Hamas di Istanbul: Gencatan Senjata Terus Dilanggar Israel, Gaza Butuh Tindakan Nyata Dunia
POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, di saat dunia internasional terus menjual narasi “gencatan senjata”, realitas di Jalur Gaza justru berkata sebaliknya; di mana darah masih mengalir, blokade tetap mencengkeram, dan janji fase kedua dibiarkan membusuk tanpa kepastian. Fakta inilah yang mengemuka dalam pertemuan delegasi senior Hamas dengan Kepala Intelijen Turki, İbrahim Kalın, di Istanbul pada Sabtu 20 Desember lalu.
Dipimpin Pemimpin Hamas di Jalur Gaza, Khalil al-Hayya, delegasi Perlawanan Palestina secara tegas memaparkan bahwa kesepakatan gencatan senjata telah berulang kali diinjak-injak oleh Pendudukan Israel. Sejak Oktober, lebih dari 400 warga Palestina gugur akibat pelanggaran terang-terangan, sementara ribuan lainnya terluka. Angka ini menjadi bukti telanjang bahwa gencatan senjata yang dibanggakan para mediator internasional tidak lebih dari tameng politik untuk melindungi agresi Israel.
Hamas menegaskan komitmennya terhadap kesepakatan, namun menyebut Israel sengaja menunda fase kedua sebagai strategi mempertahankan pendudukan dan tekanan militer. Penarikan pasukan dari zona yang disepakati tak kunjung dilakukan, sementara rekonstruksi Gaza sengaja digantung, seolah kehancuran massal adalah alat tawar-menawar yang sah.
Lebih kejam lagi, penderitaan sipil Gaza dibiarkan memburuk. Memasuki musim dingin, ratusan ribu warga terancam cuaca beku, banjir, dan penyakit akibat hancurnya rumah serta infrastruktur. Hamas menyoroti kebutuhan mendesak akan tenda, karavan, dan alat berat yang merupakan kebutuhan paling dasar untuk bertahan hidup, yang hingga kini masih terhambat oleh blokade Israel. Protokol kemanusiaan pun diingkari, menjadikan bantuan sebagai sandera politik.
Dalam pertemuan itu, peran Turki dipandang krusial, bukan sekadar sebagai mediator, melainkan sebagai kekuatan regional yang mampu menekan berjalannya fase kedua perjanjian. Hamas dan pihak Turki menegaskan pentingnya persatuan nasional Palestina dan keteguhan pada prinsip perjuangan, bukan kompromi yang mengorbankan hak rakyat Palestina atas tanah dan kedaulatannya.
Hamas menyampaikan penghargaan atas dukungan politik dan kemanusiaan Turki, yang dinilai berdiri berseberangan dengan sikap hipokrit banyak negara lain: lantang bicara perdamaian, namun diam saat Israel melanggar kesepakatan dan membunuh warga sipil.
Perlu diingat, fase pertama gencatan senjata mulai berlaku pada 11 Oktober. Namun hingga kini, fase kedua yang mencakup penarikan penuh pasukan Pendudukan dan dimulainya rekonstruksi masih disabotase. Lebih dari 1.100 warga Palestina terluka, Gaza tetap terkepung, dan dunia kembali diuji: terus menjadi penonton, atau menghentikan impunitas Israel yang dibungkus jargon diplomasi.
