Israel Masih Buta di Hadapan Hamas
POROS PERLAWANAN — Dua tahun perang, ratusan serangan udara, ribuan korban, dan klaim berulang dari Tel Aviv bahwa Hamas sudah lumpuh. Namun, faktanya, Hamas masih berdiri, mengatur pasukan, dan bahkan tetap menjadi poros dominasi di Gaza.
Analis Israel dari Universitas Tel Aviv, Michael Milshtian, pada Sabtu 6 September, secara gamblang mengakui hal itu dalam Yedioth Ahronoth: meski dihantam tanpa henti, Hamas tetap bertahan. Ini bukan soal kelemahan taktis. Ini adalah kebangkrutan intelijen Israel, negara dengan salah satu aparat keamanan paling mahal di dunia, tetapi gagal membaca musuh yang ada tepat di hadapan mereka.
Sejak 7 Oktober, Israel seakan tidak belajar. Mereka masih menilai Hamas dengan logika kalkulator: berapa komandan terbunuh, berapa brigade dibubarkan, berapa terowongan dihancurkan. Namun Hamas tidak hidup dari angka. Hamas hidup dari ideologi, fleksibilitas, dan desentralisasi. Pemimpin boleh gugur, struktur pusat boleh porak-poranda, tetapi jaringan lokal terus tumbuh.
Unit Sahmah (Panah) jadi bukti nyata. Dengan seribu anggota, mereka lincah berpindah wilayah, membaur dengan masyarakat, dan menyiapkan serangan kejutan terhadap pasukan Israel. Itulah wajah baru Hamas: cair, terfragmentasi, tapi justru lebih sulit dipatahkan.
Kesalahan terbesar Israel bukan hanya menganggap remeh musuh, melainkan juga salah membaca psikologi perang. Setiap rumah yang runtuh di Gaza, setiap korban sipil, justru menjadi pupuk ideologis yang memperkuat Hamas. Dengan setiap gempuran, Israel seakan memperbarui kontrak politik Hamas dengan rakyat Palestina: bahwa perlawanan adalah satu-satunya jalan.
Milshtian bahkan mengingatkan, jika Israel berhasil menduduki Kota Gaza, Hamas tidak akan lenyap. Mereka tetap akan hidup lewat jaringan bawah tanah, ideologi, dan akar sosial yang makin dalam. Maka invasi darat hanya akan jadi “kemenangan semu”, kemenangan yang dibayar dengan harga strategis dan politik yang tak terhitung.
Di sinilah wajah telanjang kegagalan Tel Aviv: teknologi tinggi, intelijen canggih, dan klaim “tentara terkuat di Timur Tengah” tidak menjamin pemahaman terhadap musuh. Hamas bukan hanya milisi. Hamas adalah ide, dan ide tidak bisa dibom.
Israel masih berperang dengan cara menghitung jenazah musuh. Hamas berperang dengan cara menanam keyakinan. Dalam jangka panjang, keyakinan selalu lebih sulit dihancurkan daripada tubuh.
