Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Kantor Berita Pentagon Ungkap Serangan Yaman ke Kapal Induk Truman

POROS PERLAWANAN – Retakan besar dilaporkan muncul di lambung kapal induk USS Harry S. Truman milik Angkatan Laut Amerika Serikat, menyusul serangan yang diduga dilakukan oleh Angkatan Bersenjata Yaman saat kapal tersebut beroperasi di Laut Merah.

Dalam laporan yang dipublikasikan oleh media resmi yang berafiliasi dengan Departemen Pertahanan AS, Stars and Stripes, dan dinukil Kayhan pada Selasa 3 Juni, diungkapkan bahwa kapal induk Truman mengalami kerusakan signifikan di sisi kanan setelah terlibat dalam konfrontasi di wilayah tersebut. Laporan ini muncul di tengah kabar bahwa kapal tersebut sedang dalam perjalanan kembali ke Pangkalan Angkatan Laut AS di Norfolk, Virginia, setelah menyelesaikan misi delapan bulan.

Truman memainkan peran utama dalam Operasi Rough Rider, sebuah aksi yang dimaksudkan untuk menekan kemampuan Militer Yaman dalam menyerang kapal-kapal komersial dan militer di kawasan Laut Merah. Namun, misi ini berakhir tanpa hasil, dan Presiden AS, Donald Trump membatalkannya pada pertengahan Mei, setelah dinilai gagal menghadapi tekanan dari Yaman.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menolak memberikan pernyataan resmi terkait kerusakan yang dialami Truman, dengan alasan bahwa penyelidikan masih berlangsung. Namun, Komandan satuan tugas yang memimpin operasi, Laksamana Muda Sean Bailey menyampaikan refleksi penting: “Pelajaran terpenting dari Laut Merah adalah kita harus terus belajar dari kesalahan kita, baik di tingkat unit maupun dalam seluruh struktur Angkatan Laut. Setiap dinamika unik di Laut Merah akan membentuk taktik kita di masa depan.”

Menurut Pentagon, selama operasi tersebut, jet tempur dari kapal induk Truman meluncurkan lebih dari 13.000 sorti dalam rangka serangan terhadap target-target Yaman.

USS Harry S. Truman adalah salah satu kapal induk kelas Nimitz yang mulai dioperasikan pada 1998. Kapal ini mampu membawa lebih dari 70 unit pesawat tempur dan helikopter, serta memiliki sistem propulsi nuklir yang memungkinkannya berlayar selama berbulan-bulan tanpa pengisian ulang bahan bakar. Namun, dalam situasi di Laut Merah, keunggulan teknologinya tampaknya tidak cukup untuk menghadapi kemampuan Perlawanan Yaman yang terus berkembang.

Stars and Stripes sendiri merupakan media internal militer AS yang berada di bawah naungan Pentagon, meskipun mengeklaim memiliki independensi editorial. Media ini berfokus pada pemberitaan seputar Militer AS, termasuk kehidupan prajurit dan operasi militer di luar negeri.

Peringatan Yaman kepada Investor Asing: “Waktu Anda Hampir Habis”

Dalam laporan terpisah yang dikutip dari kantor berita Saba, seorang pejabat yang berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan Yaman memperingatkan seluruh perusahaan dan investor asing yang beroperasi di Wilayah Pendudukan Israel untuk segera meninggalkan area tersebut.

“Lingkungan ini tidak lagi aman. Sekarang adalah waktu terbaik untuk pergi, sebelum kesempatan itu hilang,” ujar sumber tersebut.

Pernyataan ini diperkuat oleh peringatan resmi Ketua Dewan Politik Tertinggi Yaman, Mahdi Al-Mashat, yang meminta seluruh perusahaan internasional yang menjalin kerja sama ekonomi dengan rezim Zionis agar segera meninjau ulang aktivitas mereka.

“Ini bukan sekadar retorika. Ini berbasis pada sejarah operasi nyata, dan eksekusinya sudah berjalan,” tegas Al-Mashat.

Sejak akhir 2023, Angkatan Bersenjata Yaman telah melancarkan berbagai serangan terhadap target-target Israel dan sekutunya, termasuk di Laut Merah, Teluk Aden, dan bahkan Wilayah Pendudukan Israel itu sendiri. Beberapa serangan tersebut telah dikonfirmasi oleh media Barat dan Militer Israel.

  1. 19 November 2023: Serangan rudal dan drone Yaman menghantam pelabuhan Eilat, selatan Israel. Ini menandai keterlibatan langsung Yaman dalam perang Gaza.
  2. 9 Januari 2024: Rudal jelajah diluncurkan ke arah armada laut AS, sebuah aksi yang dikonfirmasi oleh Pentagon.
  3. 6 April 2024: Yaman mengeklaim menembakkan rudal hipersonik ke kota Ashkelon. Pejabat Militer Israel menyatakan sistem pertahanan mereka tidak mampu mencegatnya.

Data dari United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menyebutkan lebih dari 60 serangan dan ancaman terhadap kapal komersial dan tanker terjadi antara Desember 2023 hingga Mei 2024 di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb. Akibatnya, lebih dari 20 perusahaan pelayaran besar, termasuk Maersk, CMA CGM, dan Hapag-Lloyd mengalihkan rute mereka.

Sejarah operasional ini menunjukkan bahwa ancaman dari Yaman bukan isapan jempol. Dampak ekonomi dan strategisnya kini dirasakan secara nyata, terutama oleh perusahaan yang memiliki keterlibatan dengan Israel.

Tags: