Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Iran Mengunci Barisan Perlawanan: Siap Tempur Total Hadapi Agresi Israel–AS dan Kebohongan Global

POROS PERLAWANAN – Dilansir Press TV, Republik Islam Iran kembali menegaskan sikap tanpa kompromi di tengah eskalasi konflik Asia Barat yang dipicu agresi rezim Zionis dan perlindungan penuh Amerika Serikat. Teheran menolak segala wacana “pembicaraan” yang lahir dari ancaman dan tekanan, sembari menegaskan bahwa Angkatan Bersenjata Iran berada pada kesiapan penuh untuk mempertahankan kedaulatan nasional dan martabat bangsa. Di balik hiruk-pikuk propaganda Barat, Iran menilai poros agresor tengah berupaya menutupi kejahatan besar mereka, termasuk genosida terbuka terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani Baghaei menyatakan bahwa perang media, disinformasi, dan tudingan tak berdasar tidak akan melemahkan tekad nasional. “Bangsa Iran, angkatan bersenjata, dan seluruh lembaga negara tidak akan terdistraksi oleh kampanye jahat ini. Kami fokus pada tugas utama yaitu membela negara dan rakyat,” tegasnya. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi bantahan atas narasi Barat yang berusaha menggambarkan Iran sebagai pihak agresif, padahal fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya.

Krisis ini mencapai titik didih sejak 13 Juni 2025, ketika Israel melancarkan serangan langsung ke wilayah Iran. Serangan tersebut menewaskan sejumlah komandan militer senior, ilmuwan nuklir, serta warga sipil. Tindakan ini oleh Teheran disebut sebagai perang terang-terangan tanpa dasar hukum maupun moral. Alih-alih meredam eskalasi, Amerika Serikat justru memperluas konflik dengan membombardir tiga fasilitas nuklir Iran. Langkah ini dipandang sebagai pelanggaran brutal terhadap Piagam PBB, hukum internasional, dan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), sekaligus menelanjangi standar ganda Washington dalam isu nuklir global.

Iran tidak tinggal diam. Dalam operasi balasan yang terukur dan strategis, Angkatan Bersenjata Iran menargetkan instalasi vital di wilayah pendudukan Palestina serta pangkalan udara al-Udeid di Qatar, simbol kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan. Pada 24 Juni 2025, Teheran menyatakan bahwa rangkaian serangan balasan tersebut berhasil memaksa penghentian agresi ilegal Israel dan AS. Pesannya jelas: Iran tidak mencari perang, tetapi siap membalas setiap serangan dengan kekuatan penuh.

Baghaei juga mengingatkan dunia akan rekam jejak panjang Israel dalam merekayasa “operasi bendera palsu”, manipulasi intelijen, dan kebohongan sistematis demi membenarkan kejahatannya. Menurutnya, rezim Zionis tidak segan menggunakan cara-cara tidak manusiawi untuk memajukan agenda politik dan militernya. Karena itu, Iran menyerukan agar praktik-praktik kotor tersebut dibongkar dan informasi yang benar tentang kejahatan Israel disebarluaskan secara luas.

Tudingan terbaru Israel yang mencoba mengaitkan Iran dengan pembunuhan profesor fisika nuklir MIT, Nuno F. G. Loureiro, juga ditolak mentah-mentah. Baghaei menilai tuduhan itu sebagai refleksi paranoia rezim Zionis yang terbiasa menuding pihak lain, mengingat sejarah panjang mereka dalam pembunuhan dan teror lintas negara. Fakta menunjukkan bahwa hingga kini tidak ada bukti yang menghubungkan kasus tersebut dengan Iran, dan bahkan otoritas Amerika Serikat pun tidak menguatkan klaim Israel.

Dalam isu terorisme, Iran secara terbuka menunjuk Amerika Serikat dan Israel sebagai aktor utama di balik kebangkitan kembali kelompok teroris Daesh. Serangan berulang Israel ke Suriah dan upaya sistematis untuk memecah-belah negara tersebut dinilai telah menciptakan kondisi ideal bagi reproduksi terorisme. “Kebijakan sembrono ini memiliki konsekuensi nyata bagi keamanan kawasan dan dunia,” tegas Baghaei.

Lebih jauh, Iran menyoroti fakta bahwa Israel selama puluhan tahun telah membebani Amerika Serikat dengan biaya politik, ekonomi, dan reputasi yang sangat besar. Dukungan tanpa syarat Washington terhadap kejahatan Tel Aviv telah menyeret AS ke dalam pusaran konflik tanpa akhir dengan negara-negara kawasan. Namun, Baghaei menekankan bahwa kesadaran publik di Amerika Serikat dan Barat mulai tumbuh, melihat bagaimana kepentingan mereka dikorbankan demi melanggengkan agresi rezim Zionis.

Dengan sikap ini, Iran menegaskan posisinya di poros perlawanan: tidak tunduk pada intimidasi, tidak terjebak propaganda, dan tidak ragu menghadapi agresi. Di tengah kebisuan banyak negara terhadap genosida dan kejahatan perang, Teheran memilih berdiri tegak, mengunci barisan, dan menyatakan bahwa pertahanan bangsa bukan bahan tawar-menawar.

 

 

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *