Hill: Trump Ancaman Terbesar bagi Keamanan Nasional AS
POROS PERLAWANAN – Mantan jaksa negara bagian New York dan analis politik, Scott Bolden, dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada Minggu 8 Februari di majalah pro-Kongres, The Hill, menyebut Donald Trump sebagai “ancaman paling serius bagi keamanan nasional AS.”
Dilansir Fars, dia menambahkan bahwa tidak ada presiden atau musuh asing AS yang telah melakukan begitu banyak hal untuk “melemahkan kemampuan kita untuk mengantisipasi, mencegah, dan menanggapi serangan dari negara-negara musuh dan teroris.”
Balden juga menyatakan bahwa Trump telah secara serius melemahkan infrastruktur keamanan yang telah melindungi AS dan sekutunya sejak berakhirnya Perang Dunia II.
Menurut analis tersebut, Presiden AS itu telah mengalihkan lembaga federal dari misinya untuk melindungi AS, juga telah menghilangkan ribuan pekerjaan keamanan nasional, termasuk lebih dari 60.000 di Kementerian Perang, sekitar 2.000 di Badan Keamanan Nasional, dan lebih dari 40 persen posisi di Kantor Direktur Intelijen Nasional.
Selain itu, lebih dari 6.400 pengacara dan staf lainnya telah meninggalkan Departemen Kehakiman AS pada tahun 2025 melalui pengunduran diri dan pemecatan.
Menurut artikel tersebut, Trump telah mengganti banyak perwira dan pejabat senior di Angkatan Bersenjata dan posisi keamanan nasional sipil, serta hampir semua orang di FBI dan Departemen Kehakiman yang terlibat dalam penyelidikan dan penuntutan tuduhan kriminalnya.
Bolden menambahkan bahwa Trump telah meminta agen FBI dan petugas penegak hukum lainnya untuk, alih-alih terlibat dalam kegiatan keamanan nasional, bekerja sama dengan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS dan memfasilitasi penangkapan migran ilegal “yang tidak menimbulkan ancaman bagi AS.”
Menurut Bolden, Trump meminta mereka untuk mencari bukti yang tidak ada demi membuktikan kebohongannya tentang kemenangan Biden dalam Pilpres 2020.
Mengacu pada tindakan Washington terhadap sekutu-sekutunya di Eropa, ia menambahkan bahwa Trump telah menciptakan jarak antara AS dan mitra-mitra asingnya dengan “tarif, hinaan, ancaman untuk menarik diri dari NATO, dukungan yang tidak memadai untuk Ukraina, dan seruan untuk mencaplok Greenland dan Kanada.”
Bolden menekankan bahwa hal ini telah mendorong banyak negara untuk mencari hubungan ekonomi dan keamanan yang lebih erat satu sama lain guna mengurangi ketergantungan pada AS.
Sebelum ini, mengutip laporan dari Konferensi Keamanan Munich, Guardian memberitakan bahwa Washington tidak lagi menjadi sekutu yang dapat diandalkan. Media Inggris menyatakan, Eropa harus bertindak lebih berani dan mandiri, serta bersiap untuk konfrontasi ideologis dengan AS yang bergerak menuju “otoritarianisme kompetitif.”
Laporan tersebut menekankan bahwa Pemerintahan kedua Donald Trump bukan hanya tidak berkomitmen pada norma dan nilai demokratis liberal yang bersama-sama dianut, tetapi dengan kecenderungan otoriternya, ia merupakan ancaman bagi tatanan internasional yang mendukung Eropa.
Laporan tersebut menambahkan bahwa penilaian Washington tentang “kemunduran Eropa” juga tercermin dalam dokumen Strategi Keamanan Nasional AS terbaru. Dalam dokumen itu disebutkan bahwa para pemimpin Eropa dituduh mengalami “kemunduran peradaban.” Selain itu, Trump baru-baru ini mengejek kehadiran anggota NATO Eropa dalam perang di Afghanistan; komentar yang dianggap sebagai penghinaan mendalam bagi para pemimpin militer Eropa.
