Ehud Olmert: Israel Kian Dekat dengan Perang Saudara
POROS PERLAWANAN – Mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert, memperingatkan bahwa rezim Zionis kini berada di ambang perang saudara. Dalam sebuah opini tajam yang diterbitkan oleh harian Haaretz pada jumat (11/4), Olmert menyatakan bahwa krisis hukum-politik yang mengemuka di ruang sidang Mahkamah Agung Israel telah menjadi medan konflik terbuka antara faksi kekuasaan dan institusi negara.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan internal pasca keputusan Mahkamah Agung Israel yang mendukung Kepala Shin Bet, Ronen Bar, dalam menghadapi tekanan politik dari kabinet Netanyahu. Olmert menyebut perkembangan ini sebagai fase baru dari “pengambilalihan ilegal” Netanyahu terhadap lembaga-lembaga hukum.
“Kita tidak sedang menuju revolusi sipil yang beradab, tetapi terjerumus menuju perang saudara,” tulis Olmert dalam kolomnya.
Hooliganisme Politik dan Erosi Institusi
Olmert menyoroti perilaku sejumlah anggota Knesset dalam persidangan Mahkamah Agung, yang berujung pada ancaman boikot institusi peradilan oleh kabinet Netanyahu, merupakan indikasi nyata bahwa Israel sedang mengalami pembusukan dari dalam. Menteri Kehakiman bahkan secara terbuka menyatakan bahwa keputusan pengadilan tidak akan diakui oleh pemerintah.
“Tidak ada satu pun anggota Knesset yang memiliki kekebalan absolut. Mereka tidak berhak menciptakan kekacauan di ruang pengadilan,” tulis Olmert.
Ia menambahkan, intervensi vulgar politisi dalam proses hukum menandai degradasi fungsi Knesset dari lembaga legislatif menjadi alat intimidasi terhadap sistem hukum.
Dominasi Media dan Disintegrasi Nasional
Dalam narasinya, Olmert melontarkan pertanyaan retoris yang menggemparkan:
“Apa yang akan terjadi jika suatu hari kita menyalakan televisi dan melihat seluruh saluran nasional; dari saluran anak-anak hingga berita, dipenuhi wajah pembawa acara Channel 14, corong propaganda sayap kanan Netanyahu?”
Pernyataan ini menyoroti kekhawatiran tentang dominasi ruang informasi oleh kelompok radikal dalam kekuasaan, yang menyerupai kontrol media ala rezim totaliter.
Dari Tepi Barat ke Tel Aviv: Perang Dimulai dari Dalam
Olmert juga merujuk pada peringatan yang lebih awal dilontarkan oleh Aharon Barak, mantan Ketua Mahkamah Agung Israel, yang menyatakan bahwa “struktur internal Israel telah terpecah sedemikian tajam” dan “tahap pertama perang saudara telah dimulai.”
Barak menegaskan, untuk saat ini konflik masih terfokus pada kekerasan brutal terhadap warga Palestina di Tepi Barat, namun cepat atau lambat, api kekerasan itu akan berbalik menghanguskan pusat-pusat kekuasaan Zionis sendiri.
“Apa yang terjadi di Tepi Barat adalah kejahatan perang, dan akan segera masuk ke meja Pengadilan Kriminal Internasional di Den Haag,” tulis Olmert, mengutip peringatan Barak.
Ketika Kolonialisme Retak dari Dalam
Dinamika ini bukan sekadar krisis politik domestik, tetapi ekspresi dari kehancuran moral dan struktural rezim kolonial Israel. Ketika kekuasaan dibangun di atas perampasan, penindasan, dan apartheid, maka kehancuran dari dalam adalah keniscayaan sejarah.
Narasi perang saudara dalam tubuh entitas Zionis bukan lagi retorika peringatan, melainkan pengakuan dari dalam sistem bahwa Israel kini menari di ujung jurang. Jutaan pengunjuk rasa yang membanjiri Tel Aviv bukan untuk menggulingkan kolonialisme, tetapi untuk menyelamatkan ilusi “demokrasi Yahudi” yang dibangun di atas reruntuhan rumah-rumah Palestina.
Jalan Tanpa Jalan Keluar
Kini, bahkan elit Zionis seperti Olmert dan Barak tak mampu lagi menyembunyikan fakta bahwa Israel sedang menuju fase implosi internal. Di tengah kebuntuan militer di Gaza, terjepitnya front Laut Merah, dan memburuknya citra global, konflik internal ini akan mempercepat disintegrasi fondasi rezim yang selama ini menyembunyikan kolonialisme di balik jargon keamanan nasional.
“Kami telah memperingatkan,” tulis Olmert, “dan tidak seorang pun kini bisa berkata: kami tidak tahu.”
