Kapasitas Energi Terbarukan Iran Melonjak Empat Kali Lipat di Tengah Ancaman Perang Israel dan AS
POROS PERLAWANAN — Kapasitas energi terbarukan Iran melonjak dari sekitar 1.000 megawatt pada awal 2022 menjadi lebih dari 4.500 megawatt saat ini, dan terus mendekati 5.000 megawatt. Peningkatan empat kali lipat dalam empat tahun ini menjadi bukti keseriusan Teheran mengembangkan energi bersih sebagai program nasional berkelanjutan sekaligus memperkuat peran sektor swasta.
Namun capaian strategis tersebut justru menjadi sasaran langsung ancaman eksternal. Stasiun televisi Israel, Channel 12, melaporkan bahwa Tel Aviv telah mengirim pesan langsung kepada Washington untuk mendorong Amerika Serikat kembali berperang melawan Iran. Israel menekankan bahwa jika perang dilanjutkan, penghancuran infrastruktur energi Iran harus selesai dalam 24 jam agar Teheran bersedia bernegosiasi dari posisi lemah.
Berdasarkan laporan Press TV pada Selasa (12/5/2026), pengembangan pembangkit listrik terbarukan di Iran terus dikebut. Organisasi yang bertanggung jawab mengembangkan energi terbarukan, SATBA, merancang beragam model investasi, kerangka ekonomi, dan paket insentif untuk melibatkan berbagai sektor dalam perluasan energi hijau. Proyek pembangkit kini dijalankan melalui model kelembagaan modern serta partisipasi aktif swasta dalam bentuk paket energi besar.
Direktur proyek pembangkit terbarukan khusus SATBA menjelaskan bahwa pendekatan lama memilih lokasi terlebih dahulu, membangun pembangkit, lalu menyerahkannya kepada investor. Kini pendekatan baru diterapkan dengan melibatkan investor swasta sejak awal proses konstruksi. Para investor menyediakan sebagian biaya pembangunan, menerima fasilitas dari Dana Pembangunan Nasional, dan menjalankan proyek di bawah pengawasan SATBA. Mekanisme ini memungkinkan paket pembangkit besar beroperasi jauh lebih cepat.
Sejumlah proyek menonjol di antaranya pembangkit listrik tenaga surya Khezrabad 100 megawatt dan pembangkit Parand 100 megawatt yang didanai Perusahaan Kilang Minyak Teheran, pembangkit Chadormalu 100 megawatt yang didanai Perusahaan Pertambangan dan Industri Chadormalu, serta berbagai pembangkit berkapasitas 25, 30, 50, dan 100 megawatt dari swasta.
Dua pembangkit 100 megawatt saat ini telah memasuki tahap peletakan pondasi. Proyek lain di berbagai wilayah seperti Yazd, Khezrabad, Parand, dan Neyshabur sedang dalam tahap konstruksi atau finalisasi kontrak.
Para pejabat melaporkan sekitar 400 proyek aktif berjalan. Meskipun berada dalam kondisi perang, pekerjaan di lokasi proyek tidak pernah berhenti. Kesiapan SATBA dalam manajemen krisis memungkinkan kemajuan proyek tetap sesuai jadwal.
Berdasarkan Pasal 12 Undang-Undang Penghapusan Hambatan Produksi, unit industri yang mengonsumsi lebih dari satu megawatt diwajibkan mengembangkan pembangkit terbarukan agar terbebas dari manajemen beban jaringan. Karena industri terdampak langsung oleh kekurangan energi, pemahaman mereka tentang pentingnya pasokan listrik yang andal jauh lebih baik.
Direktur Utama Perusahaan Pembangkit Listrik Termal Iran, Azim Etemadi, menyatakan bahwa renovasi pembangkit listrik yang menua dan penggantiannya dengan unit baru sedang dalam agenda. Pensiun dini unit lama dan penggunaan teknologi baru, termasuk turbin kelas F yang pertama kali dibangun oleh spesialis dalam negeri, terus dilakukan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar dan tingkat polusi.
Sebagian besar ketidakseimbangan listrik terjadi pada siang hari, tepat saat energi surya tersedia. Perluasan pembangkit listrik tenaga surya dapat berperan efektif dalam mengkompensasi kekurangan tersebut. Hal ini juga memungkinkan penggunaan pembangkit listrik tenaga air yang lebih efisien pada malam hari.
Total kapasitas pembangkit listrik Iran saat ini mendekati 100.000 megawatt. Perencanaan sedang berlangsung sehingga pada musim panas mendatang kapasitas energi terbarukan akan mencapai 7.000 megawatt, meningkatkan pangsa sektor ini dalam bauran listrik nasional dari kurang dari satu persen menjadi lebih dari tujuh persen.
Jika target Israel dan Amerika Serikat adalah menghancurkan infrastruktur energi Iran dalam 24 jam, maka setiap megawatt kapasitas terbarukan yang dibangun justru menjadi sesuatu yang ingin mereka hancurkan. Jika tujuan akhir musuh adalah memaksa Iran bernegosiasi dari posisi lemah, maka pengembangan pembangkit ini merupakan tindakan strategis untuk menetralkan logika tekanan yang sama. Pertempuran atas energi Iran adalah medan penentu. Setiap megawatt yang dibangun menjadi pesan bahwa Republik Islam akan menerangi masa depannya sendiri, dan tidak ada ancaman yang akan menggelapkannya.
