Israel Hentikan Jeda Lokal yang Memungkinkan Masuknya Bantuan, Gaza Hadapi Ancaman Serangan Baru dan Kelaparan
POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, krisis kemanusiaan di Jalur Gaza memasuki babak baru yang lebih mengkhawatirkan setelah Militer Israel mengumumkan penghentian jeda lokal yang sebelumnya memungkinkan konvoi bantuan masuk ke Kota Gaza. Langkah ini diperkirakan akan memperparah kondisi kelaparan yang sudah menghantam wilayah utara Gaza dengan kejam, di tengah meningkatnya serangan militer dan ancaman operasi darat besar-besaran.
Penghentian jeda ini dilakukan bersamaan dengan intensifikasi serangan Israel di Kota Gaza dan sekitarnya. Tanpa adanya pemberitahuan evakuasi baru, warga sipil terjebak dalam kondisi penuh risiko. Sekitar 80 persen wilayah Jalur Gaza kini berada di bawah perintah evakuasi, memaksa lebih dari dua juta penduduk berdesakan di area yang sangat terbatas. Lokasi-lokasi yang disebut sebagai “zona kemanusiaan” pun tidak luput dari serangan, termasuk area di sekitar rumah sakit dan kamp pengungsian.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, dalam 24 jam terakhir, lima orang meninggal akibat kekurangan gizi, menambah total korban tewas terkait kelaparan menjadi 322 jiwa. Kondisi di utara Gaza dinyatakan paling kritis, dengan banyak warga tak mampu mengakses makanan, air bersih, atau layanan kesehatan dasar. Organisasi-organisasi bantuan menyatakan mereka tidak diberi informasi sebelumnya terkait keputusan Israel menghentikan jeda bantuan, yang memperparah kesulitan logistik dan distribusi pasokan.
Pasukan Israel telah mulai memasuki sejumlah wilayah di pinggiran Kota Gaza, dan lingkungan seperti al-Zaytoun dilaporkan telah hancur total. Seorang juru bicara Militer menyebut bahwa aksi ini merupakan bagian awal dari operasi militer besar yang direncanakan. Namun, laporan dari media lokal menyebutkan adanya perpecahan di internal Militer, dengan beberapa komandan senior mempertanyakan kesiapan pasukan setelah lebih dari satu setengah tahun konflik yang berkepanjangan.
Sementara itu, komunitas internasional menyuarakan keprihatinan. Beberapa negara Eropa, termasuk Irlandia, Norwegia, dan Spanyol, mengutuk eskalasi terbaru dan memperingatkan dampak jangka panjang dari kehadiran permanen Militer Israel di Gaza. Di sisi lain, rezim Israel tetap ngotot menolak proposal gencatan senjata terbaru, meski laporan menyebut Hamas telah memberi sinyal penerimaan.
Di tengah situasi ini, sekitar 23.000 warga Gaza telah melarikan diri dari Kota Gaza dalam sepekan terakhir. Namun, banyak yang masih terperangkap akibat kelaparan, ketiadaan transportasi, dan ketakutan akan serangan di jalan. Gereja-gereja lokal menyatakan tidak akan meninggalkan tempat mereka, karena bagi sebagian besar warga yang lemah dan kekurangan gizi, melarikan diri justru dapat menjadi keputusan fatal.
Meskipun tekanan datang dari berbagai pihak, termasuk dari dalam negeri sendiri, para pejabat Israel tetap menunjukkan tekad untuk melanjutkan operasi militer. Utusan AS, Steve Witkoff bahkan memperkirakan bahwa perang ini bisa berlanjut hingga akhir tahun, menandai babak baru dari konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
