Loading

Ketik untuk mencari

Eropa

Israel Serang dan Siksa Warga Palestina dengan Anjing-anjing Terlatih dari Belanda

POROS PERLAWANAN – Di balik wangi kebun tulip dan citra damai Eropa Utara, Belanda diam-diam mengekspor teror. Bukan dalam bentuk senjata konvensional, melainkan anjing-anjing terlatih yang berubah menjadi alat represi brutal di tangan pasukan Pendudukan Israel.

Laporan investigatif dari surat kabar Italia Il Fatto Quotidiano, mengutip hasil riset terbaru dari lembaga Centre for Research on Multinational Corporations (SOMO), terbit 10 April 2025 dengan judul provokatif: “Unleashing terror: Dutch dogs in Israel’s war crimes”.

Laporan ini mengungkap perdagangan senyap anjing-anjing militer dari Belanda ke Israel yang ternyata menjadi bagian dari sistem penindasan terhadap rakyat Palestina. Anjing-anjing ini, yang dilatih di pusat-pusat seperti Four Winds K9, tak berakhir di pertunjukan atau penjagaan sipil, melainkan diturunkan di kamp-kamp pengungsi dan rumah-rumah warga Palestina, sebagai alat penyerang, penyiksa, dan penebar teror.

Anjing Impor, Penyiksaan Ekspor

Antara Oktober 2023 hingga Februari 2025, sedikitnya 110 ekor anjing dikirim ke Israel. Sekitar 100 di antaranya berasal dari satu pusat pelatihan saja. Meski sebelumnya pusat ini digugat atas keterlibatannya dalam militerisasi anjing, pengiriman justru meningkat; cermin nyata bagaimana impunitas bekerja saat profit mengemudi.

Lebih mengerikan lagi, anjing-anjing ini digunakan oleh unit Oketz, satuan elite anjing serbu milik Militer Israel, dalam operasi yang tidak hanya memburu, tapi juga menggigit dan melukai warga sipil. Perempuan, anak-anak, hingga penyandang disabilitas menjadi sasaran.

Dalam satu kesaksian memilukan dari Nablus, seorang ibu menggambarkan teror malam saat anjing Militer Israel menyerang anaknya yang berusia tiga tahun. Anjing itu menggigit bagian tubuh bocah tersebut dan menyeretnya menuruni tangga. Bocah itu harus dirawat selama delapan hari dan dijahit sebanyak 42 kali. Ini bukan pengecualian, ini adalah bagian dari pola.

Ketiadaan Transparansi, Kekosongan Moral

Ekspor anjing ini disamarkan dalam dokumen sebagai perdagangan hewan peliharaan biasa. Tidak ada pengawasan independen. Tidak ada audit HAM. Bahkan identitas perusahaan-perusahaan eksportir diselimuti kerahasiaan, seolah Eropa tengah menyembunyikan noda darah di balik label “Made in Holland”.

Protes masyarakat sipil dan anggota parlemen Belanda pun belum cukup untuk menghentikan perdagangan ini. Ironisnya, pada Januari 2024, Kementerian Pertahanan Israel justru menandatangani perjanjian baru dengan penyedia dari Belanda dan Jerman. Eropa, sekali lagi memilih membiayai penjajahan atas nama stabilitas dan keuntungan.

Teror Dibungkus Bisnis

Industri ekspor anjing militer adalah bisnis bernilai jutaan Euro di Belanda. Tanpa regulasi berarti, tanpa tanggung jawab etis. SOMO memperingatkan bahwa ketidakterlibatan langsung Pemerintah Belanda dalam kekejaman bukanlah bukti ketidaktahuan, melainkan kolusi yang dibungkus prosedur.

Seperti dikatakan Pengacara dalam gugatan terhadap Pemerintah Belanda, Kristen Alber Dinktaym: “Anjing-anjing ini telah menjadi senjata biologis yang dikirim ke medan represi. Belanda tidak lagi hanya sebagai eksportir, tapi bagian aktif dari rantai kekejaman sistematis.”

Laporan ini menjadi alarm bagi semua pihak yang masih menganggap bahwa pelanggaran HAM dapat dinegosiasikan atas nama ekonomi. Jika dunia tak gentar menghadapi senjata, maka mungkin kini ia harus bercermin pada taring seekor anjing yang ditanamkan oleh tangan-tangan berjas dan berdasi, bukan berseragam militer.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *