Hamas: Tak Ada Masa Depan Gaza Tanpa Penghentian Total Agresi Israel
POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, di tengah bara yang belum padam di Jalur Gaza, Hamas menegaskan satu sikap tegas, bahwa tidak ada pembicaraan tentang masa depan Gaza tanpa penghentian total agresi Israel. Pernyataan ini disampaikan sebagai respons atas pertemuan “Dewan Perdamaian” yang digelar di Washington, dipimpin langsung oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Bagi Hamas, segala langkah terkait Gaza harus berpijak pada satu fondasi utama yaitu penghentian agresi Israel secara menyeluruh, pencabutan blokade yang telah mencekik rakyat Gaza selama bertahun-tahun, serta jaminan penuh atas hak-hak nasional sah rakyat Palestina, termasuk hak atas kebebasan dan penentuan nasib sendiri. Tanpa itu, setiap forum internasional dinilai hanya akan menjadi panggung retorika kosong.
Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan pelanggaran gencatan senjata yang terus berlangsung. Hamas menilai bahwa penyelenggaraan “Dewan Perdamaian” di saat serangan masih terjadi justru menjadi ujian bagi komunitas internasional. Mereka dituntut bukan sekadar berdiskusi, melainkan mengambil langkah konkret dengan memaksa Israel menghentikan agresi, membuka seluruh perbatasan, mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk tanpa syarat, serta segera memulai rekonstruksi wilayah yang luluh lantak akibat perang.
Gerakan Perlawanan Palestina itu juga menyerukan kepada para mediator internasional agar benar-benar memikul tanggung jawabnya. Implementasi kesepakatan harus diawasi secara serius, dan segala upaya untuk menghalangi kewajiban kemanusiaan maupun politik harus dihentikan. Hamas menekankan bahwa stabilitas sejati di Gaza tidak akan lahir dari tekanan sepihak, melainkan dari gencatan senjata permanen yang adil.
Sementara itu, dalam pidato pembukaan forum tersebut, Trump menggambarkan situasi Gaza sebagai “kompleks namun menunjukkan kemajuan yang sangat baik”. Ia mengumumkan komitmen dana sebesar 10 miliar Dolar AS untuk rekonstruksi Gaza, menyebut angka itu kecil dibandingkan biaya perang yang hanya berlangsung dua pekan. Ia bahkan mengeklaim perang telah berakhir sejak gencatan senjata Oktober, meski laporan serangan masih terus mengemuka.
Trump menyatakan stabilitas jangka panjang bergantung pada pelucutan senjata Hamas, dan memperingatkan adanya respons keras jika hal itu tidak dipenuhi. Namun di sisi lain, ia juga mengakui langkah Hamas yang telah mengembalikan jenazah tawanan Israel.
Bagi rakyat Palestina, persoalannya bukan sekadar dana dan janji “harmoni abadi”. Akar krisis, tegas Hamas, adalah pendudukan yang terus berlangsung. Tanpa mengakhiri kebijakan agresif Israel dan memberi ruang bagi rakyat Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri, setiap inisiatif perdamaian berisiko menjadi ilusi yang menutupi luka lama, luka yang hingga kini masih menganga di tanah Gaza.
