Gelombang Ketiga Serangan Rudal Iran: Fasilitas Penting dan Sejumlah Titik Strategis Rezim Zionis Kembali Jadi Sasaran
POROS PERLAWANAN – Gelombang ketiga operasi rudal dan serangan drone yang diluncurkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kembali mengguncang Wilayah yang Diduduki rezim Zionis. Serangan ini merupakan kelanjutan dari operasi bertajuk “Janji Sejati 3”, sebagai respons terhadap apa yang disebut Iran sebagai “kejahatan dan agresi sistematis oleh Israel”.
Menurut laporan koresponden pertahanan Tasnim News Agency pada Minggu 15 Juni, serangan terbaru ini menargetkan sejumlah titik strategis, termasuk kota Tel Aviv, Ashdod, dan Bat Yam, wilayah-wilayah padat penduduk di selatan Tel Aviv. Tidak tanggung-tanggung, Bandara Internasional Ben Gurion juga dilaporkan menjadi sasaran rudal Iran dalam gelombang serangan kali ini.
Media Israel melaporkan bahwa setidaknya enam lokasi tambahan di Wilayah Pendudukan Palestina turut menjadi sasaran rudal. Artinya, jika sebelumnya Israel merasa dirinya kebal karena sistem pertahanan canggihnya, kali ini langit tampaknya tak cukup tebal untuk menghalangi badai logam yang datang dari arah timur.
Beberapa jam sebelum gelombang ini, IRGC meluncurkan serangan skala besar terhadap fasilitas produksi bahan bakar jet tempur serta pusat-pusat pasokan energi milik Israel. Serangan dilakukan menggunakan kombinasi drone tempur dan rudal balistik, bagian dari ofensif lanjutan operasi “Janji Sejati 3” yang kian intensif.
Tak hanya Tel Aviv yang terkena dampak, kota pelabuhan Haifa juga dilaporkan mengalami serangan signifikan. Kilang minyak dan beberapa fasilitas industri strategis dikabarkan mengalami kerusakan akibat hantaman rudal.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui Pengumuman No. 2, IRGC menyatakan: “Sebagai kelanjutan dari operasi ofensif gabungan Janji Sejati 3, dan sebagai respons terhadap kejahatan serta agresi rezim Zionis, sejumlah besar pesawat tak berawak dan rudal telah diarahkan ke fasilitas produksi bahan bakar jet tempur dan pusat pasokan energi musuh.”
Lebih lanjut, IRGC memperingatkan bahwa operasi ofensif Militer Iran akan terus meningkat dalam skala dan intensitas, apabila agresi militer Israel masih berlanjut. Sebuah peringatan yang, dalam istilah diplomatik, barangkali terdengar seperti ajakan dialog, tapi dalam bahasa misil, lebih menyerupai hitungan mundur.
Sementara itu, sistem pertahanan udara Iran melaporkan keberhasilan dalam mencegat sejumlah ancaman udara. Komando Pertahanan Kedirgantaraan IRGC, yang terintegrasi dalam Jaringan Komando Pertahanan Udara Nasional, mengeklaim telah menghancurkan tiga rudal jelajah, sepuluh drone tempur, dan puluhan pesawat kecil milik Israel di wilayah konflik.
Dalam konteks geopolitik yang terus memanas, operasi ini tampaknya mengirimkan pesan yang cukup jelas: jika “deterrence” adalah bahasa yang dipilih oleh rezim Zionis, maka Iran kini menjawabnya bukan dengan pidato panjang di PBB, tapi dengan koordinat dan ledakan.
