Jerusalem Post: Rudal Iran Hancurkan Jantung Infrastruktur Israel
POROS PERLAWANAN – Sejumlah suara dari Amerika, Rusia, hingga media Israel sendiri kembali menyingkap ketelanjangan strategis Rezim Zionis dalam menghadapi konfrontasi langsung dengan Iran. Narasi yang muncul bukan lagi retorika ancaman, melainkan pengakuan terbuka bahwa Israel berada dalam posisi rapuh di berbagai lini.
Pengakuan dari Mantan Pejabat Intelijen Amerika
Dalam wawancara yang dikutip Kayhan pada Kamis 4 Desember, mantan analis CIA, Larry C. Johnson menyatakan bahwa “perang lain dengan Iran berarti akhir bagi Israel”. Pernyataan ini disampaikan dalam dialognya dengan pensiunan Kolonel Angkatan Darat AS, Lawrence Wilkerson, yang menegaskan bahwa Teheran tidak lagi memiliki alasan untuk bernegosiasi dengan Washington.
Wilkerson menyebut bahwa seluruh tindakan AS “adalah pengkhianatan”, mencerminkan keretakan total kredibilitas Amerika di mata Iran.
Gambaran Perang 12 Hari: Iron Dome Lumpuh, Publik Marah
Di Moskow, Komandan Pasukan Khusus Akhmat dan pejabat senior di Kementerian Pertahanan Rusia, Letnan Jenderal Apti Alaudinov memberikan gambaran rinci tentang dinamika Perang 12 Hari Israel–Iran. Menurutnya, setelah pukulan awal, Iran pulih dengan cepat dan menggempur infrastruktur vital Israel.
Ia menyatakan Iron Dome “benar-benar tidak berfungsi”, kemarahan publik terhadap Netanyahu meningkat tajam, dan gelombang perang berbalik menguntungkan Iran. Alaudinov menegaskan bahwa “Trump menyelamatkan Rezim Israel dari kehancuran” melalui intervensi politik yang menghentikan eskalasi.
ISW: Iran Mempercepat Persenjataan Mitra Regional
Laporan Institute for the Study of War (ISW) menambah lapisan lain dari kekhawatiran Israel. Menurut lembaga itu, Iran sedang mempercepat pemenuhan ulang persenjataan Houthi, Hizbullah, serta Kelompok Perlawanan di Tepi Barat dan Suriah.
Sumber keamanan Israel mengatakan Teheran memasuki “perlombaan senjata” karena memperkirakan Israel akan melancarkan operasi besar ke Lebanon jika Pemerintah Beirut gagal melucuti Hizbullah.
Perlawanan Irak Siapkan Rencana Keamanan Lanjutan
Di Irak, Gerakan al-Nujaba mengumumkan bahwa faksi-faksi Perlawanan telah menyelesaikan “rencana keamanan tingkat lanjut”.
Rencana ini mencakup peningkatan kemampuan drone dan rudal, restrukturisasi organisasi, serta penguatan markas untuk menghadapi kemungkinan operasi militer Israel dalam waktu dekat.
Skandal di Tel Aviv: Infrastruktur Israel Tidak Dilindungi
Justru dari dalam Israel sendiri, Jerusalem Post mengungkap skandal paling serius. Inspektur Jenderal Kabinet, Matanyahu Englman menuduh Kementerian Pertahanan, Militer, dan Dewan Keamanan Nasional gagal menyediakan perlindungan fisik untuk infrastruktur kritis.
Beberapa fasilitas vital, termasuk Pusat Medis Beersheba dan Kilang Minyak Haifa Bazan, terkena serangan rudal balistik Iran dalam perang Juni lalu.
Engelman menyatakan bahwa laporan rinci mengenai kerentanan ini telah diterbitkan sejak 2020, tetapi hampir seluruh rekomendasi diabaikan. Ia menyoroti ketiadaan mekanisme hukum, tidak adanya koordinasi antarlembaga, dan minimnya kepemimpinan Netanyahu serta Menteri Pertahanan, Yisrael Katz untuk menutup celah keamanan nasional yang sangat serius.
Israel Tingkatkan Perlindungan Tokoh Strategis
Dari Tel Aviv, koresponden Babak Eshaghi melaporkan bahwa ancaman pembalasan Iran telah memaksa Israel meningkatkan siaga ke level tertinggi. Penilaian keamanan menunjukkan Teheran mempertimbangkan operasi presisi yang menargetkan tokoh kunci di sektor pertahanan dan ilmiah Israel.
Perlindungan terhadap para insinyur dan pejabat industri pertahanan kini mencakup kendaraan lapis baja, pengamanan ketat, hingga protokol perjalanan luar negeri yang diperketat.
Rudal Iran dan Keterkejutan Strategis Zionis
Jurnalis Zionis, Ilan Kfir menyimpulkan inti persoalan: Israel tidak memahami skala kekuatan rudal dan drone Iran. “Rudal Iran sangat menghancurkan,” ujarnya.
Pernyataan dari analis Amerika, pejabat Rusia, lembaga Washington, faksi Perlawanan, hingga media Israel sendiri membentuk satu garis besar, bahwa Israel menghadapi krisis eksistensial yang tidak lagi dapat ditutup dengan propaganda keunggulan Militer.
