Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Jenderal Zionis: Kabinet Israel Terjebak dalam ‘Blunder Strategis’

Jenderal Zionis: Kabinet Israel Terjebak dalam ‘Blunder Strategis’

POROS PERLAWANAN – Mantan Kepala Unit Perencanaan di Militer Israel, Jenderal Israel Ziv dalam analisisnya Kanal 12 menulis,”Israel berada pada salah satu tahap paling berbahaya dalam sejarahnya. Alih-alih mencari solusi politik dan perjanjian keamanan di Suriah dan Lebanon, Kabinet telah menyeret Israel ke dalam perang atrisi yang menguras kemampuan militer dan memaksa prajurit untuk melaksanakan misi jauh di dalam wilayah Suriah, seolah-olah mereka berada di Nablus.”

“Serangan terus-menerus militer di Suriah merupakan tanda kebingungan dan ketiadaan strategi. Tidak ada gambaran yang jelas tentang tujuan politik Israel, dan tidak ada yang tahu di mana posisi kita atau ke mana kita menuju. Inilah kesalahan operasional yang mengakhiri perang di lima front,” imbuh Ziv, Fars melaporkan.

Ziv menyatakan bahwa Presiden AS, Donald Trump telah meminta Tel Aviv untuk menahan diri dalam urusannya dengan Suriah dan tidak campur tangan dalam urusan dalam negeri negara tersebut. Tetapi sebagai balasannya, Pemerintah Netanyahu, karena ketergantungannya pada Washington, malah “menyembunyikan kepalanya di pasir seperti burung unta” dan menjauh dari kebijakan yang realistis.

Menurut jenderal tersebut, ketidakmampuan dalam pengambilan keputusan politik telah menyebabkan MIliter—meskipun mengalami penurunan kemampuan yang parah—menjadi satu-satunya institusi yang bertindak tanpa ragu, sementara Kabinet justru membebaskan diri dari tanggung jawab dan menyalahkan Militer atas kesalahan yang timbul dari kebijakan yang keliru, seperti mendirikan pangkalan yang tidak perlu dan mengirim brigade cadangan jauh ke dalam wilayah Suriah.

Ziv menilai, strategi ini telah “melampaui kesalahan lapangan” dan berubah menjadi “blunder strategis.” Ia mengatakan,“Perasaan berkuasa telah mendorong Israel untuk menggunakan kekuatannya di mana pun mereka inginkan, sambil mencegah Militer Suriah untuk beroperasi di perbatasan dan melanggar kedaulatan Suriah dengan menahan orang-orang di wilayah di mana pasukan Israel berada.”

“Langkah yang tepat adalah Tel Aviv menandatangani perjanjian keamanan dengan Suriah, sehingga tanggung jawab keamanan di wilayah perbatasan diserahkan kepada Militer Suriah, itu pun di bawah pengawasan AS, bukan Turki.”

Ziv menggambarkan perjanjian potensial dengan Damaskus sebagai bagian dari rekonstruksi politik Suriah, yang dapat mempertahankan keseimbangan regional antara Arab Saudi dan Turki. Dia menekankan pentingnya menyerahkan zona demiliterisasi ke bawah kendali Militer Suriah yang baru untuk mencegah konflik di masa depan dengan Israel.

Menurutnya, informasi keamanan terkait kelompok bersenjata harus dikendalikan melalui pasukan Suriah. Jika Damaskus gagal dalam hal ini, respons Israel harus dibatasi pada serangan udara daripada mengirim pasukan darat, karena pendekatan tersebut akan memperkuat narasi Turki bahwa Israel adalah pelanggar kedaulatan negara-negara.

Ziv menekankan bahwa perilaku Tel Aviv di Suriah serupa dengan pendekatannya di Lebanon. “Serangan harian Israel di Lebanon tidak memiliki strategi jangka panjang dan hanya memperkuat konflik, melemahkan negara Lebanon, dan malah meningkatkan dukungan untuk Hizbullah.”

Dia juga menggambarkan situasi di Jalur Gaza sebagai akibat dari “kebuntuan total dan ketiadaan visi politik.” Ia memperingatkan bahwa mempertahankan pasukan yang ditempatkan di garis keamanan di Gaza, Lebanon, Suriah, dan Tepi Barat akan membutuhkan setidaknya sepuluh ribu tentara tambahan, sementara bahkan pembangunan tembok baru di Lembah Yordania belum selesai.

“Israel sedang berada di tengah perang atrisi berkelanjutan yang akan semakin intensif di masa depan. Atrisi politik dan militer ini melayani kepentingan elektoral Netanyahu: upaya untuk menunda persidangan, mempertahankan pemerintahan berkuasa hingga akhir masa jabatannya, dan memastikan kelangsungan politiknya sendiri. Pendekatan semacam ini tidak hanya merugikan keamanan internal, tetapi juga mengikis hasil perang, melemahkan legitimasi rezim secara regional dan global, menguras kemampuan militer, dan menjerumuskan spirit masyarakat Israel ke dalam penurunan yang berbahaya,”pungkas Ziv.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *