Israel Marah Besar Citra Dirinya Tercoreng di Oscar
POROS PERLAWANAN – Film dokumenter “There Is No Other Land”, yang menyoroti kehidupan rakyat Palestina di bawah tekanan pasukan Israel dan pemukim Yahudi di Tepi Barat, berhasil memenangkan penghargaan Film Dokumenter Terbaik di Oscar 2025. Keberhasilan ini memicu kemarahan rezim Zionis, yang kemudian melancarkan serangkaian serangan terhadap film tersebut.
Dukungan Internasional dan Tuduhan dari Israel
Menurut laporan Fars News Agency pada Selasa (04/03), film dokumenter ini mendokumentasikan upaya militer Israel untuk mengusir penduduk dari wilayah Masafer Yatta di Tepi Barat yang Diduduki. Film ini menggambarkan perjuangan rakyat Palestina di bawah pendudukan serta perlawanan mereka terhadap kebrutalan rezim Zionis. Karena keberanian dalam mengangkat realitas tersebut, “There Is No Other Land” mendapatkan pujian luas dari komunitas internasional dan industri film global.
Namun, kemenangan film ini memicu reaksi keras dari Israel. Sejumlah politisi dan jurnalis Israel menuduh Hollywood serta para sutradara film ini—Yuval Abraham, Basel Ara, Hamdan Bilal, dan Rachel Zaar—menyebarkan “kebohongan”, “antisemitisme”, serta “merugikan kepentingan Israel”. Tuduhan ini mencerminkan upaya Israel untuk mengontrol narasi global mengenai konflik Palestina-Israel.
Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel dari Partai Likud, Miki Zohar menyebut kemenangan film ini sebagai “momen menyedihkan bagi dunia perfilman”. Ia menyoroti bahwa penghargaan ini diberikan oleh ajang film paling bergengsi di dunia yang diselenggarakan di Amerika Serikat, sekutu utama Israel.
Sementara itu, jurnalis Israel Shay Golden menilai kemenangan “There Is No Other Land” sebagai “kegagalan” Israel dalam membangun narasi yang “meyakinkan” terkait kebijakan dan tindakannya di wilayah pendudukan Palestina.
Lobi Israel di Oscar dan Upaya Gencar Pengaruhi Industri Hiburan
Israel telah lama memanfaatkan lobi politik dan pengaruhnya di industri hiburan, termasuk di ajang Oscar. Salah satu contoh terbaru adalah tekanan dari kelompok lobi Yahudi The Brigade terhadap kampanye Artists for Ceasefire, yang mengajak peserta Oscar untuk mengenakan simbol “Tangan Merah” sebagai lambang perdamaian dan solidaritas dengan rakyat Palestina.
Di tengah agresi militer Israel terhadap Gaza yang telah menyebabkan hampir 48.500 warga Palestina gugur dan ribuan lainnya tertimbun reruntuhan, anggota The Brigade—yang mewakili sekitar 700 pekerja industri film—menyebut aksi Artists for Ceasefire sebagai “memalukan”.
Kelompok tersebut juga memperingatkan bahwa jika para bintang Hollywood mengenakan simbol “Tangan Merah” di Oscar tahun ini, mereka akan “siap bereaksi”. Hal ini mencerminkan bagaimana Israel dan lobi pro-Israel di industri film global berupaya untuk membungkam solidaritas terhadap Palestina.
Reaksi Keras terhadap Kemenangan Film Dokumenter
Sebagai bagian dari serangan terhadap kemenangan “There Is No Other Land”, aktivis media pro-Israel, Yoseph Haddad menyatakan bahwa pidato para pembuat film di Oscar “berpihak sepenuhnya kepada Palestina”. Ia bahkan menyindir bahwa Abraham “lebih pantas mendapatkan Oscar untuk kemunafikan”.
Haddad menuduh para sutradara film ini “dicuci otak oleh kebencian terhadap Israel”, serta menuding bahwa sebagian besar Hollywood dan Akademi Sains dan Seni Perfilman Amerika “mengabaikan fakta dan lebih memilih narasi yang bias terhadap Israel”.
Komentar ini muncul setelah adanya upaya lobi pro-Israel di Amerika Serikat untuk menggagalkan pencalonan film Palestina “From the Ruins”. Film yang terdiri dari 22 karya pendek—termasuk dokumenter, fiksi, dan animasi—dari seniman di Gaza ini sebelumnya masuk dalam daftar awal nominasi Oscar ke-97. Namun, sebuah organisasi lobi Israel mengirimkan email kepada para pemilih di Akademi, mendesak agar film tersebut dikeluarkan dari daftar nominasi akhir.
Organisasi Christians United for Israel (CUFI) menyebut “From the Ruins” sebagai “propaganda populis”. Tidak hanya itu, Organisasi ini juga menekan agar film tersebut dilarang dari bioskop-bioskop di Amerika Serikat, menunjukkan bagaimana Israel dan sekutunya berusaha membatasi narasi tentang realitas di Palestina.
Kontroversi Berulang terhadap Film Dokumenter Ini
Ini bukan pertama kalinya “There Is No Other Land” menghadapi reaksi keras dari Israel. Film dokumenter yang direkam antara tahun 2019 hingga 2023 ini sebelumnya ditayangkan di Festival Film Berlin tahun lalu dan memenangkan penghargaan Dokumenter Terbaik.
Setelah kemenangan di Berlin, sebuah media Israel menuduh Abraham menyampaikan “pidato antisemit”, tetapi kemudian terpaksa meminta maaf setelah menghadapi kritik luas. Reaksi ini menunjukkan bagaimana film yang mengungkapkan realitas kehidupan di Palestina sering kali menjadi sasaran serangan politik dan propaganda dari Israel serta lobi pro-Israel.
Dengan kemenangan di Oscar 2025, “There Is No Other Land” semakin memperkuat posisi sinema sebagai alat yang mampu mengungkapkan ketidakadilan dan mendorong perubahan global, meskipun menghadapi tekanan dari pihak-pihak yang berupaya menutupi realitas konflik Palestina-Israel.
