Guardian: Asia Barat Siap Beradaptasi dengan Berakhirnya Imperium AS
POROS PERLAWANAN – Surat kabar Inggris, Guardian menyatakan bahwa pengaruh Amerika di Kawasan telah melemah akibat dampak perang dengan Iran. Media tersebut berpendapat, berbagai negara kini berusaha beradaptasi dengan kenyataan baru ini.
Dilaporkan Fars, Guardian dalam sebuah analisis meneliti dampak perang AS-Israel melawan Iran terhadap penurunan kepercayaan kepada Washington di seluruh Asia Barat.
Surat kabar Inggris tersebut menulis, guncangan dari perang ini telah memaksa negara-negara rival di Timur Tengah untuk mendukung perjanjian damai.
Perang melawan Iran telah menyebabkan lonjakan tajam harga minyak, kenaikan harga bensin di AS, krisis gas di Eropa, dan tekanan inflasi pada perekonomian banyak negara di seluruh dunia.
Menanggapi agresi gabungan AS-Israel, Republik Islam Iran mengumumkan bahwa mereka tidak akan mengizinkan kapal-kapal yang terkait dengan pihak-pihak agresor untuk melintasi Selat Hormuz.
Menanggapi langkah ini, AS telah memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.
Gangguan lalu lintas melalui Selat Hormuz telah memengaruhi rantai pasokan banyak barang kebutuhan pokok. Qatar, Arab Saudi, dan UEA adalah eksportir utama pupuk pertanian. Selat Hormuz merupakan jalur transit bagi sepertiga pupuk pertanian dunia.
Akibat penutupan rute ini, harga pupuk di Pelabuhan New Orleans naik dari $516 menjadi $683 per ton pada minggu pertama perang.
Dalam laporannya, Guardian menulis bahwa upaya diplomatik dengan Teheran sedang berlangsung seiring dengan upaya Kawasan untuk menyesuaikan diri dengan melemahnya pengaruh Amerika Serikat.
Saat diwawancarai Guardian, seorang profesor di King’s College London, Andreas Krieg mengatakan bahwa negara-negara Teluk terkejut karena Washington memprioritaskan perlindungan Israel dari drone dan rudal Iran, padahal mereka telah menggelontorkan triliunan Dolar ke AS.
“Kita mungkin sedang menyaksikan hari-hari terakhir imperium Amerika di Timur Tengah. Di seluruh Teluk, terdapat kekecewaan total terhadap pengaruh Amerika dan kemampuan Amerika Serikat untuk memimpin,” kata Krieg.
Mengutip laporan terbaru yang diterbitkan di media Barat lainnya, Guardian mencatat bahwa Uni Emirat Arab kini telah meninggalkan sikap permusuhannya terhadap Iran dan, bersama Arab Saudi, Qatar, Yordania, Bahrain, Pakistan, Turki, dan Mesir, telah mendukung perjanjian damai dengan Teheran.
Guardian juga menulis, dampak perang melawan Iran telah membuat negara-negara di Kawasan enggan untuk bergabung dengan perjanjian normalisasi dengan Israel yang dikenal sebagai Perjanjian Abraham.
Trump baru-baru ini beberapa kali mendesak negara-negara di Kawasan untuk bergabung dengan perjanjian tersebut. Dalam sebuah pesan pada Kamis kemarin di Truth Social, ia menyeru delapan negara untuk berdamai dengan Israel.
Guardian melaporkan, sebagian besar negara-negara di Kawasan merespons permintaan ini dengan berdiam diri. Islamabad, yang memimpin upaya mediasi antara Teheran dan Washington, mengatakan bahwa perpecahan di dunia Islam hanya menguntungkan Israel.
Surat kabar Inggris tersebut memprediksi, kehadiran AS di Timur Tengah, yang tersebar di lebih dari 10 pangkalan militer, akan tetap ada. Tetapi negara-negara kemungkinan akan beralih ke mitra keamanan lain di Kawasan dan di luarnya.
Seorang profesor ilmu politik di UEA, Abdulkhaliq Abdullah mengatakan, negaranya ingin melihat Iran tanpa rudal dan drone, tanpa pasukan sekutu regional, dan tanpa aktivitas nuklir. Tetapi pada akhirnya, hal ini tidak mungkin tercapai.
