The Economist: Jaringan Spionase Iran Kian Dalam di Jantung Israel
POROS PERLAWANAN – Dalam satu tahun terakhir, sedikitnya 39 warga Israel telah ditangkap oleh Dinas Keamanan Dalam Negeri Rezim Zionis, Shin Bet, atas tuduhan menjadi agen bagi Republik Islam Iran, musuh bebuyutan negara Zionis yang diduga semakin memperluas jaringan intelijennya hingga ke pusat wilayah musuh.
Menurut laporan harian Kayhan pada Selasa 3 Juni, salah satu kasus yang menjadi sorotan adalah Mordechai “Moti” Meman, seorang pria Israel berusia 70 tahun yang sebelumnya dipuji sebagai patriot sejati. Namun, kehidupan Meman menunjukkan gambaran keterpurukan, pernikahan yang gagal, bisnis-bisnis yang bangkrut, dan tumpukan utang yang membebani. Awal 2024, seberkas harapan muncul, keempat anaknya telah menemukan jalan hidup masing-masing, dua rekan bisnis baru bergabung dengannya, dan ia jatuh cinta pada seorang perempuan asal Belarus.
Namun, cinta seperti halnya senjata, dapat mengubah arah hidup seseorang. Dalam kasus Meman, perasaan itu menjadi pintu masuk untuk mengkhianati negara yang selama ini ia bela dengan fanatisme sayap kanan. Sosok yang sebelumnya memuja Benyamin Netanyahu dan kerap menyuarakan retorika anti-Arab di media sosial itu, diam-diam menjalin kontak dengan musuh nomor satu rezim Israel, yakni Republik Islam Iran.
Menurut Shin Bet, Meman hanyalah satu dari puluhan. Sejak akhir 2022, jaringan rekrutmen Iran dilaporkan telah menargetkan ratusan warga Israel dari berbagai latar belakang—baik Yahudi maupun Arab, religius dan sekuler, muda hingga lansia. Taktik yang digunakan bervariasi, mulai dari komunikasi terselubung melalui media sosial, pertemuan rahasia di Turki dan Azerbaijan, hingga pendekatan psikologis melalui janji uang, cinta, dan pencarian makna hidup.
“Kita harus menghentikan mereka sebelum ini berubah menjadi epidemi nasional,” ujar seorang mantan pejabat Shin Bet kepada The Economist.
Pada November 2024, Meman mengaku bersalah dan dijatuhi hukuman enam tahun penjara. Hakim dalam putusannya menyatakan, “Kasus ini menunjukkan bagaimana motif pribadi dan keserakahan dapat dengan cepat mengubah seseorang menjadi alat musuh.”
Namun, kasus Meman hanyalah permukaan dari masalah yang lebih luas. Gelombang perekrutan oleh Teheran telah mencapai skala yang belum pernah terlihat sebelumnya dalam sejarah konflik intelijen antara Iran dan Israel. Beberapa terseret karena alasan ekonomi, sementara lainnya terdorong oleh kekecewaan terhadap rezim Israel sendiri, khususnya karena perlakuan terhadap warga Palestina. Di antara para tersangka terdapat warga Arab Israel, imigran dari bekas Uni Soviet, hingga Yahudi ultra-Ortodoks yang selama ini dianggap kebal terhadap pengaruh luar.
Shin Bet mengakui bahwa musuh saat ini tidak lagi hadir dalam sosok asing beraksen Persia, melainkan bisa jadi tetangga, rekan kerja, bahkan kerabat—orang-orang biasa yang menjadi simpul dari jaringan bayangan.
Iran, menurut laporan, jarang melakukan operasi intelijen langsung dari dalam wilayah Israel. Sebaliknya, Teheran membangun pusat aktivitasnya di negara-negara ketiga seperti Turki dan Azerbaijan, di mana aktivitas intelijen Iran dilaporkan meningkat, sementara otoritas setempat diduga tutup mata, atau bahkan bermain dua sisi.
Dalam salah satu insiden, seorang perempuan berkewarganegaraan ganda Israel-Rusia ditangkap di Azerbaijan. Hasil interogasi mengungkap bahwa ia direkrut melalui akun Telegram palsu yang mengaku sebagai pengusaha asal Uni Emirat Arab. Ia kemudian diarahkan secara sistematis untuk mengumpulkan informasi sensitif bagi kepentingan Iran.
“Badan intelijen Iran sangat piawai mengeksploitasi celah psikologis,” ujar seorang agen Shin Bet. “Mereka menyusup bukan hanya ke dalam sistem, melainkan juga ke dalam jiwa.”
Apa yang dilihat Tel Aviv sebagai krisis keamanan, bisa jadi di tempat lain dipahami sebagai manifestasi dari pergolakan internal Israel sendiri. Ketika seorang patriot Zionis menjadi agen Perlawanan, ketika Yahudi ultra-Ortodoks secara diam-diam bekerja untuk musuh, ketika ketidakadilan dan frustrasi sosial menjadi celah bagi pengaruh asing, maka ancaman terbesar bukan hanya datang dari luar, melainkan juga dari dalam tubuh negara itu sendiri.
Bagi Iran, seperti digambarkan oleh The Economist, ini bukan semata-mata operasi intelijen. Ini adalah perang saraf, perang ketahanan, dan perang bayangan yang perlahan namun pasti menggerogoti kepercayaan Israel terhadap dirinya sendiri.
