Israel Sengaja ‘Tanam Bom’ di Bawah Meja Dialog Pemerintah dan Rakyat Iran
POROS PERLAWANAN — Seorang sosiolog Iran menilai bahwa kerusuhan baru-baru ini merupakan bentuk sabotase terselubung oleh Israel terhadap upaya interaksi Pemerintah Iran dengan para demonstran, dengan tujuan merusak proses dialog internal.
Menurut Kantor Berita Tasnim pada Minggu 11 Januari, pandangan tersebut disampaikan Sosiolog sekaligus Anggota Dewan Pusat Partai reformis Ahed, Mohammad Reza Jalaipour, dalam sebuah wawancara analitis mengenai gelombang protes dan kerusuhan terkini.
Jalaipour menyatakan bahwa tindakan Israel di ruang publik Iran menyerupai upaya “menanam bom di bawah meja dialog”. Ia membandingkan situasi tersebut dengan apa yang disebutnya sebagai sabotase Israel terhadap perundingan tidak langsung Iran–Amerika Serikat melalui konflik militer selama 12 hari.
“Dengan tindakannya di lapangan, Israel pada dasarnya membom proses interaksi antara Pemerintah dan para demonstran, sebagaimana Rezim itu membom jalur diplomasi,” ujar Jalaipour.
Keterlibatan Aktor Eksternal
Dalam analisisnya, Jalaipour menggambarkan kerusuhan terbaru sebagai fase kedua dari perang Israel melawan Iran. Menurutnya, sejumlah tokoh oposisi di luar negeri berperan sebagai perpanjangan tangan kepentingan Tel Aviv.
Tokoh monarki Reza Pahlavi, menurut Jalaipour, bertindak sebagai “boneka Netanyahu” dalam menyerukan eskalasi kerusuhan.
Ia juga mengkritik slogan-slogan yang muncul dalam sebagian aksi tersebut, yang dinilainya mengandung kecenderungan neo-fasis. Media berbahasa Persia di luar negeri, khususnya Iran International, disebut sebagai saluran utama pengorganisasian narasi kerusuhan.
“Media itu pada dasarnya adalah media Netanyahu. Nama yang lebih jujur adalah Israel International,” katanya.
Jalaipour menilai gerakan anti-Iran di luar negeri lemah secara konseptual dan miskin visi politik. Menurutnya, kelompok-kelompok tersebut bahkan gagal membangun gambaran masa depan yang meyakinkan bagi masyarakat.
“Mereka lemah bahkan dalam membangun mimpi,” ujarnya.
Seruan Reformasi dan Inklusivitas Media Nasional
Selain mengkritik aktor eksternal, Jalaipour juga menyoroti peran media nasional Iran. Ia menyerukan agar lembaga penyiaran negara, IRIB, tidak membatasi diri pada segmen kecil masyarakat.
Menurutnya, media negara harus menargetkan mayoritas publik dan memainkan peran inklusif, terutama dalam situasi krisis. Menurutnya, media yang memicu keresahan, seperti Iran International, seharusnya tidak memiliki pengaruh signifikan dalam lanskap media Iran.
Reformasi Politik dan Harapan Publik
Menutup pernyataannya, Jalaipour menekankan perlunya reformasi dalam Pemerintahan dan sejumlah lembaga publik. Pemilihan Dewan Daerah disebut sebagai peluang penting untuk membuka ruang perubahan dan memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap masa depan.
