Hasrat Gedung Putih Menguasai Minyak Iran yang Tak Pernah Terwujud
POROS PERLAWANAN – Di balik setiap kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Timur Tengah, faktor minyak dinilai selalu menjadi variabel utama. Bagi banyak analis di Iran, kekayaan energi kawasan, terutama cadangan minyak Iran telah lama menjadi daya tarik yang membentuk kalkulasi geopolitik Washington.
Menurut laporan Kayhan pada Kamis (23/7/2026), keinginan Trump untuk menguasai sumber daya energi kawasan bukanlah gagasan baru. Dalam wawancara televisi dengan Barbara Walters pada akhir 1987, ia mempertanyakan mengapa Amerika Serikat tidak mengambil alih sebagian instalasi minyak Iran di kawasan pesisir sebagai respons terhadap ketegangan di Teluk Persia. Bagi media Iran, pernyataan tersebut mencerminkan cara pandang yang memadukan kepentingan ekonomi dengan proyeksi kekuatan militer, sebuah pendekatan yang dinilai terus mewarnai kebijakan Washington hingga kini.
Pandangan serupa kembali mengemuka dalam konflik terbaru. Trump disebut secara terbuka menyatakan keinginannya untuk menguasai minyak Iran, sebuah pernyataan yang dipandang sebagai penegasan bahwa kepentingan energi tetap menjadi salah satu pertimbangan utama di balik strategi Amerika di kawasan.
Namun, perkembangan dalam dua pekan terakhir justru menghadirkan kenyataan yang bertolak belakang dengan harapan Gedung Putih. Ambisi menguasai jalur dan sumber energi regional dinilai berubah menjadi beban strategis setelah Iran mampu memulihkan kapasitas rudal dan drone dalam waktu singkat serta melancarkan serangan balasan yang memperumit kalkulasi militer Washington.
Di tengah meningkatnya tekanan tersebut, Trump kembali melontarkan ancaman. Ia menyatakan bahwa setiap serangan terhadap kapal di Selat Hormuz akan dibalas dengan serangan terhadap infrastruktur strategis Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik.
Menurut laporan Kayhan, pernyataan tersebut mencerminkan bergesernya dinamika konflik menuju ancaman terhadap infrastruktur vital. Perkembangan itu dinilai berpotensi memperluas eskalasi perang, meningkatkan risiko terhadap stabilitas kawasan, sekaligus memperbesar ancaman terhadap keamanan jalur energi dan perekonomian global.
