Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Iran Tinjau Proposal AS, Tegaskan Negosiasi Bukan Alat Tekanan

POROS PERLAWANAN — Tasnim News Agency pada Kamis, (7/5/26), melaporkan bahwa Iran masih meninjau proposal terbaru Amerika Serikat terkait kemungkinan kesepakatan untuk mengakhiri konflik dan meredakan ketegangan di kawasan. Teheran menegaskan bahwa negosiasi tidak dapat dijalankan melalui tekanan, ancaman, maupun pemaksaan politik.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan proposal Washington masih dalam proses evaluasi dan respons resmi Iran akan disampaikan melalui mediator Pakistan setelah peninjauan selesai dilakukan.

“Proposal Amerika Serikat masih sedang dikaji Iran, dan setelah Teheran menyelesaikan pandangannya, tanggapan akan disampaikan kepada pihak Pakistan,” kata Baghaei dalam wawancara dengan kantor berita ISNA, Rabu.

Dalam pernyataan terpisah di platform X, Baghaei menegaskan bahwa negosiasi mensyaratkan itikad baik, bukan tekanan sepihak. Mengutip putusan Mahkamah Internasional tahun 2011, Iran menyatakan proses diplomasi harus bertujuan menyelesaikan sengketa secara nyata.

“Negosiasi membutuhkan itikad baik. Negosiasi bukan perselisihan, bukan diktat, bukan penipuan, bukan pemerasan, dan bukan paksaan,” tulisnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan meningkatnya ketidakpercayaan Teheran terhadap pendekatan Washington di tengah pembicaraan yang masih rapuh. Iran berulang kali menuding Gedung Putih lebih berupaya memaksakan syarat dibanding membangun proses diplomasi yang setara.

Sumber yang mengetahui proses negosiasi mengatakan kepada Tasnim News Agency bahwa Iran belum memberikan jawaban resmi atas proposal terbaru AS, meski media Amerika menyebut kedua pihak semakin dekat menuju kesepakatan awal.

Menurut sumber tersebut, dokumen yang dikirim Washington sebelum operasi militer AS di Teluk Persia dalam proyek yang disebut “Project Freedom” memuat sejumlah klausul yang dianggap tidak dapat diterima oleh Teheran.

Sumber yang sama menilai pemberitaan media Amerika saat ini bertujuan membenarkan langkah mundur Presiden AS Donald Trump dari operasi yang dinilai provokatif.

“Mereka seharusnya tidak pernah memulai tindakan itu sejak awal,” kata sumber tersebut.

Iran juga mengklaim telah lebih dulu mengirim proposal berisi 14 poin melalui mediator Pakistan sebelum Amerika Serikat menyerahkan rancangan versinya sendiri. Namun proses tersebut disebut terganggu setelah Washington meluncurkan operasi militer baru di Teluk Persia.

Menurut sumber Iran, pengalaman seharusnya menunjukkan bahwa bahasa ancaman dan tekanan tidak efektif terhadap Republik Islam Iran, bahkan justru memperburuk situasi bagi Amerika Serikat dan sekutunya.

Ketegangan diplomatik itu berlangsung bersamaan dengan berlanjutnya blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran. Teheran menilai langkah tersebut ilegal dan melanggar gencatan senjata rapuh yang dimediasi Pakistan pada awal April lalu.

Pernyataan Baghaei mempertegas posisi Iran bahwa pembicaraan baru hanya mungkin dilakukan apabila Washington menghentikan apa yang disebut Teheran sebagai pesan kontradiktif, perilaku tidak konsisten, dan tindakan yang tidak dapat diterima.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *