Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Hizbullah: Partisipasi Aktif dalam Poros Perlawanan Pimpinan Iran, Satu-satunya Cara Gagalkan Agenda Zionis-AS

POROS PERLAWANAN – Dilansir Press TV, gerakan Poros Perlawanan Hizbullah Lebanon menekankan bahwa “partisipasi dalam gerakan Poros Perlawanan yang dipimpin Iran” adalah cara terbaik untuk mengalahkan tren pengkhianatan atas perjuangan Palestina, yang telah membuat banyak negara Kawasan menormalisasi hubungan mereka dengan rezim Israel.

Wakil Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, Sheikh Naim Qassem membuat pernyataan tersebut pada Sabtu, dalam pidatonya di konferensi yang diselenggarakan oleh warga Palestina di Jalur Gaza yang tengah berfokus untuk melawan tren normalisasi.

“Solusinya adalah setiap orang berpartisipasi dalam Poros Perlawanan yang dipimpin oleh Republik Islam itu melawan proyek Zionis-Amerika,” katanya, seperti dikutip dari jaringan televisi al-Manar Lebanon.

“Di dalam Poros Perlawanan, kita semua harus mencoba untuk mendapatkan semua instrumen kekuatan dan persenjataan pada level tertinggi mereka,” kata Sheikh Qassem.

Tahun lalu, AS mulai menengahi pembicaraan antara beberapa negara kawasan dan rezim Israel.

Upaya tersebut membuat Uni Emirat Arab dan Bahrain secara resmi menormalisasi hubungan mereka dengan Tel Aviv pada bulan September. Setelah itu, Sudan dan Maroko mengikutinya.

Sheikh Qassem mengatakan normalisasi dengan Israel sama dengan pengabaian Palestina, yang merupakan perhatian “sentral” dunia Muslim, dan juga berfungsi sebagai “lampu hijau” untuk kebijakan ekspansionis rezim pendudukan dengan melegitimasi “eksistensi berbasis perampasan”.

Gerbong normalisasi dimulai setelah Pemerintahan mantan Presiden AS, Donald Trump meluncurkan rencana yang sangat kontroversial yang diklaim untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina.

Skema tersebut, yang dijuluki “Kesepakatan Abad Ini” oleh para pendukungnya, bagaimanapun, memberikan Israel beberapa konsesi dengan mengorbankan hak-hak dasar Palestina, termasuk mengakui klaim Israel atas wilayah pendudukan dan juga klaimnya atas kota suci Yerusalem (al-Quds) sebagai apa yang mereka sebut “Ibu Kota Israel”.

Semua faksi Palestina dan pendukung regional serta internasional mereka dengan keras menolak skema AS dan normalisasi, menyebut tren itu sebagai “tikaman dari belakang” terhadap perjuangan rakyat Palestina melawan pendudukan dan agresi Israel.

Mengacu pada keberhasilan Palestina dalam menggagalkan plot Amerika, Sheikh Qassem berkata, “Namun, bangsa Palestina berhasil mengalahkan ‘Kesepakatan Abad Ini’ dari dalam Palestina [sendiri].”

Hal ini, tambahnya, menunjukkan bahwa negara-negara Arab mampu memainkan peran penting dalam menghadapi kampanye pemulihan hubungan dengan Israel.

Sheikh Qassem menyatakan bahwa frustrasi atas plot Amerika akan berujung pada kehancuran tren normalisasi.

“Negara-negara yang telah memasuki tren normalisasi dengan rezim Zionis tidak akan menuai hasil apa pun selain penyesalan,” tegas petinggi Hizbullah tersebut.

Perampasan tanah Palestina oleh rezim Israel dan ekspansionismenya telah memunculkan pengelompokan dan gerakan regional yang secara kolektif dikenal sebagai Poros Perlawanan.

Republik Islam adalah kekuatan utama dalam Poros Perlawanan, yang hingga kini terus memberikan dukungan penuh untuk perjuangan Palestina dan kelompok-kelompok yang melawan rezim Israel dan negara-negara pelindungnya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *