Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Hari Ketika Warga Lebanon Bersatu Melawan Israel: Sebuah Refleksi atas Perjuangan dan Pengorbanan

POROS PERLAWANAN – Lebanon tengah menghadapi momen bersejarah yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat—pria, wanita, anak-anak, hingga para lansia. Perjuangan ini bukan sekadar pertarungan fisik, melainkan juga pertarungan ideologi dan emosi yang menyentuh hati banyak orang. Di tengah tekanan konflik dengan Israel, rakyat Lebanon menunjukkan keteguhan hati dan solidaritas yang luar biasa.

Khidr Bahjat: Syahid yang Dikenang

Seorang Komandan drone Hizbullah, Khidr Bahjat, menjadi simbol perlawanan rakyat Lebanon. Selama delapan bulan, keluarganya tidak mengetahui peran pentingnya dalam perang melawan Israel. Mereka hanya tahu bahwa Khidr adalah anggota Hizbullah, seperti banyak pria Lebanon lainnya. Namun, setelah ia gugur sebagai syahid, keluarganya baru mengetahui perannya di balik serangan drone yang efektif terhadap target Israel.

Kesyahidan Khidr meninggalkan luka mendalam bagi keluarganya, terutama bagi saudara perempuannya, Fatimah. Prosesi pemakamannya berlangsung sederhana dan tanpa kehadiran keluarga besar, mengingat situasi yang berbahaya saat itu. Kekhawatiran akan kemungkinan gangguan dari Israel—yang dikenal memusuhi Hizbullah—membuat upacara perpisahan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Fatimah selaku mahasiswa Lebanon yang tinggal di Iran, terpaksa menyaksikan peristiwa ini dari kejauhan. Jarak yang memisahkannya dari Tanah Air tidak memadamkan semangatnya. Bersama teman-temannya, ia berusaha menjadikan tanggal 23 Februari sebagai hari bersejarah yang mengguncang Israel—meskipun hanya melalui gambar-gambar dan pesan yang mereka sebarkan.

Peran Semua Lapisan Masyarakat

Perjuangan melawan Israel tidak lagi terbatas pada kaum pria. Wanita, anak-anak, dan para lansia turut berperan, menciptakan kekuatan kolektif yang mencerminkan keteguhan hati rakyat Lebanon. Sekretaris Jenderal Hizbullah, Shekh Naim Qasim menyatakan bahwa Israel telah “dikendalikan” dan “dikembalikan ke kandangnya”. Bahkan, Israel sendiri mengakui kegagalannya mencapai tujuan-tujuan militer mereka.

Fatimah menekankan pentingnya perang media sebagai bagian dari perjuangan. Propaganda Israel yang berusaha mempertahankan citra kekuatannya harus dilawan dengan narasi yang kuat dan autentik dari rakyat Lebanon. “Hari Minggu bukan hanya hari perpisahan dengan orang yang kita cintai,” ujarnya. “Hari Minggu adalah hari jihad, saat setiap orang—bahkan anak-anak kecil kita—memiliki peran dalam perjuangan ini.”

Keteguhan di Tengah Ancaman

Israel tidak hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga taktik psikologis untuk melemahkan semangat rakyat Lebanon. Pembatalan penerbangan antara Teheran dan Beirut serta ancaman serangan bom menjadi upaya untuk menghalangi kehadiran massa dalam pemakaman Sayyid Hasan Nasrallah. Namun, bukannya takut, ancaman ini justru membakar semangat rakyat Lebanon untuk hadir dalam jumlah yang lebih besar.

Fatimah mengingatkan pada peristiwa 2006, ketika Israel mengancam akan menyerang siapa pun yang menghadiri perayaan kemenangan Hizbullah. Saat itu, Sayyid Hasan Nasrallah justru mengajak rakyat untuk datang, dan mereka pun memenuhi lokasi perayaan tanpa rasa takut. Kini, meskipun banyak rumah di Dahiyeh hancur, penduduknya tetap membuka pintu bagi para peziarah Sayyid. Bahkan, keluarga-keluarga yang hidup dalam kesulitan ekonomi rela mengorbankan tabungan mereka demi menyediakan makanan bagi para tamu.

Solidaritas yang Melampaui Batasan

Perjuangan ini tidak hanya dirasakan di Lebanon, tetapi juga oleh diaspora Lebanon di seluruh dunia. Fatimah dan mahasiswa Lebanon lainnya di Iran aktif dalam perang media, menyebarkan poster dan pesan yang membangkitkan semangat perjuangan. Mereka berkumpul untuk menyaksikan pemakaman, berduka bersama, dan merayakan kemuliaan Tanah Air mereka.

Solidaritas ini pun melampaui batas-batas sektarian. Sunni, Kristen, dan Syiah hidup berdampingan dalam satu rumah, menunggu hari pemakaman tiba. Ini menjadi bukti nyata bahwa perjuangan melawan Israel telah menyatukan rakyat Lebanon, melampaui sekat-sekat agama dan politik.

Kemenangan di Tengah Duka

Di tengah duka yang mendalam, rakyat Lebanon tetap teguh dalam perjuangan mereka. Senyum kemenangan yang terselip di balik air mata serta bendera Hizbullah yang berkibar tinggi menjadi simbol kebenaran yang tak dapat disembunyikan oleh propaganda mana pun. Fatimah dan rakyat Lebanon telah membuktikan bahwa perjuangan mereka bukan semata tentang kekuatan militer, melainkan juga tentang keteguhan hati, solidaritas, dan keyakinan akan kebenaran.

Dalam menghadapi Israel, rakyat Lebanon tidak hanya berjuang demi mempertahankan Tanah Air, tetapi juga demi menunjukkan bahwa kebenaran dan keadilan akan selalu menang—meski harus ditempuh melalui jalan yang penuh pengorbanan.

Sumber: Farsnews Agency

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *