Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

Israel Pertimbangkan HTS Suriah sebagai Kartu Baru Lawan Hizbullah

POROS PERLAWANAN — Israel dilaporkan mulai menjajaki kemungkinan kolaborasi dengan kelompok bersenjata Hai’at Tahrir al-Sham (HTS) di Suriah untuk menghadapi Hizbullah di Lebanon, di tengah kebuntuan strategi militernya di front selatan.

Informasi itu dimuat harian Israel Maariv pada Sabtu dan dikutip Press TV pada Senin 6 April. Dalam laporan tersebut, pejabat Israel disebut tidak lagi meyakini pendekatan yang selama ini ditempuh akan mampu menaklukkan Lebanon selatan maupun melumpuhkan Hizbullah.

Evaluasi itu menandai pergeseran penting dalam kalkulasi keamanan Israel. Skema yang bertumpu pada Angkatan Bersenjata Lebanon untuk menekan Hizbullah disebut tidak menghasilkan perubahan berarti di lapangan. Dari situ, muncul opsi penggunaan unsur HTS sebagai kekuatan proksi untuk membuka tekanan dari arah utara dan timur.

Maariv menulis bahwa dalam lanskap Kawasan yang terus bergerak, mulai mengemuka penilaian yang lebih sensitif di kalangan Israel. Menurut media tersebut, hanya tersisa dua pihak di Kawasan yang dinilai sama-sama memiliki kapasitas dan kemauan untuk memerangi Hizbullah, yakni Israel dan Pemerintahan baru Suriah yang dipimpin Abu Mohammad al-Jolani, tokoh militan yang pernah terkait dengan al-Qaeda.

Menurut sumber Israel yang dikutip laporan itu, relasi yang sedang dipertimbangkan tidak diletakkan dalam kerangka aliansi formal, melainkan pertemuan kepentingan yang dibentuk oleh musuh bersama. Dari sudut pandang Israel, kepemimpinan baru di Suriah dinilai memandang Hizbullah sebagai lawan dan berpotensi menjadi mitra kepentingan dalam arena Lebanon.

Atas dasar itu, Maariv menyebut terbuka kemungkinan lahirnya suatu bentuk kesepahaman antara Israel dan HTS. Dalam skenario yang sedang diperiksa, Militer Israel akan mengambil peran di Lebanon selatan, sementara unsur HTS bergerak di Lebanon utara untuk menambah tekanan terhadap Hizbullah dari front lain.

Sumber yang sama menyebut opsi tersebut mulai dikaji setelah seluruh jalur lain dinilai tidak memberikan hasil. Kontak langsung maupun tidak langsung antara pejabat Israel dan HTS Suriah disebut telah berlangsung, dengan kemungkinan melibatkan mediasi Amerika Serikat.

Laporan itu juga menyebut apabila negara-negara Barat seperti Prancis dan Jerman tidak mengajukan alternatif lain untuk melemahkan Hizbullah, maka asumsi di Israel mengarah pada keyakinan bahwa Washington tidak akan menghalangi langkah tersebut dan bahkan dapat memberi restu secara diam-diam.

Di lapangan, Israel kembali melanjutkan serangan besar ke Lebanon sejak 2 Maret, setelah Hizbullah melancarkan operasi balasan menyusul 15 bulan pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Israel.

Perkembangan itu berlangsung bersamaan dengan pecahnya perang besar Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang memperlebar eskalasi di Kawasan.

Sejak itu, Militer Israel menggencarkan aksi pengeboman ke berbagai wilayah Lebanon, termasuk Beirut. Serangan-serangan tersebut menewaskan ratusan warga sipil, petugas penyelamat, dan pejuang Perlawanan.

Israel juga melancarkan ofensif darat dengan sasaran mendorong penguasaan wilayah Lebanon selatan hingga ke kawasan strategis Sungai Litani.

Namun, perlawanan sengit dari pejuang Hizbullah disebut mampu menahan laju pasukan Israel, mencegah penetrasi lebih dalam ke wilayah Lebanon, serta menggagalkan upaya pelucutan Kelompok Perlawanan tersebut.

Otoritas Lebanon mencatat sedikitnya 1.345 orang tewas dan 4.040 lainnya luka-luka akibat serangan Israel sejak 2 Maret.