Jerman dan Spanyol Bunyikan Alarm Eropa di Tengah Eskalasi Serangan Rusia ke Ukraina
POROS PERLAWANAN — Serangan besar-besaran Rusia terhadap Kiev dan sejumlah kota utama Ukraina kembali meningkat, memicu kekhawatiran serius di Eropa. Jerman dan Spanyol secara terbuka memperingatkan bahwa perang Ukraina berpotensi meluas dan mengancam keamanan kawasan Eropa secara keseluruhan.
Warga Ukraina menutup tahun 2025 dalam situasi genting, di tengah harapan gencatan senjata yang kian menipis. Laporan media Iran Kayhan pada Kamis (1/26) menyebutkan bahwa optimisme awal terkait penghentian perang meredup seiring mandeknya perundingan, terutama akibat perbedaan tajam terkait jaminan keamanan dan status wilayah.
Ketegangan meningkat setelah Ukraina melancarkan serangan drone dalam jumlah besar yang menargetkan wilayah Rusia, termasuk area yang dikaitkan dengan kediaman Presiden Vladimir Putin. Rusia merespons dengan janji pembalasan. Pada Rabu pagi, sumber-sumber Ukraina melaporkan ledakan besar di Kiev, menyusul peringatan serangan udara nasional yang dikeluarkan Kementerian Transformasi Digital Ukraina sekitar satu jam sebelumnya. Hingga kini, belum ada data resmi mengenai korban jiwa maupun tingkat kerusakan.
Di saat yang sama, dampak kemanusiaan terus memburuk. Serangan Rusia selama beberapa hari terakhir menyebabkan pemadaman listrik luas di Kiev dan wilayah lain, di tengah suhu di bawah nol derajat. Reuters melaporkan bahwa meski serangan udara terakhir telah berlalu beberapa hari, gangguan listrik masih berlangsung. Kementerian Energi Ukraina menyatakan sekitar 19.000 pelanggan di wilayah sekitar ibu kota kehilangan pasokan listrik akibat serangan terbaru. Kedua pihak juga terus saling menargetkan infrastruktur energi.
Situasi ini berlanjut di tengah upaya diplomatik Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy yang melakukan kunjungan ke Amerika Serikat untuk membahas rencana perdamaian. Namun, hingga kini, inisiatif tersebut belum menghasilkan gencatan senjata. Janji Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang “dalam sehari” juga belum terealisasi, sementara serangan timbal balik Rusia–Ukraina terus berlangsung.
Kekhawatiran meluas di Eropa. Dalam pidato Tahun Baru, Kanselir Jerman memperingatkan bahwa perang di Ukraina bukan ancaman jauh. Ia menegaskan bahwa tindakan Rusia membahayakan kebebasan dan keamanan seluruh Eropa, bukan hanya Ukraina. Mengutip Deutsche Welle, Friedrich Merz menyatakan bahwa agresi Rusia merupakan bagian dari agenda Kremlin terhadap negara-negara Eropa lainnya—klaim yang secara konsisten dibantah oleh Moskow.
“Rusia terus melanjutkan perang agresinya dengan kekerasan tanpa henti,” ujar Merz. Ia menambahkan bahwa untuk tahun keempat berturut-turut, warga Ukraina merayakan pergantian tahun dalam kondisi terburuk: tanpa listrik, di bawah serangan roket, dan dihantui kecemasan akan keselamatan keluarga mereka.
Peringatan serupa datang dari Spanyol. Menteri Luar Negeri José Manuel Álvarez menilai kerangka keamanan Eropa berada dalam risiko dan menekankan perlunya jaminan keamanan yang kuat bagi Ukraina. Ia menyebut telah berbicara dengan mitranya dari Ukraina dan berharap 2026 dapat menjadi tahun perdamaian. Melalui platform X, Álvarez mengecam serangan terhadap infrastruktur sipil di Kiev dan kota-kota lain, seraya menegaskan bahwa Eropa harus tetap bersatu dan kuat karena masa depan keamanan kawasan sedang dipertaruhkan.
