Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Gaza Menjerit: Seluruh Rumah Sakit di Utara Lumpuh, Bantuan Terhalang

Gaza Menjerit: Seluruh Rumah Sakit di Utara Lumpuh, Bantuan Terhalang

POROS PERLAWANAN– Dilansir Press TV, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengonfirmasi bahwa tidak ada satu pun rumah sakit yang masih beroperasi di wilayah Gaza Utara. Kondisi ini disebabkan oleh intensitas serangan militer Israel serta penolakan sistematis terhadap akses bantuan kemanusiaan, yang membuat krisis kemanusiaan di wilayah tersebut semakin memburuk.

Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, dalam konferensi pers pada Rabu 4 Mei, menyatakan bahwa sejak tiga minggu terakhir lebih dari 100.000 warga sipil terpaksa meninggalkan rumah mereka di Gaza Utara dan Gaza Tengah akibat eskalasi konflik. Ia menambahkan bahwa sistem layanan kesehatan kini berada di titik nadir.

“Mitra-mitra kesehatan kami melaporkan bahwa fasilitas medis sangat terdampak oleh permusuhan yang terus berlangsung. Semakin banyak rumah sakit yang berhenti beroperasi setiap harinya,” ujar Dujarric. Ia mengonfirmasi bahwa pada hari Senin 2 Mei, seluruh staf dan pasien dievakuasi dari Rumah Sakit Indonesia, salah satu fasilitas utama di Gaza Utara, sehingga saat ini tidak ada rumah sakit yang tersisa dan berfungsi di wilayah tersebut.

Selain kehancuran fasilitas kesehatan, Dujarric menyoroti bahwa pengiriman bantuan kemanusiaan juga mengalami hambatan berat. Meski penyeberangan Karem Abu Salem telah dibuka kembali, dari 130 truk bantuan yang telah mengantongi izin awal, hanya 50 truk bermuatan tepung yang diizinkan masuk oleh otoritas Israel. Bahkan, satu konvoi bantuan diblokir sepenuhnya, sementara konvoi lainnya hanya berhasil menyalurkan sebagian kecil muatan.

“Pada hari Senin saja, PBB menghadapi enam penolakan akses di seluruh Gaza, termasuk untuk distribusi air bersih dan bahan bakar,” ungkapnya. Ia menekankan bahwa pembatasan ini membuat PBB tidak bisa menjalankan intervensi kemanusiaan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup warga.

Lebih lanjut, laporan menyebut militer Israel menghancurkan pusat hemodialisa Noura al-Kaabi, satu-satunya fasilitas untuk perawatan gagal ginjal di Gaza Utara. Sementara itu, direktur Rumah Sakit al-Shifa melaporkan lima pasien kanker meninggal setiap hari akibat minimnya perawatan medis.

Sejak dimulainya serangan pada 7 Oktober 2023, setidaknya 54.607 warga Palestina yang mayoritas perempuan dan anak-anak telah tewas, dan 125.341 lainnya luka-luka. PBB menyatakan serangan terhadap infrastruktur sipil seperti rumah sakit dan sekolah merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *