Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

Kekacauan Parah dan Krisis Kesehatan Akut di Sweida Pascaserangan Kelompok Teroris yang Terafiliasi dengan Al-Jolani

POROS PERLAWANAN — Provinsi Sweida dilanda kekacauan parah dan krisis kesehatan akut menyusul serangan brutal oleh kelompok teroris yang berafiliasi dengan Abu Muhammad al-Jolani. Sumber medis setempat melaporkan penumpukan jenazah di rumah sakit dan jalanan, menyebabkan pencemaran lingkungan yang serius dan memperparah situasi kemanusiaan di wilayah tersebut.

Menurut laporan Kantor Berita Tasnim, pada Kamis 24 Juli, ketegangan terus berlanjut di wilayah berpenduduk mayoritas Druze di selatan Suriah. Serangan besar-besaran oleh kelompok bersenjata pekan lalu, disusul dengan dugaan keterlibatan rezim Zionis dalam mendukung operasi mereka, telah menyebabkan kehancuran luas dan memperburuk kondisi kesehatan masyarakat.

Pemadaman Air dan Listrik, Rumah Sakit Kewalahan

Fasilitas kesehatan di Sweida, baik rumah sakit pemerintah maupun swasta, kini kewalahan menangani lonjakan korban luka dan meninggal. Layanan kesehatan lumpuh akibat pemadaman air dan listrik berkepanjangan, serta kelangkaan peralatan medis dan obat-obatan dasar.

Jenazah dilaporkan menumpuk di ruang-ruang rumah sakit, sementara sejumlah lainnya dibiarkan tergeletak di jalan dan trotoar. Hal ini menimbulkan ancaman kesehatan serius bagi warga sekitar dan memperburuk risiko penyebaran penyakit.

Ketua Asosiasi Medis: Situasi Semakin Memburuk

Ketua Asosiasi Medis Sweida, Dr. Omar Adel Obeid mengungkapkan kepada media Al-Arabi Al-Jadeed bahwa Rumah Sakit Pusat Sweida, rumah sakit terbesar di provinsi tersebut berada dalam kondisi kritis. Lonjakan korban luka berat serta terbatasnya kapasitas rumah sakit menyebabkan tekanan besar pada tenaga medis.

“Selama enam hari terakhir, jenazah tergeletak di dalam dan sekitar rumah sakit. Situasi ini menciptakan polusi serius. Banyak korban dan jenazah masih belum terjangkau di jalanan maupun rumah-rumah warga,” ujar Dr. Obeid.

Operasi Tanpa Anestesi, Tempat Tidur Penuh

Petugas medis menyebutkan bahwa Rumah Sakit Nasional Sweida telah melakukan sekitar 500 operasi dalam delapan hari terakhir. Prosedur tersebut mencakup penanganan luka tembak, amputasi, serta operasi kritis lainnya, banyak di antaranya dilakukan dalam kondisi darurat ekstrem.

“Seluruh tempat tidur sekitar 250 unit, telah terisi penuh. Tidak ada pilihan selain memulangkan pasien yang relatif stabil demi mengakomodasi korban yang lebih kritis,” kata salah seorang tenaga medis.

Rumah sakit lain seperti Rumah Sakit Salkhed dan Shahba juga mengalami keterbatasan logistik dan sumber daya medis, sementara fasilitas swasta tidak mampu menangani volume korban.

Gangguan Pasokan Obat dan Rujukan ke Damaskus

Menurut Dr. Obeid, selama lebih dari dua pekan terakhir, wilayah Sweida hidup tanpa air bersih dan listrik. “Situasi ini sangat menyulitkan kami dalam menjalankan layanan dasar kesehatan, termasuk kebersihan pasien dan perawatan luka,” ujarnya.

Upaya rujukan pasien ke Damaskus juga terhambat karena jalur transportasi dikuasai kelompok bersenjata dan tidak aman.

Ia juga menyampaikan kekecewaan atas minimnya dukungan dari Kementerian Kesehatan Suriah yang tidak memenuhi permintaan obat-obatan penting, termasuk untuk pasien kanker dan penyakit kronis.

Krisis Tenaga Medis dan Kualitas Layanan

Seorang dokter senior di Rumah Sakit Sweida, dr. Obaidah Abu Fakhr menambahkan bahwa kekurangan ruang operasi dan peralatan medis membuat sebagian operasi harus dilakukan tanpa anestesi, termasuk pada anak-anak. Beberapa operasi kecil bahkan dilakukan di lorong rumah sakit karena ruang yang tersedia tidak mencukupi.

“Kami menghadapi kekurangan air bersih selama operasi besar. Banyak luka yang tidak bisa dibersihkan atau dirawat secara layak. Perban dibiarkan menempel selama 4-5 hari, menyebabkan infeksi berat,” jelasnya.

Ia juga mengakui bahwa dalam beberapa kasus, operasi dilakukan oleh tenaga non-spesialis karena minimnya jumlah dokter.

Situasi di Sweida mencerminkan krisis kemanusiaan akut yang membutuhkan perhatian internasional segera. Sistem kesehatan di wilayah tersebut berada di ambang kolaps, sementara masyarakat sipil menjadi korban dari konflik bersenjata yang terus memburuk.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *