Jolani dan Arah Politik Baru Suriah: Kepentingan Barat dan Pergeseran Konflik
POROS PERLAWANAN – Kehadiran Haiat Tahrir al-Sham (HTS) sebagai kekuatan baru di Suriah telah memicu perubahan signifikan dalam dinamika politik Kawasan. Pemimpin HTS, Abu Mohammad al-Jolani, muncul sebagai figur kontroversial dengan pendekatan yang berbeda dari rezim sebelumnya. Transformasi ini tidak hanya mengubah cara Suriah menghadapi isu-isu domestik dan regional, tetapi juga memengaruhi pandangan dunia internasional, khususnya Barat, terhadap masa depan Suriah.
Konteks Sejarah: Konflik Suriah-Israel
Dataran Tinggi Golan telah menjadi simbol perjuangan Suriah sejak pendudukannya oleh Israel pada 1967. Pemerintahan Bashar al-Assad menjadikan pembebasan wilayah ini sebagai salah satu prioritas nasional. Namun, dengan tumbangnya Assad dan naiknya HTS, orientasi politik Suriah terhadap konflik dengan Israel mengalami pergeseran. Israel, memanfaatkan kekosongan kekuasaan di Suriah, melancarkan serangkaian serangan udara yang menghancurkan infrastruktur militer negara tersebut, sambil memperluas kendali atas wilayah strategis.
Sikap HTS yang Tidak Terduga
Ketika serangan Israel menghantam ratusan target di Suriah, banyak pihak berharap HTS akan segera bereaksi. Namun, respons Jolani mengejutkan. Dalam pernyataannya, ia menyatakan bahwa rakyat Suriah sudah “lelah berperang” dan tidak ingin terlibat dalam konflik baru. Pernyataan ini mencerminkan perubahan strategi HTS dari kelompok militan tradisional menjadi aktor politik yang mencari legitimasi internasional.
Transformasi Citra Jolani: Dari Militan ke Politisi
Jolani, yang sebelumnya dikenal sebagai Komandan Militer Takfiri garis keras, kini tampil dengan citra yang lebih moderat. Menggunakan nama asli, Ahmad al-Sharaa, ia memposisikan dirinya sebagai pemimpin politik yang pragmatis. Dalam wawancara dengan The Times, Jolani secara terbuka menyatakan keinginannya untuk mengakhiri konflik dengan Israel dan menekankan bahwa Suriah tidak boleh menjadi basis untuk menyerang negara lain.
Langkah ini tampaknya berhasil menarik perhatian negara-negara Barat. Delegasi dari Inggris, Prancis, Jerman, dan bahkan PBB mulai mengunjungi Damaskus untuk membuka dialog langsung dengan HTS. Bahkan Amerika Serikat, yang sebelumnya menetapkan hadiah $10 juta untuk penangkapan Jolani, mengirim delegasi resmi untuk bernegosiasi. Fokus pembicaraan dilaporkan mencakup penghapusan HTS dari daftar organisasi teroris dan pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Suriah.
Dinamika Baru: Kepentingan Barat di Suriah
Sikap Jolani yang cenderung mengakomodasi kepentingan Barat menjadi sorotan utama. Pernyataan seperti “Kami tidak ingin konflik dengan Israel” dan “Kekhawatiran Barat terhadap kami tidak berdasar” menandakan upaya HTS untuk memisahkan diri dari narasi terorisme global. Di sisi lain, keterlibatan aktif Barat, termasuk pertemuan rahasia dengan Jolani, menunjukkan bahwa mereka melihat HTS sebagai mitra potensial dalam menstabilkan Kawasan, meski dengan risiko legitimasi yang kontroversial.
Krisis di Selatan: Agresi Israel dan Respons Warga
Di tengah pergeseran ini, Israel terus memperluas kendali militernya di selatan Suriah. Laporan menunjukkan bahwa Militer Israel telah menduduki 500 kilometer persegi tanah Suriah dan membangun infrastruktur militer di wilayah tersebut. Agresi ini memicu protes dari warga lokal, tetapi demonstrasi tersebut dibubarkan secara brutal oleh tentara Israel, mempertegas ketegangan yang masih membara di kawasan itu.
Strategi Baru HTS dan Implikasinya
Transformasi HTS di bawah Jolani menandai perubahan besar dalam politik Suriah. Di satu sisi, langkah ini membuka peluang untuk meredakan isolasi internasional Suriah, terutama dengan adanya kemungkinan pencabutan sanksi. Di sisi lain, sikap lunak HTS terhadap Israel menimbulkan pertanyaan tentang posisi kelompok ini sebagai representasi perjuangan rakyat Suriah.
Masa Depan Suriah dan Kawasan
Dengan dinamika baru ini, masa depan Suriah memasuki fase yang penuh ketidakpastian. Apakah HTS mampu memanfaatkan diplomasi untuk memulihkan stabilitas, atau justru akan kehilangan dukungan domestik karena dianggap terlalu dekat dengan Barat? Sementara itu, agresi Israel yang terus berlanjut menjadi pengingat bahwa konflik Suriah belum berakhir. Dalam lanskap yang kompleks ini, Suriah tetap menjadi medan pertempuran geopolitik yang melibatkan banyak kepentingan global.
