Jenderal Senior Iran Lapor ke Ayatullah Mojtaba, Teheran Siap Hantam AS-Israel
POROS PERLAWANAN — Komando militer tertinggi Iran menegaskan kesiapan penuh menghadapi kemungkinan eskalasi baru dengan Amerika Serikat dan Israel. Dalam pertemuan dengan Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei, Panglima Markas Pusat Khatam al-Anbiya Mayor Jenderal Ali Abdollahi menyatakan seluruh angkatan bersenjata Iran berada dalam kondisi siaga penuh untuk merespons setiap “kesalahan strategis” musuh. Pernyataan itu disampaikan melalui keterangan resmi Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran yang dikutip media pemerintah Iran pada Minggu, 10 Mei 2026.
Menurut laporan Press TV pada Minggu, 11 Mei 2026, Abdollahi memaparkan kesiapan operasional berbagai unsur militer Iran, mulai dari Angkatan Darat, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC, kepolisian, pasukan penjaga perbatasan, Kementerian Pertahanan, hingga Basij.
Abdollahi menyatakan seluruh pasukan Iran memiliki kesiapan moral, kemampuan ofensif dan defensif, serta dukungan persenjataan yang memadai untuk menghadapi ancaman dari apa yang disebut Teheran sebagai “musuh Amerika-Zionis”.
“Jika musuh melakukan kesalahan strategis, agresi, atau invasi, respons Iran akan berlangsung cepat, keras, dan menentukan,” kata Abdollahi.
Ia juga menegaskan loyalitas penuh angkatan bersenjata kepada Ayatullah Mojtaba Khamenei. Menurut Abdollahi, militer Iran akan mempertahankan Revolusi Islam, kedaulatan negara, dan kepentingan nasional “hingga napas terakhir”.
Dalam pertemuan tersebut, Ayatullah Mojtaba Khamenei memuji kesiapan dan kinerja angkatan bersenjata Iran. Juga mengeluarkan arahan baru terkait langkah lanjutan menghadapi ancaman eksternal setelah perang 40 hari antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Ketegangan kawasan meningkat sejak pecahnya perang pada 28 Februari 2026. Iran menyebut serangan Amerika Serikat dan Israel sebagai agresi tanpa provokasi yang menargetkan fasilitas militer dan infrastruktur sipil negara itu.
Pemerintah Iran menuduh operasi tersebut bertujuan menggulingkan Republik Islam di tengah kerusuhan domestik yang disebut melibatkan kelompok bersenjata terkait pihak asing.
Konflik yang semula diperkirakan berlangsung singkat justru berkembang menjadi perang selama 41 hari. Dalam periode itu, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke sejumlah target Amerika Serikat dan Israel.
Teheran mengklaim serangan balasan tersebut memaksa kedua negara menerima gencatan senjata sepihak yang hingga kini masih berlaku.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut memuji pendekatan kepemimpinan Ayatullah Mojtaba Khamenei yang disebut mengedepankan kesederhanaan, ketulusan, dan penghormatan terhadap rakyat. Pezeshkian juga menyerukan penguatan persatuan nasional di tengah meningkatnya tekanan geopolitik kawasan.
