Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Erdogan dan Netanyahu: Sejoli Licik di Panggung Kemunafikan Global

Erdogan dan Netanyahu: Sejoli Licik di Panggung Kemunafikan Global

POROS PERLAWANAN – Iran selalu berupaya menjalin hubungan dengan pemerintah-pemerintah dunia berdasarkan prinsip yang jelas dan etika yang konsisten. Dalam konteks ini, tidak ada perbedaan antara hubungan Iran dengan Erdogan atau Bashar al-Assad. Namun, tampaknya Erdogan cenderung membenarkan otoritarianisme untuk dirinya sendiri, tetapi mengkritik Assad atas hal yang sama.

Republik Islam Iran secara terbuka mendukung mantan Presiden Suriah, Bashar al-Assad. Dukungan ini bukan rahasia, sebagaimana Assad juga telah lama menjadi pendukung Iran dan Poros Perlawanan. Bahkan, ayahnya, Hafez al-Assad, adalah salah satu pemimpin dunia yang berpihak kepada Iran selama perang Iran-Irak yang dipimpin oleh Saddam Hussein.

Namun, dukungan Iran terhadap Pemerintahan Assad kini kerap diserang dengan sindiran, terutama oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Dengan mendukung kelompok-kelompok teroris yang memerangi Assad, Erdogan berusaha menggambarkan dirinya sebagai pendukung demokrasi, sembari menuduh pihak-pihak yang mendukung Assad sebagai lawan demokrasi.

Tentu saja, tidak dapat disangkal bahwa Bashar al-Assad memiliki kelemahan dalam pemerintahannya. Bahkan, beberapa tahun lalu beredar laporan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran pernah memberikan nasihat penting kepada Assad untuk lebih memperhatikan rakyatnya. Namun, mengapa Iran tetap mendukung Assad meskipun ada kelemahan ini? Dukungan Iran didasarkan pada beberapa alasan utama:

1. Melawan Terorisme

Iran mendukung Assad dalam upayanya melawan terorisme. Meskipun Iran tidak ikut campur dalam urusan internal Suriah, sejak 2011, mereka menanggapi permintaan resmi Suriah untuk membantu melawan kelompok-kelompok teroris yang didukung oleh kekuatan asing. Dukungan terhadap Pemerintah Suriah, meskipun memiliki kelemahan, dianggap sebagai bentuk dukungan terhadap rakyat Suriah itu sendiri. Iran tidak menyesali sikap ini dan tetap teguh pada pendiriannya. Kritik terhadap Iran karena mendukung Pemerintah dan rakyat Suriah justru dapat dianggap sebagai bentuk dukungan tidak langsung terhadap kelompok-kelompok teroris.

2. Menentang Intervensi Asing

Kelompok-kelompok teroris yang beroperasi di Suriah secara terang-terangan mendapatkan dukungan dari kekuatan asing, baik regional maupun internasional. Sebagai negara yang menentang segala bentuk intervensi asing, Iran memutuskan untuk mendukung Pemerintah dan rakyat Suriah dalam mempertahankan kedaulatan mereka.

3. Melawan Zionisme

Iran secara konsisten mendukung setiap gerakan yang menentang rezim Zionis Israel. Suriah, di bawah kepemimpinan Assad, adalah salah satu dari sedikit negara Arab yang benar-benar menghadapi Israel dengan tulus. Dalam konteks ini, dukungan Iran terhadap Suriah sepenuhnya sejalan dengan sikap tegasnya terhadap Zionisme.

4. Menolak Kudeta

Iran menentang perubahan pemerintahan yang dilakukan melalui kekerasan atau kudeta. Menurut Iran, perubahan harus dilakukan secara sah dan mendapat dukungan dari mayoritas masyarakat. Barat dan beberapa negara regional diketahui berulang kali mencoba menggulingkan Assad melalui cara-cara kudeta, tetapi Iran dengan tegas menolak pendekatan semacam itu.

Prinsip ini juga tercermin dalam sikap Iran terhadap Turki. Ketika Turki menghadapi upaya kudeta pada 2016 yang diduga didalangi oleh Fethullah Gulen, Iran adalah salah satu negara pertama yang mendukung Erdogan, meskipun ada perbedaan pandangan tajam terkait Suriah. Jika Iran bertindak hanya berdasarkan emosi, mereka mungkin akan menolak mendukung Erdogan pada saat itu.

Namun, setelah kudeta digagalkan, Erdogan mengambil langkah drastis, termasuk memecat dan memenjarakan ribuan orang. Jika Erdogan menganggap bahwa melawan kudeta adalah hal yang benar, mengapa ia mengkritik Assad atas tindakan serupa?

Iran sendiri tidak ikut campur dalam urusan internal Turki, tetapi selalu menekankan pentingnya prinsip demokrasi dan etika pemerintahan yang baik.

Kemesraan Erdogan-Netanyahu: Seni Menyamarkan Kemunafikan

Meski sering tampil sebagai “lawan politik” di panggung internasional, hubungan Erdogan dan Netanyahu penuh nuansa yang mencerminkan kemesraan terselubung. Retorika saling kritik di antara keduanya hanyalah hiburan semu, sementara langkah-langkah kebijakan mereka justru menunjukkan keselarasan yang tajam dan terencana. Erdogan, misalnya, gemar mengumbar dukungannya terhadap Palestina di depan publik, tetapi di belakang layar, perdagangan antara Turki dan Israel terus melesat tanpa hambatan, bahkan mencapai angka-angka yang mencengangkan.

Netanyahu pun tak kalah licik. Di balik retorika kerasnya terhadap Erdogan, ia tetap menjaga hubungan diplomatik dengan Turki, memanfaatkan “musuhnya” ini sebagai mitra strategis di tengah konflik Timur Tengah. Dua aktor politik ini tampaknya bermain peran dengan lihai, saling melengkapi dalam skenario geopolitik yang menyembunyikan kerja sama mereka dari sorotan publik.

Realitas ini membuktikan bahwa politik, bagi Erdogan dan Netanyahu, adalah seni menyamarkan kemunafikan. Di mata dunia, mereka tampak berbeda, bahkan bertikai. Namun kenyataannya, persahabatan mereka tetap utuh, bahkan ketika Netanyahu melumat saudara-saudara Erdogan di Palestina di depan matanya sendiri. Hubungan ini bukan sekadar kolaborasi politik, tetapi sebuah penghinaan terhadap prinsip-prinsip yang mereka klaim perjuangkan. Politik duo sejoli ini menunjukkan bahwa kepentingan pribadi dan aliansi tersembunyi selalu menang atas retorika moralitas.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *