Iran Dukung Paus Leo XIV Usai Dihina Trump, Tegaskan Dimensi Moral Konflik
POROS PERLAWANAN — Iran menyatakan dukungan kepada Paus Leo XIV setelah serangan verbal Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang menyoroti ketegangan antara kekuatan politik dan otoritas keagamaan di tengah perang yang dipaksakan AS-Israel terhadap Iran.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian pada Selasa 14 April mengecam pernyataan Trump terhadap Paus Leo XIV dan menyebutnya sebagai bentuk ketidakhormatan terhadap figur suci serta nilai keagamaan yang menjunjung perdamaian. Ia menegaskan sikap tersebut mewakili pandangan publik Iran sekaligus menyampaikan dukungan kepada Pemimpin Gereja Katolik itu.
Ketegangan meningkat setelah Donald Trump secara terbuka mengkritik Paus melalui media sosial dan pernyataan kepada wartawan. Trump menyebut Paus “lemah terhadap kejahatan” dan menilai pandangannya merugikan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Merespons hal itu, Paus Leo XIV mengambil posisi terukur. Dalam pernyataan kepada jurnalis saat penerbangan menuju Aljazair, ia menegaskan tidak akan terlibat polemik terbuka, namun tetap konsisten menyerukan perdamaian dan menolak eskalasi konflik. Ia juga menyatakan tidak merasa gentar serta menilai ancaman terhadap Iran sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima.
Dukungan dari Teheran meluas ke berbagai lini. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut sikap Paus sebagai inspirasi bagi mereka yang menolak diam terhadap korban sipil. Perwakilan komunitas Kristen di Iran, termasuk Assyria, Chaldea, dan Armenia, juga mengecam kritik kasar Trump terhadap Paus sebagai serangan terhadap nilai kemanusiaan dan simbol perdamaian.
Perkembangan ini mencerminkan adanya titik temu lintas agama dalam isu kemanusiaan, sekaligus menunjukkan bagaimana figur keagamaan memainkan peran yang semakin penting dalam membentuk persepsi global.
Di tengah hubungan yang tetap tegang antara Teheran dan Washington, polemik ini menegaskan bahwa konflik tidak hanya berlangsung di ranah militer dan diplomasi, tetapi juga pada perebutan perebutan legitimasi moral dalam skala global.
