Hizbullah Tegaskan Takkan Biarkan Lebanon Tunduk pada Tekanan AS dan Israel
POROS PERLAWANAN – Wakil Ketua Dewan Politik Gerakan Hizbullah Lebanon, Mahmoud Qamati, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan Lebanon tetap berada di bawah pengaruh Amerika Serikat (AS) dan Israel. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah unjuk rasa yang digelar di jalur menuju Bandara Internasional Beirut pada Sabtu malam 15 Februari.
“Kami sama sekali tidak akan menerima Lebanon tunduk pada tekanan rezim Zionis dan AS. Untuk mempertahankan martabat kami, kami telah mengorbankan banyak syuhada. Oleh karena itu, Lebanon harus memiliki kedaulatan yang nyata,” tegas Qamati dalam pidatonya.
Unjuk rasa tersebut diadakan sebagai bentuk protes terhadap pelanggaran kedaulatan Lebanon oleh rezim Zionis dan penolakan terhadap ancaman yang dilancarkan AS serta Israel. Hizbullah sebelumnya telah mengeluarkan seruan kepada warga Lebanon untuk turun ke jalan dan berkumpul di sekitar Bandara Internasional Beirut.
Salah satu isu yang memicu kemarahan publik adalah terdamparnya lebih dari 350 warga Lebanon di Tehran. Mereka seharusnya kembali ke Lebanon menggunakan pesawat milik Republik Islam Iran, namun dua hari sebelumnya, otoritas Lebanon menolak izin pendaratan pesawat tersebut di Bandara Beirut.
Hingga saat ini, masalah warga Lebanon yang terdampar di Iran masih belum terselesaikan. Pemerintah Lebanon dinilai lamban mengambil tindakan untuk menangani situasi ini. Hal ini mendorong Hizbullah untuk mengajak warga Lebanon menyuarakan protes mereka terhadap Pemerintah yang dianggap menyerah pada tekanan asing.
Latar Belakang Penolakan Pendaratan Pesawat Iran
Keputusan otoritas Lebanon untuk mencegah pendaratan pesawat Iran di Bandara Beirut diduga kuat dipengaruhi oleh ancaman dari rezim Zionis. Israel sebelumnya telah mengancam akan menargetkan pesawat tersebut jika mendarat di Beirut. Menanggapi ancaman ini, Pemerintah Lebanon memilih untuk membatalkan izin pendaratan, langkah yang kemudian menuai kritik keras dari berbagai pihak.
Ancaman Israel ini tidak hanya memicu kemarahan warga Lebanon, tetapi juga dianggap sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara. Para pengunjuk rasa menuntut Pemerintah Lebanon untuk bersikap tegas dan tidak menyerah pada tekanan asing. Mereka menegaskan bahwa perlawanan terhadap Israel dan kebijakan permusuhannya harus menjadi ujian pertama bagi Kabinet baru Lebanon.
Pernyataan Tegas Hizbullah
Dalam pidatonya, Qamati juga menyoroti keputusan Pemerintah Lebanon yang mencegah pendaratan pesawat Iran. “Kebijakan ini adalah penghinaan terhadap Lebanon dan kedaulatan negara kami. Ini juga merupakan pelecehan terhadap lembaga-lembaga keamanan kami,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Mengapa pemimpin kami harus menyerah pada tekanan AS dan Israel? Kami sebagai bangsa yang berdaulat tidak akan membiarkan Lebanon tetap berada di bawah kendali asing.”
Qamati juga menyampaikan pesan tegas kepada Pemerintah Lebanon. “Jika kalian memilih untuk menyerah, kami sebagai rakyat yang mencintai kemerdekaan tidak akan pernah menyerah. Kami akan terus melawan segala bentuk penghinaan dan ancaman, termasuk dari Israel,” tegasnya.
Unjuk rasa ini menjadi bukti kuatnya penolakan rakyat Lebanon terhadap campur tangan asing dan tekad mereka untuk mempertahankan kedaulatan negara.
