Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Inspektur Vijay dan Ancaman Trump yang Menjadi Ritual Kebohongan

Kekuatan-kekuatan Menengah Dunia Mencari Cara untuk Era Pasca-AS

POROS PERLAWANAN — Inspektur Vijay punya cara sederhana untuk membedakan pidato kenegaraan dengan pertunjukan komedi. Vijay melihat apakah sang pembicara menjelaskan realitas, atau menjualnya. Dalam politik modern, yang paling laris tetap barang lama, yaitu ketakutan yang dikemas sebagai keberanian.

Sore itu, televisi di kantor memutar Donald Trump. Pencahayaan studio membuat wajahnya tampak mengilap, seperti produk yang selalu siap dipasarkan ulang. Trump berbicara seperti orang yang menganggap dunia panggung pribadi, dan semua negara wajib menjadi figuran.

“Jika Iran tidak segera datang ke meja perundingan, serangan berikutnya akan lebih buruk dari Palu Tengah Malam!”

Vijay tidak terpancing emosi. Ia menatap layar dengan ekspresi seorang penyidik yang menyaksikan tersangka mengulang kebiasaan lama, semakin besar klaim, semakin percaya diri penyampaiannya. “Bukan ancaman,” gumamnya singkat. “Itu trailer.”

Dari sinilah perang modern sering mengambil bentuk yang lebih ganjil. Bukan hanya melalui logistik, senjata, dan pasukan, melainkan juga lewat kalimat bualan yang diproduksi secara massal. Ancaman menjadi bagian dari strategi citra, sangat cepat, murah, dan mudah diulang. Namun citra akan segera rapuh, terutama ketika bertabrakan dengan fakta.

Operasi yang disebut semegah dongeng, “Palu Tengah Malam”, menurut penilaian awal, tidak menyebabkan kerusakan serius pada fasilitas nuklir Iran. Namanya terdengar seperti merek alat pertukangan yang dipromosikan larut malam, lalu disulap menjadi legenda militer. Ketika hasilnya tidak sefantastis narasinya, Trump melakukan manuver yang lazim: menaikkan volume, menambah drama, memproduksi ancaman baru.

Pada saat yang sama, laporan dari jalur diplomatik memberi nada yang berbeda. Trump, menurut sejumlah pemberitaan, menyampaikan pesan melalui Emir Qatar agar Iran tidak membalas. Di depan kamera tampil sebagai penakluk, di belakang panggung terlihat seperti orang yang baru sadar panggung berdiri di atas kabel listrik.

Balasan tetap terjadi. Pangkalan udara Al-Udeid menjadi sasaran serangan rudal. Trump, yang biasanya menjadikan amuk sebagai ritual politik, kali ini menahan diri. Ada jenis marah yang tidak boleh keluar ke publik, sebab akan membuka fakta sederhana: kemarahan tanpa kuasa, hanya kebisingan.

Sesudah itu, ancaman berikutnya datang lebih panjang dan lebih teatrikal. Trump menyinggung bahwa ratusan rudal presisi Iran dengan hulu ledak berat telah diarahkan ke pangkalan-pangkalan Amerika di wilayah ini, beberapa di luar wilayah, serta kapal-kapal Amerika di Kawasan. Armada Kelima di perairan Bahrain ikut masuk daftar, seolah perang adalah daftar belanja yang cukup diberi tanda centang.

Lalu muncul kalimat yang sengaja dibuat untuk mengguncang, bahwa “Selat Hormuz akan ditutup bagi kapal-kapal Amerika atau yang mengangkut barang Amerika”.

Di bagian ini Vijay biasanya tertawa pendek. Selat Hormuz tidak punya kesetiaan pada partai politik mana pun. Air asin tidak punya kartu pemilih. Selat itu hanya mengenal arus dan sumbu. Siapa pun yang menyalakan sumbu harus siap dengan akibat, termasuk akibat yang tidak bisa dipentaskan sebagai kemenangan.

Ada dua hal yang, dalam logika perang nyata, tidak mudah dipastikan oleh pidato mana pun. Pertama, lokasi ranjau laut dan persenjataan baru Iran. Detail kecil yang sering menentukan apakah sebuah operasi berakhir sebagai rencana, atau pemakaman. Kedua, hal yang lebih mengerikan adalah, bila tembakan pertama dilepas, penghentian tidak lagi mudah. Trump harus menerima kenyataan prajuritnya pulang dalam keadaan terbaring horizontal. Kepulangan tanpa pidato, tanpa selebrasi, hanya peti dan statistik.

Di titik ini Vijay justru semakin tenang. Kesombongan selalu punya pola. Bukan ancaman yang mengejutkan, melainkan cara ancaman dipakai untuk menipu diri sendiri.

Menutup analisisnya, Vijay memakai parabel sederhana.

Seorang pria memasukkan jarinya ke stopkontak listrik. Seketika tubuhnya terpental dan tewas. Orang-orang bertanya: apakah akalnya tidak sampai bahwa tindakan itu berbahaya dan mematikan? Jawabannya yang menyakitkan adalah, bahwa peringatan sudah diberikan. Namun pria itu tetap bersikeras, katanya hanya ingin melihat bukti kebenaran tulisan peringatannya dengan mata kepalanya sendiri.

Tulisan itu berbunyi jelas: “Awas strum!”

Di situlah tragedi modern. Tidak semua orang membaca peringatan untuk menghindari bahaya. Sebagian membacanya sebagai undangan. Mereka tidak ingin selamat, kadang mereka ingin menang, bahkan terhadap hukum alam.

Trump, bagi Inspektur Vijay, bukan orang yang tidak melihat tanda bahaya. Trump hanya percaya tanda bahaya itu dibuat untuk orang lain. Sedangkan dunia, seperti stopkontak, tidak pernah peduli siapa yang merasa kebal.

Tags: