Jumlah Korban Tewas Akibat Serangan Rezim Jolani di Suriah Capai 1.018 Orang
POROS PELAWANAN – Jumlah korban jiwa akibat serangan militer rezim Jolani di barat laut Suriah terus bertambah. Laporan terbaru menunjukkan bahwa angka kematian telah mencapai 1.018 orang, termasuk 745 warga sipil, dalam operasi yang dilancarkan di wilayah pesisir negara tersebut.
Menurut laporan dari Jaringan Al-Mayadeen dan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang dirilis pada Minggu (9/3), serangan ini mencakup pemboman intensif, operasi darat, serta penyisiran militer di sejumlah wilayah strategis.
Sumber lokal menyebutkan bahwa kamp-kamp pengungsi, infrastruktur sipil, serta fasilitas medis menjadi target utama dalam serangan ini, sehingga meningkatkan jumlah korban dari kalangan non-kombatan. Hingga kini, operasi tersebut masih berlangsung, dan jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah.
Serangan terhadap Pos Pemeriksaan Rezim Jolani di Suriah Timur Berlanjut
Sementara itu, ketegangan juga meningkat di Suriah timur, khususnya di provinsi Deir Ezzor, di mana pos-pos pemeriksaan milik pasukan keamanan rezim Jolani menjadi sasaran serangan oleh kelompok bersenjata yang tidak teridentifikasi.
Menurut laporan dari Al Jazeera, beberapa pos pemeriksaan serta unit keamanan yang ditempatkan di kota-kota dan desa-desa sekitar Deir Ezzor mengalami serangan bertubi-tubi sejak awal pekan ini. Hingga saat ini, tidak ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, dan informasi mengenai jumlah korban dari pihak rezim masih belum tersedia.
Para pengamat menilai bahwa serangan ini kemungkinan besar dilakukan oleh kelompok-kelompok oposisi bersenjata atau faksi-faksi perlawanan lokal, yang menolak keberadaan rezim Jolani di wilayah tersebut.
Mantan Komandan Pasukan Assad Dikabarkan Ditangkap di Homs
Di sisi lain, Kementerian Dalam Negeri rezim Jolani mengumumkan bahwa pihaknya telah menangkap seorang mantan komandan Pasukan Pertahanan Nasional, yang sebelumnya beroperasi di bawah pemerintahan Bashar al-Assad.
Menurut pernyataan resmi yang dirilis kementerian tersebut, individu yang tidak disebutkan namanya itu diduga terlibat dalam serangkaian kejahatan perang, termasuk pembunuhan warga sipil serta tindakan represif terhadap kelompok oposisi, selama konflik berkecamuk di kota Homs pada masa pemerintahan Assad.
Meski demikian, kelompok-kelompok hak asasi manusia mempertanyakan transparansi klaim ini. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia melaporkan bahwa, dalam beberapa pekan terakhir, rezim Jolani telah melakukan puluhan penangkapan sewenang-wenang, yang sebagian besar menargetkan individu yang diduga memiliki keterkaitan dengan rezim sebelumnya atau kelompok oposisi tertentu.
Di tengah laporan ini, Observatorium juga mengungkap bahwa rezim Jolani bertanggung jawab atas eksekusi lima orang di wilayah barat laut Suriah hanya dalam kurun waktu satu hari pada Jumat (8/3). Insiden ini semakin memperkuat kekhawatiran terkait praktik eksekusi di luar hukum yang dilakukan oleh rezim tersebut.
