Israel Diambang Ancaman Lebih Kompleks dari 7 Oktober dan Serangan Iran
POROS PERLAWANAN – Peringatan keras kembali datang dari jantung establishment Militer Israel. Mantan Komandan Angkatan Udara dan Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Israel, Amir Eshel mengakui bahwa Rezim Zionis memasuki fase ancaman strategis yang jauh lebih berat daripada kejadian 7 Oktober maupun serangan Iran yang telah mengguncang arsitektur keamanan Israel dalam dua tahun terakhir.
Dilansir oleh Kayhan, pada Kamis 4 Desember, berbicara dalam konferensi teknologi pertahanan di Universitas Tel Aviv, Eshel menilai bahwa 7 Oktober bukan puncak ancaman, melainkan “menu percobaan” yang mengungkapkan kerentanan mendasar Israel.
Pengakuan ini, datang dari sosok yang selama ini membentuk kebijakan pertahanan Israel, memperlihatkan bahwa krisis kepercayaan internal tidak lagi dapat ditutupi dengan retorika keunggulan Militer.
Eshel menegaskan bahwa rentang waktu beberapa tahun ke depan akan menghadirkan ancaman yang “lebih serius daripada apa yang dialami Israel sejak invasi Hamas 2023”, sekaligus menyoroti keterbatasan kemampuan militer modern Israel menghadapi ancaman yang berevolusi cepat. Israel, menurutnya, tidak memiliki pilihan selain berhadapan langsung dengan bentuk-bentuk perang baru yang mencairkan batas antara medan fisik, digital, dan udara.
Keterangan ini juga menggarisbawahi kegelisahan Israel terhadap meningkatnya kapasitas Poros Perlawanan regional. Eshel mengakui bahwa eskalasi berikutnya berpotensi melampaui skala serangan Iran pada 1 Oktober 2024, serangan yang mencakup 181 rudal balistik, serta operasi sebelumnya pada April 2024 yang melibatkan sekitar 170 drone dan 30 rudal jelajah. Kombinasi drone otonom berbasis kecerdasan buatan, peperangan elektronik, senjata energi terarah, operasi siber, dan serangan presisi terhadap infrastruktur vital disebutnya sebagai medan ancaman baru yang belum mampu ditangani Israel secara memadai.
Evaluasi suram ini muncul di tengah kemunduran strategis Israel yang semakin sulit disembunyikan. Meski teknologi keamanan global berkembang pesat, Eshel menyoroti keengganan investor swasta untuk masuk ke sektor ini karena bayang-bayang kegagalan proyek pertahanan siber sebelumnya. Dengan kata lain, bahkan sektor komersial pun membaca risiko jangka panjang yang membayangi industri pertahanan Israel.
Pernyataan Eshel mencerminkan kondisi strategis Israel yang rapuh, kewalahan menghadapi dinamika teknologi, tidak siap menghadapi model peperangan baru, serta gagap menghadapi blok regional yang semakin percaya diri setelah serangkaian operasi presisi yang memperlihatkan kemunduran payung pertahanan Israel.
Dalam perspektif geopolitik Kawasan, peringatan ini terdengar bukan sebagai analisis dingin seorang mantan pejabat tinggi, melainkan sebagai sinyal ketakutan mendalam bahwa Rezim Zionis sedang bergerak menuju era ancaman yang tak lagi dapat mereka kendalikan.
