Loading

Ketik untuk mencari

Yaman

Dunia Soroti Kejahatan AS di Pelabuhan Ras Issa yang Tewaskan dan Lukai Ratusan Warga Sipil Yaman

Dunia Soroti Kejahatan AS di Pelabuhan Ras Issa yang Tewaskan dan Lukai Ratusan Warga Sipil Yaman

POROS PERLAWANAN – Human Rights Watch Euro-Mediterania, dalam pernyataannya pada Minggu 20 April, mengecam keras serangan udara Amerika Serikat terhadap pelabuhan Ras Issa di Yaman. Lembaga tersebut menyebut tindakan AS sebagai “penggunaan kekuatan ilegal” dan menyerukan penyelidikan internasional segera. Pernyataan mereka menyebutkan bahwa “sifat lokasi yang ditargetkan dan tingginya jumlah korban menimbulkan keraguan serius bahwa kejahatan perang telah dilakukan”.

Serangan mematikan yang menewaskan dan melukai lebih dari 250 warga sipil ini juga mendapat kecaman keras dari Perlawanan Irak. Brigade Hizbullah Irak dalam pernyataannya menyebutkan: “Serangan terhadap pelabuhan Ras Issa adalah kelanjutan dari ketegangan kriminal Amerika terhadap berbagai negara Kawasan, dan bukti nyata keterlibatannya dalam memproduksi kekacauan regional, genosida di Palestina, dan penjagalan yang terus berlangsung terhadap rakyat Kawasan.”

Sementara itu, jumlah drone tempur super canggih AS yang ditembak jatuh oleh Angkatan Bersenjata Yaman sejak dimulainya Operasi “Penaklukan yang Dijanjikan dan Jihad Suci” untuk mendukung Gaza pada 2023, terus bertambah. Koresponden Fox News, Liz Frieden, pada Minggu 20 April, melaporkan bahwa drone MQ-9 Reaper keenam telah berhasil ditembak jatuh sejak 3 Maret 2025, menjadikan totalnya mencapai 20 unit sejak operasi dimulai.

Dalam waktu yang sama, AS kembali menggempur Ibu Kota Sanaa. TV Al-Masirah melaporkan bahwa serangan udara terbaru AS menghantam distrik Al-Sa’been, tepatnya kawasan Al-Haffa, menambah daftar panjang infrastruktur sipil yang dirusak dan warga sipil yang menjadi korban.

Namun yang tak kalah penting adalah narasi strategis yang diusung Ansharullah soal ancaman invasi darat. Mereka dengan tegas menyatakan bahwa setiap operasi darat terhadap Yaman akan dijalankan bukan oleh tentara reguler AS atau koalisi Barat, tetapi oleh tentara bayaran Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Ini bukan sekadar propaganda; ini adalah permainan persepsi tingkat tinggi.

Dengan retorika semacam ini, Ansharullah mengirim pesan bahwa Riyadh dan Abu Dhabi bukan hanya ikut menanggung biaya perang, melainkan juga takut untuk langsung bertempur. Mereka lebih memilih bersembunyi di balik kaki tangan sewaan untuk melanjutkan agresi terhadap negeri yang telah mereka bombardir selama hampir satu dekade.

Lebih jauh, ini juga merupakan bentuk pencegahan psikologis terhadap para proksi. Ansharullah ingin memastikan bahwa siapa pun yang dikirim ke medan, akan menyadari bahwa mereka dikorbankan dalam perang yang tuannya sendiri enggan menghadapinya secara langsung, dan mereka akan berhadapan dengan kekuatan yang tidak bernegosiasi, tidak tunduk, dan tidak memberi ampun.

Sebuah pesan yang sekaligus membangun narasi keunggulan moral dan militer Yaman di medan yang telah membuktikan bahwa kekuatan klasik tidak berlaku dalam wajah perlawanan yang asimetris dan visioner.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *