Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Ibarat Racun Dikemas Madu, Akal-akalan ‘Inisiatif Damai’ Saudi Jadikan Riyadh Penentu Hidup-Mati Rakyat Yaman

Ibarat Racun Dikemas Madu, Akal-akalan 'Inisiatif Damai' Saudi Jadikan Riyadh Penentu Hidup-Mati Rakyat Yaman

POROS PERLAWANAN – Beberapa hari lalu, Menlu Saudi Faisal bin Farhan mengabarkan sebuah proposal dari Riyadh untuk mengakhiri krisis di Yaman. Bin Farhan mengklaim, berdasarkan proposal ini, bandara Sanaa akan dibuka kembali, meski terbatas. Blokade atas pelabuhan Hudaydah juga akan dikurangi. Pemasukan dari pelabuhan itu juga akan dipindahkan ke sebuah rekening bersama di Bank Pusat Yaman.

Dilansir al-Alam, dalam respons pertama terhadap tawaran ini, Ansharullah melalui Jubirnya, Muhammad Abdussalam menyatakan, ”Proposal ini tidak mengandung hal baru.”

“Saudi sendiri adalah bagian dari agresi ke Yaman. Proposal mana pun yang mengabaikan fakta bahwa Yaman adalah korban agresi dan blokade, bukan proposal serius dan tidak memiliki hal yang baru”, cuit Abdussalam.

Bahwa Ansharullah menyatakan “tak ada hal baru dalam proposal Saudi”, ini bukanlah sebuah kesimpulan terburu-buru. Proposal ini secara jelas memberi hak kepada Saudi untuk mengontrol penerbangan dan tujuan penerbangan di bandara Sanaa, juga mengawasi aktivitas di pelabuhan Hudaydah.

Dengan kata lain, nadi kehidupan rakyat Yaman akan ada di tangan Saudi dan Riyadh akan memaksakan kehendaknya atas mereka. Ini sama saja dengan mempertahankan blokade atas Yaman. Namun kali ini dikemas dalam “UU AS”.

Hal lain adalah, jika pemasukan dari pajak dan cukai pelabuhan Hudaydah dimasukkan ke rekening bersama, ini berarti bahwa Rezim Saudi bisa mengawasi sepenuhnya pemasukan pelabuhan tersebut. Dalam situasi semacam ini, Sanaa tidak akan tahu berapa jumlah uang yang dimasukkan ke rekening tersebut, berapa jumlah anggota dalam rekening bersama itu, atau bagaimana ia akan mendapatkan bagiannya. Pendek kata, kondisi rekening ini akan sama dengan kondisi bandara Sanaa dan pelabuhan Hudaydah.

Semoga saja Rezim Saudi menawarkan proposal ini karena mereka sudah sadar bahwa penggunaan kekuatan militer untuk memaksakan kehendak atas bangsa lain adalah sebuah kekeliruan mematikan, dan bahwa uang bukanlah senjata yang efektif untuk membuat pihak lain tunduk.

Tags:

Fatal error: Allowed memory size of 134217728 bytes exhausted (tried to allocate 20480 bytes) in /www/wwwroot/porosperlawanan.com/public_html/wp-includes/wp-db.php on line 2135