaannya di Kawasan sudah berakhir. Front Poros Perlawanan akan melanjutkan langkahnya dengan penuh kekuatan. Soleimani akan menjadi mimpi buruk yang selalu menghantui dan memburu AS,” tandas Eyrlou.

Menurutnya, dicantumkannya nama dirinya dalam daftar sanksi Washington menandakan kekhawatiran para penjajah terkait upaya diplomatik untuk menyelesaikan krisis Yaman.

Sementara itu, Jubir Ansharullah, Muhammad Abdussalam menegaskan bahwa Umat Islam bertekad untuk melanjutkan jalan Syahid Soleimani dan Abu Mahdi.

“Diusirnya AS dari Kawasan adalah satu-satunya balasan yang bisa dilakukan untuk menebus teror terhadap Syahid Soleimani dan Abu Mahdi,” kata Abdussalam.

“Kehormatan besar bagi mereka berdua adalah gugur di tangan pembunuh terbesar di dunia ini,” imbuhnya.

“Teror atas mereka telah berubah menghidupkan konsep kesatuan umat di tengah mayoritas Muslimin. Kejahatan AS ini menunjukkan pentingnya langkah yang dilakukan kedua syahid ini dalam melawan AS dan kelompok takfiri.”

“Kami ingat bahwa bangsa-bangsa Muslim dan Arab turut merasakan kemenangan (Hizbullah) usai Perang 33 Hari di tahun 2006,” kata Abdussalam.

“Kami mengapresiasi sikap Pemimpin dan bangsa Iran dalam membantu rakyat Yaman untuk menghadapi agresi. Yaman tengah melakukan pertempuran besar untuk menyatakan penolakannya terhadap AS dan Israel, serta telah mempersembahkan banyak martir di jalan ini,” pungkasnya.

Tags: