Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Jaringan Berita Amerika: Teroris Asing Terafiliasi Kelompok Al-Jolani Terlibat dalam Pembantaian di Suriah

POROS PERLAWANAN – Jaringan berita Al-Hurra yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan bahwa tentara bayaran asing yang berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan kelompok yang dipimpin oleh Al-Jolani berperan penting dalam pembantaian yang menargetkan komunitas Alawi di wilayah barat Suriah.

Menurut laporan Kantor Berita Farsnews pada Rabu (12/3), kesaksian keluarga korban terkait insiden di pesisir Suriah serta pernyataan saksi mata dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa kelompok Takfiri asing turut serta dalam bentrokan dan aksi kekerasan di provinsi Tartus dan Latakia. Pernyataan ini menjadi pembuka dalam laporan Al-Hurra, yang menyoroti keterlibatan teroris asing dalam pembantaian terhadap komunitas Alawi.

Jaringan berita ini juga melaporkan bahwa perhatian dunia kini tertuju pada hasil penyelidikan yang akan diumumkan oleh komite yang berafiliasi dengan kelompok Al-Jolani di Suriah. Namun, muncul berbagai pertanyaan mengenai identitas para tentara bayaran asing, afiliasi mereka, organisasi yang menaungi mereka, serta wilayah operasi mereka.

Kesaksian Saksi Mata dan Laporan Korban

Al-Hurra menekankan bahwa kesaksian pasukan lokal dan saksi mata mengonfirmasi keterlibatan militan asing dalam aksi pembantaian ini. Laporan ini juga mengutip pernyataan Noor Ali, seorang aktor asal Suriah, yang menegaskan bahwa pembunuhan warga sipil dilakukan oleh kelompok militan asing.

Selain itu, Observatorium Hak Asasi Manusia Suriah melaporkan bahwa hingga saat ini, sebanyak 1.225 warga sipil telah terbunuh akibat serangan bersenjata yang dilakukan oleh kelompok pemberontak di provinsi-provinsi barat Suriah.

Reaksi Al-Jolani dan Upaya Menghilangkan Bukti

Di tengah meningkatnya kecaman internasional, pemimpin kelompok pemberontak, Al-Jolani, dalam sebuah wawancara media, mengklaim bahwa operasi kelompoknya di wilayah barat Suriah telah berakhir.

Lebih lanjut, ia mengumumkan pembentukan komite penyelidikan terhadap kejahatan yang terjadi dan mengklaim bahwa investigasi akan dilakukan secara rahasia, dengan hasil yang dijadwalkan akan diumumkan dalam waktu 30 hari.

Namun, tingkat kekejaman yang dilakukan oleh para pemberontak di wilayah barat Suriah begitu mengerikan sehingga bahkan Amerika Serikat dan beberapa negara Barat pun mengecamnya.

Untuk menghilangkan bukti kejahatan mereka, para pemberontak berusaha menyembunyikan banyak mayat korban atau menempatkan senjata di dekat jasad-jasad tersebut untuk menciptakan kesan bahwa mereka adalah tentara, bukan warga sipil.

Keterlibatan Kelompok Asing dan Motif Sektarian

Sementara itu, Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah juga melaporkan bahwa operasi militer yang melibatkan pembantaian di pesisir Suriah dilakukan oleh pasukan militer lokal serta kelompok-kelompok asing yang berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan Al-Jolani.

Menurut laporan lembaga ini, operasi keamanan yang awalnya bertujuan untuk mengejar pelaku dan menyerang kelompok bersenjata dengan cepat berubah menjadi bentrokan brutal yang dipenuhi kekerasan.

Faktor utama dalam konflik ini, menurut laporan tersebut, adalah dorongan balas dendam berbasis sektarianisme dan fanatisme agama. Ditegaskan pula bahwa kelompok-kelompok asing yang berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan Al-Jolani memainkan peran paling signifikan dalam aksi kekerasan ini.

Kelompok Ekstremis dan Afiliasi Ideologis

Seorang pakar mengenai kelompok ekstremis, Hassan Haniyeh, dalam wawancaranya dengan Al-Hurra, mengungkapkan bahwa sebagian besar pasukan asing yang terlibat dalam konflik ini mengadopsi ideologi Salafi Jihadi. Jumlah total mereka diperkirakan mencapai sekitar 4.000 orang.

Salah satu kelompok ekstremis terbesar adalah Partai Islam Turkistan, yang memiliki sekitar 2.500 anggota dari etnis Uyghur. Disebutkan bahwa keluarga mereka menetap di wilayah barat Idlib dan utara Latakia.

Haniyeh juga menyoroti bahwa kelompok ekstremis lain yang dikenal sebagai “Jamaah Anshar Islam”, yang beroperasi di barat laut Suriah, turut serta dalam kekejaman ini. Kelompok ini sebelumnya diketahui berafiliasi dengan Al-Qaeda.

Laporan dari Al-Hurra mengungkapkan bahwa teroris asing memainkan peran utama dalam pembantaian yang terjadi di pesisir barat Suriah. Bukti yang dikumpulkan dari kesaksian keluarga korban, saksi mata, serta laporan dari berbagai lembaga hak asasi manusia menunjukkan bahwa kelompok pemberontak yang berafiliasi dengan Al-Jolani bertanggung jawab atas kejahatan ini, dengan dukungan dari militan asing yang memiliki ideologi ekstremis.

Meskipun Al-Jolani mengklaim bahwa investigasi sedang berlangsung, kekerasan sektarian dan fanatisme agama tampaknya menjadi motivasi utama di balik operasi militer berdarah ini. Laporan ini juga menegaskan bahwa banyak bukti kejahatan telah sengaja dihilangkan oleh kelompok pemberontak untuk mengaburkan fakta dan menghindari pertanggungjawaban internasional.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *