Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Imam Ali Khamenei: Amerika Musuhi Iran Bukan Karena Slogan ‘Mampus Amerika!’

Pemimpin Tertinggi Iran: Seluruh Tindakan Permusuhan AS-Zionis Takkan Dibiarkan Tanpa Balasan Setimpal

POROS PERLAWANAN – Pada Minggu 18 Februari, dalam pertemuan dengan masyarakat di Provinsi Azerbaijan Timur, Pemimpin Tertinggi Iran, Imam Ali Khamenei menyoroti ancaman perang lunak sebagai tantangan utama yang dihadapi Iran saat ini. Dalam pidatonya di kota Tabriz, beliau menegaskan bahwa perang lunak lebih berbahaya dibanding ancaman fisik karena bertujuan melemahkan ketahanan nasional melalui manipulasi opini publik dan propaganda yang menyesatkan.

Perang Lunak sebagai Strategi Musuh

Menurut Imam Khamenei, Iran telah mencapai tingkat pertahanan yang tinggi terhadap ancaman fisik, sehingga musuh kini mengalihkan strateginya ke perang lunak.

“Hari ini, alhamdulillah, kita, teman-teman kita, dan bahkan musuh kita tahu bahwa Iran Islam berada pada tingkat tinggi dalam menghadapi ancaman keras,” ujarnya.

Oleh karena itu, serangan terhadap Iran saat ini lebih banyak dilakukan melalui cara non-militer, seperti penyebaran disinformasi, penciptaan perpecahan internal, dan upaya menanamkan keraguan terhadap nilai-nilai Revolusi.

Beliau menekankan bahwa tujuan utama perang lunak adalah menciptakan ketidakstabilan dalam negeri dengan mengacaukan opini publik dan menanamkan keraguan di benak rakyat.

“Musuh memahami bahwa untuk mengalahkan bangsa Iran, mereka harus menciptakan masalah dari dalam, melemahkan semangat rakyat, serta menanamkan keraguan terhadap prinsip-prinsip Revolusi Islam,” jelasnya.

Dampak dan Bahaya Perang Lunak

Imam Khamenei mengungkapkan bahwa ancaman perang lunak dapat lebih merusak dibanding ancaman fisik. Jika dalam perang fisik dampaknya dapat diatasi dengan strategi militer, maka dalam perang lunak, dampaknya lebih sulit dikendalikan karena menyasar kesadaran dan mentalitas masyarakat.

“Ancaman lunak berarti membuat orang ragu dalam melawan musuh. Mereka berusaha menanamkan perpecahan dan kebingungan di antara rakyat,” paparnya.

Namun, beliau menilai bahwa hingga saat ini upaya tersebut belum membuahkan hasil. Partisipasi besar masyarakat dalam pawai 22 Bahman (Senin, 10 Februari 2025) menjadi bukti bahwa bangsa Iran tetap kokoh dalam mempertahankan Revolusi.

“Setelah lebih dari empat puluh tahun sejak kemenangan Revolusi, rakyat tetap turun ke jalan dalam jumlah besar untuk merayakan hari Kemenangan Revolusi mereka,” ungkapnya.

Strategi Melawan Perang Lunak

Imam Khamenei menegaskan bahwa melawan perang lunak memerlukan pendekatan yang berbeda dibanding melawan ancaman fisik. Berbagai pihak, termasuk media, akademisi, seniman, dan pemuda yang aktif di dunia maya, memiliki tanggung jawab untuk melawan propaganda musuh dengan menciptakan narasi yang benar serta membangun kesadaran masyarakat.

“Kita harus memahami di mana musuh berusaha menekan dan memengaruhi opini publik. Kita harus menutup celah itu dengan konten yang benar dan membangun,” ujarnya.

Beliau menekankan pentingnya pendidikan ideologis dan pemahaman terhadap nilai-nilai Revolusi Islam sebagai langkah utama dalam menghadapi perang lunak. Para pemuda harus memahami konsep-konsep Revolusi serta mengenal ajaran Imam Khomeini agar tetap kokoh dalam mempertahankan identitas nasional Iran.

“Revolusi kita adalah perjuangan antara cahaya dan kegelapan, antara kebenaran dan kebatilan. Kita harus terus memperjuangkannya,” tegasnya.

Menjaga Ketahanan Nasional Melalui Kesadaran Kolektif

Dalam pidatonya, Imam Khamenei juga mengkritik kebijakan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat dan jaringan Zionisme global, yang terus berupaya melemahkan Iran melalui perang lunak. Menurutnya, permusuhan terhadap Iran bukanlah karena slogan “Mampus Amerika!”, melainkan karena Iran telah berhasil membebaskan diri dari belenggu penjajahan dan hegemoni asing.

“Permusuhan terhadap bangsa Iran terjadi karena kita tidak mau tunduk pada tekanan mereka. Mereka terbiasa memaksakan kehendak mereka kepada bangsa lain,” ujarnya.

Beliau menambahkan bahwa kekuatan global terbiasa mengontrol negara-negara lain, baik dalam aspek ekonomi, politik, maupun budaya, dan Iran adalah salah satu dari sedikit negara yang mampu menolak dominasi tersebut.

Pesan kepada Generasi Muda

Di akhir pidatonya, Imam Khamenei menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda Iran, terutama mereka yang hadir di Azerbaijan Timur dan Tabriz. Beliau menekankan bahwa perlawanan terhadap perang lunak bukan hanya tugas Pemerintah, melainkan juga tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, terutama pemuda yang menjadi sasaran utama propaganda musuh.

“Tanggung jawab kalian hari ini adalah mempertahankan semangat perjuangan ini, memperkuat gerakan ini, serta terus maju dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh Revolusi,” pesannya.

Beliau juga mendoakan kesejahteraan bagi masyarakat Tabriz dan seluruh rakyat Azerbaijan Timur.

Pidato Imam Khamenei di Tabriz menyoroti perang lunak sebagai ancaman utama yang harus dihadapi oleh Iran saat ini. Serangan berbasis informasi, propaganda, dan manipulasi psikologis telah menjadi strategi utama musuh dalam mencoba melemahkan Iran dari dalam.

Oleh karena itu, melawan perang lunak tidak hanya bergantung pada pertahanan negara secara militer, tetapi juga pada upaya kolektif dalam memperkuat kesadaran ideologis, membangun narasi yang benar, serta meningkatkan ketahanan nasional. Dengan kepemimpinan yang kuat dan partisipasi aktif rakyat, Iran berusaha mempertahankan identitas serta kedaulatannya di tengah tekanan global yang terus meningkat.

Tags: