Imam Khomeini: Pengobar Abadi Semangat Bela Palestina di Hati Umat Islam
POROS PERLAWANAN — Dalam memperingati wafatnya Imam Khomeini, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qasim menegaskan bahwa “Iran revolusioner, di bawah kepemimpinan Imam Khomeini, berdiri tegak di barisan Poros Perlawanan demi membebaskan Palestina dan Al-Quds Suci”.
Pemimpin Hizbullah itu menekankan bahwa umat Islam “kini disinari cahaya murni Islam Muhammad, sebagaimana diwujudkan oleh Imam Khomeini melalui proyek revolusionernya”.
Syekh Qasim menambahkan: “Almarhum Imam mengejawantahkan nilai-nilai keimanan dan menolak kezaliman, penjajahan, serta ketundukan.” Prinsip-prinsip ini, menurutnya, terus menjadi mercusuar bagi Gerakan Perlawanan dan pembebasan di seluruh Asia Barat.
Sekjen Hizbullah itu melanjutkan: “Dengan kemenangan hak atas batil, kita merasakan harapan setelah pemimpin Ilahi ini mewujudkan perubahan historis: mengubah Iran dari rezim Syah boneka Amerika menjadi Republik Islam yang merdeka dan bermartabat, berpihak pada kaum tertindas di seluruh dunia.”
Sebelum kemenangan Revolusi Islam pada Februari 1979, Iran di bawah kekuasaan Syah Mohammad Reza Pahlavi merupakan sekutu proyek Amerika-Israel dan menjalin hubungan paling erat dengan entitas Zionis.
Namun, sejak awal gerakannya pada 1963, Imam Khomeini telah menentang Syah dan secara konsisten menyatakan dukungan mutlak bagi perjuangan Palestina dalam membebaskan seluruh Tanah Air mereka, dari sungai hingga laut.
Pada 1968, Imam Khomeini mengeluarkan fatwa terkenalnya yang memerintahkan pengalokasian dana khumus dan zakat untuk mendukung perlawanan Palestina.
Sebelum Revolusi menang, Gerakan Amal pimpinan Syahid Sayyid Musa al-Sadr melindungi puluhan revolusioner Iran dan mempererat hubungan antara tokoh-tokoh Perlawanan Palestina dan pejuang Revolusi Islam.
Tak lama setelah kemenangan Revolusi Imam Khomeini, slogan “Hari Ini Iran, Esok Palestina” menggema dengan penuh semangat.
Imam Khomeini mengambil langkah bersejarah, menutup kedutaan entitas Zionis dan menggantinya menjadi Kedutaan Palestina. Imam juga menetapkan Jumat terakhir bulan suci Ramadhan sebagai “Hari Quds Internasional”.
Tokoh pertama yang mengunjungi Republik Islam Iran pasca-Revolusi adalah mendiang Pemimpin Palestina, Yasser Arafat. Kunjungan ini memicu perubahan strategis besar dalam konflik dengan musuh Zionis, terlebih setelah Mesir menandatangani Perjanjian Camp David pada 1978.
Akibat dukungan besar Imam Khomeini terhadap perjuangan Palestina, Iran menjadi target berbagai konspirasi untuk menggulingkan Pemerintahan Islam, termasuk operasi militer gagal AS “Eagle Claw”, pengobaran konflik internal, serta invasi rezim Baath Irak ke Iran yang disertai kampanye etno-sektarian di media-media Arab.
Meski demikian, usai invasi Israel ke Lebanon pada 1982, Imam Khomeini mengirimkan pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk mendukung Gerakan Perlawanan di Lebanon. Langkah ini menjadi awal dari kelahiran Hizbullah.
Sekjen Hizbullah pada masa itu, Syahid Sayyid Hasan Nasrallah menuturkan: “Sembilan orang diutus ke Republik Islam untuk menemui Imam Khomeini. Mereka bertanya: ‘Apa misi kami?’ Sang Imam menjawab: ‘Tugas kalian adalah melawan, meski kemampuan terbatas dan jumlah sedikit. Mulailah dari nol… Bertawakallah pada Allah. Jangan menunggu bantuan siapa pun di dunia. Andalkan diri kalian dan yakinlah bahwa Allah adalah penolongmu. Aku melihat kemenangan terukir di dahimu’.”
Syahid Sayyid Fouad Shukr juga mengenang: “Pada 6 Juni 1982, invasi darat Israel dimulai. Kami memperkirakan tujuan dan skalanya, dan sadar bahwa peristiwa ini berbeda dari sebelumnya. Di Lebanon terjadi perdebatan sengit tentang kelayakan dan biaya perlawanan. Pilihan kami jelas: berpegang pada petunjuk Imam Khomeini dan yakin bahwa perlawanan adalah satu-satunya jalan.”
Ia menambahkan: “Kami kumpulkan para pemuda di masjid dan berkata bahwa musuh telah mencapai Khaldeh, pinggiran Beirut. Siapa yang siap syahid, bersiaplah bertempur sekarang. Setelah baku tembak, saat jenazah tentara Israel dikumpulkan seperti sampah, tempat itu dipenuhi wartawan. Mereka bertanya: ‘Kalian siapa?’ Kujawab: ‘Kami para Khomeinis!’ Seorang wartawan terkejut: ‘Baru dengar istilah itu.’ Kukatakan: ‘Mulai sekarang, kalian akan sering mendengarnya’.”
Meski ada posisi menyedihkan dari sebagian elemen Fatah yang cenderung pro-Israel, Imam Khomeini tidak menghentikan dukungannya terhadap rakyat Palestina. Ia justru mendorong lahirnya Konferensi Pendukung Intifadah Palestina.
Imam Khomeini juga mendirikan kantor perlawanan Palestina, Lebanon, dan Arab yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya Pasukan Quds di bawah IRGC.
Dukungan beliau tidak pernah dikaitkan dengan kepentingan pribadi, tidak dibatasi oleh perhitungan politik, sektarian, doktrinal, atau ideologis.
Lebih dari itu, Imam Khomeini turut memberikan bantuan kemanusiaan, mendukung anak-anak yatim dan keluarga para syuhada, serta merawat para pejuang Palestina yang terluka.
Syahid Sayyid Hasan Nasrallah mengenang: “Dua bulan sebelum wafat, Imam Khomeini jatuh sakit dan jarang menerima tamu. Namun dengan senyum lebar, beliau berkata kepadaku: ‘Sampaikan kepada seluruh saudara di Hizbullah untuk tidak khawatir. Aku bersamamu, dan para saudara di Republik Islam semua mendukungmu. Kami akan selalu berada di sisimu’.”
Pascawafatnya Imam Khomeini, Iran mengonsolidasikan pendekatannya dalam kebijakan luar negeri yang tegas dan kokoh. Dukungan Republik Islam terhadap Palestina dan Poros Perlawanan bersumber dari keyakinan, pendekatan, dan ideologi yang mengakar kuat.
Sementara Revolusi Islam yang diwariskan Imam Khomeini terus menjaga hak dan prinsip Palestina, banyak rezim lain justru berlomba-lomba menormalisasi hubungan dengan musuh Zionis. [PP/MT]
