Karyawan Voice of America Gugat Pemerintahan Trump atas Penutupan Media Mereka
POROS PERLAWANAN – Sejumlah karyawan Voice of America (VOA) yang aktivitasnya ditangguhkan pekan lalu telah mengajukan gugatan terhadap pemerintahan Donald Trump. Mereka menilai keputusan tersebut sebagai tindakan ilegal yang melanggar hak kebebasan berekspresi yang dijamin dalam Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat.
Gugatan ini diajukan pada Jumat, 20 Maret, di pengadilan federal New York. Para penggugat terdiri dari wartawan Voice of America, serikat pekerja mereka, serta organisasi Reporters Without Borders.
Latar Belakang Penutupan Voice of America
Pada 17 Maret 2025, Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang memerintahkan pengurangan maksimal aktivitas tujuh lembaga federal, termasuk Voice of America. Keputusan ini menambah daftar panjang kebijakan Trump yang memperketat kontrol terhadap media yang dianggap berseberangan dengan pemerintahannya.
Menurut laporan media Iran International, para penggugat menegaskan bahwa penutupan Voice of America telah mencederai prinsip kebebasan pers dan mengancam independensi jurnalisme di Amerika Serikat.
Keputusan Trump ini juga berdampak pada media dan organisasi lain yang sebelumnya mendapat dana dari pemerintah AS. Beberapa lembaga yang selama ini aktif menyuarakan kebijakan garis keras terhadap Iran juga terkena dampaknya, termasuk organisasi media berbasis di luar negeri yang selama ini memosisikan diri sebagai oposisi terhadap pemerintah Iran.
Reaksi dan Dampak di Kalangan Oposisi
Penutupan Voice of America menimbulkan gejolak besar di kalangan oposisi Iran yang berbasis di luar negeri. Sebelumnya, kelompok oposisi berharap bahwa pemerintahan Trump akan meningkatkan tekanan terhadap Iran dan memberikan dukungan lebih besar kepada mereka. Namun, kebijakan pemotongan anggaran justru berujung pada penutupan media-media anti-pemerintah Iran yang selama ini didanai oleh Washington.
Salah satu contoh lainnya adalah saluran televisi Manoto, yang juga mengalami krisis keuangan setelah pendana utamanya menarik dukungan. Akibatnya, setelah 13 tahun beroperasi, Manoto akhirnya harus menghentikan siarannya. Upaya manajemen untuk menyelamatkan media tersebut pun tidak membuahkan hasil.
Mantan Menteri Luar Negeri AS, Anthony Blinken, bahkan secara terbuka mengakui bahwa upaya Amerika Serikat untuk menggulingkan pemerintah Iran telah gagal. Hal ini semakin memperkuat pandangan bahwa strategi Washington terhadap Iran membutuhkan revisi mendalam.
Gagalnya Harapan Oposisi terhadap Trump
Para pengamat menilai bahwa keputusan Trump untuk menutup Voice of America merupakan pukulan telak bagi kelompok oposisi Iran di luar negeri. Banyak di antara mereka yang sebelumnya berharap bahwa Trump akan mengadopsi kebijakan intervensi militer atau tekanan maksimal terhadap Teheran. Namun, alih-alih mendapatkan dukungan lebih besar, mereka justru kehilangan salah satu saluran utama mereka untuk menyuarakan propaganda anti-pemerintah Iran.
Beberapa figur publik Iran yang sebelumnya berusaha mencari peran di media oposisi juga ikut terkena dampaknya. Salah satunya adalah Ehsan Karami, seorang presenter yang sebelumnya dikabarkan akan bergabung dengan Manoto, tetapi kemudian mengalami kegagalan setelah saluran tersebut ditutup. Upayanya untuk beralih ke Voice of America juga berujung pada hasil yang sama, seiring dengan dihentikannya operasi media tersebut.
Fenomena ini memunculkan reaksi satir di media sosial, di mana beberapa pengguna bercanda bahwa siapa pun yang dipekerjakan oleh media oposisi Iran tampaknya akan membawa nasib buruk bagi media tersebut.
