Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

Jolani Ancam SDF, Ketegangan Memuncak di Timur Laut Suriah

POROS PERLAWANAN – Pemerintahan boneka yang dipimpin Kepala kelompok bersenjata yang kini menguasai Damaskus, Abu Mohammad al-Jolani mengumumkan pada Minggu 27 April bahwa kesepakatan politiknya dengan milisi separatis Kurdi, Pasukan Demokratik Suriah (SDF), berada di ambang kehancuran. Demikian dilaporkan Fars News Agency pada Minggu.

Dalam pernyataan resminya, “kepresidenan” yang dikendalikan Jolani menuduh SDF melanggar kesepakatan yang telah disepakati sebelumnya, dan menyatakan bahwa “pernyataan serta langkah-langkah komando SDF yang mendorong federalisasi Suriah bertentangan dengan komitmen bersama”.

Rezim Jolani memperingatkan bahwa pihaknya akan menangguhkan seluruh operasi lembaga pemerintahan di wilayah-wilayah yang kini dikendalikan milisi Kurdi tersebut.

SDF sebagai milisi separatis yang secara terbuka disponsori Amerika Serikat, sebelumnya menjalin kesepakatan dengan Jolani untuk mengintegrasikan struktur pemerintahan dan keamanan di wilayah Timur Laut Suriah. Milisi ini sempat berharap dapat mengamankan otonomi permanen di bawah bayang-bayang kekuasaan AS, terutama setelah jatuhnya sebagian besar wilayah yang sebelumnya dikuasai Presiden Bashar al-Assad akibat perang panjang yang dipicu pemberontakan.

Namun, kenyataan berbicara lain. Di tengah realitas lapangan yang terus berubah, Pemerintahan boneka Jolani yang memiliki rekam jejak hitam dalam penindasan brutal terhadap rakyat Suriah, termasuk pembantaian terhadap komunitas Alawi di pesisir barat yang menewaskan dan melukai ribuan warga sipil, kini justru menuding SDF sebagai ancaman terhadap “persatuan nasional Suriah”.

Dalam pernyataannya, rezim Jolani menolak “segala bentuk upaya separatis maupun pembentukan lembaga federal di dalam wilayah Suriah”, serta menuntut semua pihak, termasuk SDF, untuk “mengutamakan kepentingan nasional”. Retorika yang terdengar ironis, mengingat peran kelompok-kelompok pemberontak itu sendiri dalam menghancurkan kedaulatan Suriah sejak awal agresi.

Lebih jauh, Jolani menuduh SDF melakukan “upaya berbahaya untuk mengubah komposisi demografis wilayah Arab”, seraya memperingatkan bahwa setiap langkah sepihak oleh milisi Kurdi akan dianggap sebagai “pengkhianatan terhadap nasionalisme Suriah”.

Bumerang Proyek Separatisme di Suriah

Pertikaian antara SDF dan Pemerintahan boneka Jolani membuka babak baru dalam krisis internal wiliayah Pendudukan di Suriah:

1. Pecahnya Front Anti-Damaskus

Awalnya sama-sama berupaya menumbangkan Pemerintah Suriah, kini kelompok-kelompok separatis dan pemberontak terjebak dalam konflik kepentingan sendiri, terutama terkait kendali atas wilayah dan sumber daya.

2. Kerapuhan Proyek Otonomi Kurdi

Dukungan Amerika Serikat terhadap SDF tidak menjamin keberhasilan agenda federalisasi. Ketergantungan pada kekuatan asing membuat proyek separatis ini rapuh dan mudah diguncang perubahan konstelasi politik regional.

3. Realitas Baru di Timur Laut Suriah

Dengan tumbangnya ISIS dan melemahnya banyak faksi pemberontak, wilayah Timur Laut Suriah kini menjadi ajang perebutan kendali antarkelompok bersenjata, di mana loyalitas diperjualbelikan, dan stabilitas menjadi komoditas langka.

Di tengah semua ini, rakyat Suriah terus menjadi korban dan terjepit antara cengkeraman milisi separatis yang didukung asing dan kekejaman rezim pemberontak yang mengeklaim berbicara atas nama nasionalisme, padahal sejatinya telah memperdagangkan kehormatan Suriah di meja konspirasi asing.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *